Kamis, 05 September 2019

Usut Anak Hilang, Tim Cobra Polres Lumajang malah Ungkap Money Game

Usut Anak Hilang, Tim Cobra Polres Lumajang malah Ungkap Money Game

Beritabatavia.com - Berita tentang Usut Anak Hilang, Tim Cobra Polres Lumajang malah Ungkap Money Game

GARA-GARA mengusut laporan anak hilang, Tim Cobra Polres Lumajang malah mengungkap kasus money games.  Sang dalang money games, MK (48) warga ...

Ist.
Beritabatavia.com - GARA-GARA mengusut laporan anak hilang, Tim Cobra Polres Lumajang malah mengungkap kasus money games.  Sang dalang money games, MK (48) warga Kebonsari Madiun Jawa Timur ditangkap tanpa melakukan perlawanan. MK sebagai Direksi PT Amoeba International berafiliasi dengan PT Q-Net sebagai induk perusahaan yang menjalankan perdagangan sistem piramida.

"Para member baru diwajibkan untuk mencari dua anggota, dan setiap anggota baru tersebut ditugaskan hal yang sama, yakni merekrut anggota baru sehingga membentuk sistem binari (piramida) yaitu masing-masing kaki kanan dan kirinya akan bercabang terus," papar Kapolres Lumajang AKBP Muh Arsal dalam keterangan resminya yang diterima Beritabatavia.com, Kamis (05/09/2019).

Dari pengakuan MK, lanjut Kapolres, dalam sistem kerjanya, para member baru diwajibkan untuk mencari dua anggota, dan setiap anggota baru tersebut ditugaskan hal yang sama yakni merekrut anggota baru sehingga membentuk sistem binari (piramida), yaitu masing masing kaki kanan dan kirinya akan bercabang terus.

Mereka dijanjikan setiap kelipatan tiga masing-masing kaki kiri dan kanan, akan mendapatkan 250 dolar AS bahkan dijanjikan akan mendapatkan Rp 11 miliar dalam setahun jika bekerja dengan tekun. "Kasus ini terbongkar setelah polisi mendapat laporan anak hilang. Setelah ditelusuri ternyata anak tersebut bergabung dengan bisnis PT Q-Net di Kota Madiun. Anak itu diharuskan membayar uang sebesar Rp 10 juta," paparnya.

Para member ini juga selalu dijanjikan untuk bekerja sebagai pendata barang dengan gaji perbulan mencapai Rp 3 juta. Namun, setelah mereka bergabung, kerja yang dijanjikan tak pernah ada. "Selanjutnya mereka diperintahkan oleh atasan mereka untuk mencari member baru dengan cara yang sama, yaitu menawarkan pekerjaan sebagai pendata barang dan mendapat gaji Rp 3 juta," katanya Kamis (5/9/2019).

Member baru yang datang akan langsung di-braind wash (cuci otak) dan disuruh untuk membayar dengan nominal yang sama seperti pendahulunya. "Dari pengakuan beberapa korban, ada yang menjual sawah, sapi bahkan ada yang berutang ke rentenir maupun menggadaikan motor untuk mendapatkan uang Rp 10 juta tersebut. Sampai sekarang pun mereka yang telah tertipu dan kebingungan untuk melunasi utang-utangnya," tandasnya serius,

Para korban mengaku sewaktu di Kota Madiun, ditempatkan di satu rumah dan dijaga oleh para seniornya serta tidak diizinkan ke mana-mana. Beberapa dari mereka terpaksa memberanikan diri keluar dengan cara melarikan diri melalui jendela pada malam hari. "Mereka pun hanya makan nasi dengan garam atau mie instan dengan air dingin. Bahkan karena kelaparan, mereka sampai mencuri tanaman singkong milik warga," ujarnya.

Polisi akan terus mendalami kasus ini, untuk bisa menangkap para aktor di balik layar yang masih berkeliaran bebas. Sejauh ini polisi telah menetapkan satu tersangka dengan inisial MK. Selama pemeriksaan, tersangka selalu menolak disebut terlibat dalam bisnis money game ini.

Namun, bukti bukti semuanya mengarah pada MK yang merupakan orang penting dalam bisnis ini. "Hal ini diketahui melalui video presentasinya, brosur dan juga majalah yang jelas memperlihatkan keberadaan MK. Hal tersebut semakin mempersulit MK untuk mengelak bahwa dirinya tak terlibat dalam kasus ini," ujarnya.
sambil menambahkan MK diancam dengan kurungan penjara selama 10 tahun terkait perdagangan dengan skema piramida. 0 END


Berita Lainnya
Jumat, 08 November 2019
Rabu, 06 November 2019
Selasa, 05 November 2019
Senin, 04 November 2019
Minggu, 03 November 2019
Jumat, 01 November 2019
Kamis, 31 Oktober 2019
Rabu, 30 Oktober 2019
Selasa, 29 Oktober 2019
Jumat, 25 Oktober 2019
Jumat, 25 Oktober 2019
Kamis, 24 Oktober 2019