Jumat, 18 Oktober 2019 16:35:27

2 Mahasiswa Tewas, Polda Sultra Gelar Sidang Kode Etik

2 Mahasiswa Tewas, Polda Sultra Gelar Sidang Kode Etik

Beritabatavia.com - Berita tentang 2 Mahasiswa Tewas, Polda Sultra Gelar Sidang Kode Etik

PROPAM Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan persidangan kode etik terhadap anggota polisi yang melanggar Standar Operasi Pengamanan (SOP) saat ...

 2 Mahasiswa Tewas,  Polda Sultra Gelar Sidang Kode Etik Ist.
Beritabatavia.com - PROPAM Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan persidangan kode etik terhadap anggota polisi yang melanggar Standar Operasi Pengamanan (SOP) saat aksi unjuk rasa 26 September lalu yang menewaskan dua orang Mahasiswa Universitas Haluoleo, Kendari. Ketika itu, mahasiswa melakukan unjuk rasa menolak RKUHP di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara.

Sebelumnya, propam sudah menggelar sidang terhadap lima bintara. Sementara hari ini, Jumat (18/10), sidang digelar untuk satu perwira yang diduga melanggar SOP pengamanan aksi unjuk rasa. Sidang untuk perwira berinisial DK ini dimulai sekitar pukul 09.00 Wita, berkaitan dengan yang bersangkutan membawa senjata api saat mengamankan aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Sulawesi Tenggara. Sidang berjalan lancar dan dikawal petugas Propam Polda Sulawesi Tenggara.

Polda Sultra pun menetapkan terduga pelanggar kode etik terhadap enam orang anggota polisi, lima orang berpangkat bintara dan satu orang berpangkat perwira.
 Sidang kode etik digelar terbuka dan tranparan. Polda Sultra sangat serius menangani kasus aksi unjuk rasa yang menewaskan dua mahasiswa, kata Kepala Bidang Humas Polda Sultra AKBP Hery Goldenhart.

Untuk diketahui, aksi unjuk rasa yang dilakukan pada 26 September menolak RKUHP menewaskan dua mahasiswa Universitas Haluoleo yakni Rendi mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Haluoleo tewas akibat tertembak dan Yusuf Kardawai mahasiswa Fakultas Teknik tewas akibat terkena benda tumpul di bagian kepala.

Di tempat terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan menindaklanjuti pemeriksaan terhadap 6 polisi yang diduga melakukan pelanggaran standar operasional pengamanan demonstrasi mahasiswa diputuskan untuk membebastugaskan hingga proses persidangan. Dibebastugaskan dari Reskrim dan Intel karena sedang jalani proses riksa sampai persidangan pelanggaran disiplinnya, kata Dedi.

Keenam anggota diperiksa karena evaluasi internal kami tentang SOP pengamanan unjuk rasa. Jadi masih didalami ada atau tidak keterkaitannya antara 6 anggota yang diperiksa dengan peluru yang mengakibatkan Randi tewas, sebutnya.

Dia memastikan, anggota kepolisian itu masih berstatus terperiksa, dalam kasus dugaan melanggar SOP pengamanan unjuk rasa menolak revisi RUU KUHP dan UU KPK di gedung DPRD Sultra, Kamis (26/9). Padahal sudah dijelaskan berkali-kali saat pengamanan unras tidak boleh dibawa senpi. Dalam konteks ini mereka melanggar disiplin," paparnya.

Asep menambahkan bahwa polisi mendalami dua perkara yang berbeda. Oleh karena itu, perlu menjadi catatan bahwa betapa keseriusan Polri memeriksa perkara ini untuk membuat terang benderang.

Perkara pertama yakni terkait meninggalnya dua mahasiswa saat demo menolak UU KPK dan sejumlah rancangan undang-undang di DPRD Sultra. Kedua mahasiswa yang meninggal itu adalah Randi 21, mahasiswa Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan dan Muh Yusuf Kardawi 19 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. 0 MIO

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Sabtu, 11 Januari 2020
Jumat, 10 Januari 2020
Rabu, 08 Januari 2020
Rabu, 08 Januari 2020
Selasa, 07 Januari 2020
Senin, 06 Januari 2020
Kamis, 02 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Jumat, 27 Desember 2019
Kamis, 26 Desember 2019
Sabtu, 21 Desember 2019
Rabu, 11 Desember 2019