Sabtu, 28 Desember 2019 09:26:11

Jokowi Ngaku "Dibentak" Gadis NTT

Jokowi Ngaku "Dibentak" Gadis NTT

Beritabatavia.com - Berita tentang Jokowi Ngaku "Dibentak" Gadis NTT

ADA kejadian yang mengundang tawa dalam Perayaan Natal 2019 di Sentul, Bogor, Jumat (27/12). Baru kali ini, ada peserta yang berani ...

Jokowi Ngaku Ist.
Beritabatavia.com -

ADA kejadian yang mengundang tawa dalam Perayaan Natal 2019 di Sentul, Bogor, Jumat (27/12). Baru kali ini, ada peserta yang berani "membentak" Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat sesi bagi-bagi sepeda. Jokowi pun dibuat heran karena dirinya dibentak oleh seorang peserta. Tentu, dibentak bukan arti yang sebenarnya.

Momen ini berawal dari spontanitas Presiden Jokowi untuk menggelar kuis bagi-bagi sepeda seperti biasa. Ia pun memanggil tiga peserta, masing-masing berasal dari NTT, Ambon, dan Nias. Dari NTT, dipilihlah seorang gadis berkemeja putih, yang berlari kencang dari tribun atas SICC Sentul menuju panggung. Saking semangatnya, gadis ini tak memakai sepatu. "Kok ini nggak pakai sepatu. Biar larinya cepat?" tanya Jokowi kepada perempuan tersebut.

Tiba lah sesi pengenalan diri. Presiden meminta pemudi asal NTT ini memperkenalkan namanya. Namun Jokowi mengaku tak bisa mendengar jelas nama yang disebut pemudi tersebut. "Apa? Fiolentina?" kata Jokowi.

"Fiorentina!" jawab perempuan yang ternyata bernama Fiorentina.

Nada bicara Fiorentina yang tinggi membuat Presiden kaget. Seisi SICC Sentul pun ikut tertawa. "Waduh ini presiden dibentak," ujar Jokowi tanpa tersinggung. Presiden yang juga ikut tertawa akhirnya melanjutkan kuisnya.

Setelah momen bentak-membentak ini, Jokowi meminta Fiorentina menyebutkan tiga nama menteri Kabinet Indonesia Maju. Lagi-lagi seluruh hadirin dibuat tertawa karena Fiorentina tak bisa menyebutkan satupun nama menteri.

Jokowi akhirnya mengizinkannya berkenalan dengan para menteri yang hadir. "Pak Juliari Menteri Sosial," kata Fiorentina. "Pak Jenderal Fachrul Razi, Menteri Agama," katanya lagi. "Pak Pratikno, Menteri apa tadi? Pak Pratikno Menteri Sekretaris Negara," ujar Fiorentina sambil menahan tawa. Atas spontanitas Fiorentina, Jokowi memberikannya dua sepeda sekaligus.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengingatkan, persahabatan sejati sudah lama menjadi roh bangsa Indonesia selama ratusan tahun nenek moyang kita hidup bersama, damai, harmonis dalam persahabatan, dalam persaudaraan yang tulus, yang sejati tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan ras. “Nilai-nilai persaudaraan inilah yang mengikat keindonesiaan kita di masa lalu, di saat ini, maupun di masa yang akan datang,” kata Presiden

Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, menurut Kepala Negara, kita akan sigap mengulurkan tangan jika saudara-saudara kita dalam kesusahan. Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita selalu mudah menyodorkan solidaritas ketika saudara kita memerlukan bantuan.

Dengan hidup sebagai satu saudara, satu sahabat, membuat kita tidak ragu untuk saling mengingatkan. Dengan hidup sebagai satu saudara dan satu sahabat, lanjut Kepala Negara,juga tidak pernah sulit kita semuanya untuk bergandengan dengan bergotong-royong berkolaborasi untuk mencapai tujuan besar bangsa kita, Indonesia.

Dicontohkan keteladanan yang diberikan tokoh-tokoh bangsa Indonesia tentang indahnya, berharganya persahabatan dan persaudaraan, sebagaimana dilakukan oleh pendiri Masyumi, tokoh Islam terkemuka Mohammad Natsir yang bersahabat dengan Ignatius Jonathan Kasimo sebagai seorang tokoh Katolik.

“Ketika Hari Raya Natal, Bapak Natsir selalu berkunjung ke rumah Bapak I. J. Kasimo. Sebaliknya, pada saat Idulfitri, Bapak I. J. Kasimo juga datang berkunjung ke rumah Bapak Natsir,” ungkap Presiden seraya menambahkan, inilah teladan indahnya persahabatan di antara dua tokoh bangsa.

Demikian juga dengan cerita keakraban Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid)  dengan Romo Mangun (YB. Mangunwijaya), menurut Presiden, juga bisa menjadi inspirasi bagi kita semuanya bagaimana Pancasila diwujudkan dalam persahabatan yang nyata. “Mereka tidak mempersoalkan perbedaan. Mereka berbeda agama tetapi tetap bersahabat seperti bersaudara,” tutur Kepala Negara.

Diingatkan dalam perjalanan sejarah kita juga sering diuji apakah kita mampu menjaga kebersamaan di antara kita, apakah kita mampu merawat persaudaraan dan persahabatan di antara kita. Dan pada momen-momen tertentu ada saja yang mencoba-coba mengganggu kedamaian hubungan antarsuku, antaragama, menggoyang-goyang keharmonisan hubungan kita semuanya, atau bahkan menebar kebencian dan intoleransi dalam kebersamaan kita. “Tapi saya yakin, saya meyakini dengan semangat persaudaraan dan persahabatan yang sangat kuat, kita akan selalu mampu menghadapi semuanya. Saya memiliki keyakinan itu,” ucapnya. 0 AIM

 

Berita Lainnya
Senin, 30 Maret 2020
Minggu, 29 Maret 2020
Sabtu, 28 Maret 2020
Jumat, 27 Maret 2020
Kamis, 26 Maret 2020
Rabu, 25 Maret 2020
Selasa, 24 Maret 2020
Sabtu, 21 Maret 2020
Jumat, 20 Maret 2020
Kamis, 19 Maret 2020
Kamis, 19 Maret 2020
Rabu, 18 Maret 2020