Senin, 17 September 2018 11:22:58

Jenderal Hoegeng Orang Baik & Orang Penting (bag 4)

Jenderal Hoegeng Orang Baik & Orang Penting (bag 4)

Beritabatavia.com - Berita tentang Jenderal Hoegeng Orang Baik & Orang Penting (bag 4)

"Sudahlah apa yang sudah ada ikuti saja, daripada kita disalahkan. Polisi itu tidak perlu nyeni. Seni itu bukan ranah kepolisian. Polisi ya polisi ...

Jenderal Hoegeng Orang Baik & Orang Penting (bag 4) Ist.
Beritabatavia.com - Sudahlah apa yang sudah ada ikuti saja, daripada kita disalahkan. Polisi itu tidak perlu nyeni. Seni itu bukan ranah kepolisian. Polisi ya polisi titik, tidak perlu ini dan itu, apalagi kok pakai yang seni-seni, tidak perlu itu. Sering kita mendengar ungkapan semacam itu, sedihlah hati kita ini, apalagi terucap dari polisi yang berpangkat tinggi yang berpendidikan dan berpengalamanan di dalam maupun di luar negeri.
 
Polisi merupakan institusi yang dibangun dengan model semi militer. Disiplin, hirarki, penghormatan, loyalitas, kesetiakawanan, baris berbaris, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan penampilan dan kekuatan fisik, penggunaan upaya
paksa, penggunaan senjata api dan bahan peledak, spirit kepahlawanan  menjadi pilar-pilar karakternya. Kepolisian sering juga kaku dan seram dengan petugas-petugas yang bertampang angker. Membuat orang yang dipanggil polisi akan
sering menjadi greng (ada rasa bagaimana ...atau bahkan ada rasa ketakutan).

Anak-anak kecil yang rewel pun sering diancam atau ditakut-takuti orang tuanya awas ada polisi. Polisi masih hidup saja sudah diasumsikan sebagai hantu bagaimana kalau sudah mati bisa-bisa diasumsikan sebagi hantu belau. Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, tugas polisi adalah tugas yang diwarnai oleh  kekerasan sebagai bagian upaya menegakkan hukum. Pengejaran, penangkapan, tembak menembak, seperti yang difilm-film, telah menjadi brand tugas kepolisian. Pada kenyataannya, tugas-tugas kepolisian justru banyak dibutuhkan di bidang kemanusiaan.

Polisi bekerja untuk melindungi harkat dan martabat manusia serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Dalam pekerjaannya, polisi memang harus berani menyatakan bahwa tugasnya adalah mewujudkan dan memelihara keamanan dan rasa aman masyarakat. Kalau  dianalogikan, tugas polisi adalah juga menata atau menyusun keteraturan sosial. Dalam menata
memang perlu ada seninya. Keteraturan sosial memang bukan produk doktrin atau atas perintah-perintah, bukan pula hasil hafalan. Yang juga bukan fotocopi.

Dalam proses menata, seni menjadi bagian penting dari keteraturan sosial. Pekerjaan polisi memang ambigu, di satu sisi melindungi, mengayomi dan melayani. Disisi lain mengatur, melarang, menangkap. Pekerjaan polisi sering diidentikkan dengan menangkap maling. Orang yang kedatangan polisi berpakaian dinas biasanya akan berpikiran negatif  saya salah apa?, polisi ini mau nangkap siapa?. Terlebih lagi dari citra polisi yang negatif di mata masyarakat, apapun yang dilakukan oleh polisi sering dianggap tidak betul atau mereka sudah meragukannya.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman, polisi kadang masih seperti yang dulu, kuno, kumel, petugas yang serem, sikap petugas yang arogan tidak ramah. Inilah bagian dari indikator dari citra buruk polisi di mata masyarakat. Ironis memang, tatkala masyarakat yang dilayani sudah maju, modern tetapi polisinya masih konvensional, apalagi dengan gaya-gaya feodal. Cepat atau lambat akan tidak dianggap bahkan akan ditinggalkan.

Tatkala petugas polisinya juga tidak cerdas maka masyarakatpun enggan bertanya, apalagi curhat dengan polisinya. Masyarakat bisa saja memandang sebelah mata, atau
meremehkan atau bahkan malah menyalah-nyalahkan. Polisi sering disudutkan dan dipojokkan, yang kadang tanpa mampu memberikan penjelasan atau argumentasi. Mencari pembela pun sepertinya sulit sekali.

Salah satu program Kapolri adalah merevitalisasi. Pemahamannya dapat dikaitkan dengan pemberdayaan atau empowering. Memanfaatkan potensi-potensi yang ada, menjadikan tantangan menjadi kekuatan dan harapan. Memberdayakan yang ada memang perlu kemampuan, kreatifitas dan keberanian bahkan kerelaan berkorban. Revitalisasi bukan hal yang mudah, bukan pula hal yang langsung bisa diterima oleh internal kepolisian maupun oleh masyarakatnya. Seni akan menjadi bagian pendukung dari revitalisasi. Seni akan mampu mendukung kreativitas dalam memberdayakan potensi. Seni dalam pemolisian merupakan suatu bagian dari kemampuan polisi memberdayakan potensi-potensi yang serba terbatas  dengan cita rasa yang tinggi dalam membangun dan memelihara keteraturan sosial.

Penyelenggaraan tugas polisi memerlukan adanya dialog dengan masyarakatnya. Bukan saja polisinya tetapi juga pada infrastruktur, program-programnya hingga perilaku para petugasnya. Dialog ini bukanlah semata mata dalam arti harafiah saja, melainkan juga dalam arti filosofis bahwa dari bangunan, peralatan, program-program bahkan hingga uniform polisi merupakan bagian dari pencitraan dan komunikasi dengan masyarakat. Gedung-gedung kepolisian yang bercita rasa seni tinggi akan menjadi tempat publik, bisa saja menjadi cagar budaya, tempat wisata, dan sebagainya. O DR.Chryshnanda DL
Berita Lainnya
Selasa, 31 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Minggu, 22 Desember 2019
Sabtu, 02 November 2019
Jumat, 25 Oktober 2019
Rabu, 21 Agustus 2019
Selasa, 07 Mei 2019
Selasa, 07 Mei 2019
Kamis, 17 Januari 2019
Rabu, 16 Januari 2019
Jumat, 16 November 2018
Rabu, 07 November 2018