Kamis, 01 April 2021 15:23:02

SETARA : Penindakan Terukur & Akuntabel Terhadap Teroris Dibenarkan

SETARA : Penindakan Terukur & Akuntabel Terhadap Teroris Dibenarkan

Beritabatavia.com - Berita tentang SETARA : Penindakan Terukur & Akuntabel Terhadap Teroris Dibenarkan

Pasca aksi bomber bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021, pelaku teror lone wolf (tindakan sendirian) berusaha menyerang Mabes ...

SETARA : Penindakan Terukur & Akuntabel Terhadap Teroris Dibenarkan Ist.
Beritabatavia.com -

Pasca aksi bomber bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021, pelaku teror lone wolf (tindakan sendirian) berusaha menyerang Mabes Polri, namun berhasil dilumpuhkan oleh aparat. Lone wolf merupakan strategi mutakhir di kalangan kelompok dan jaringan teroris. Strategi tersebut memungkinkan siapa saja menjadi aktor teroris.

"Dua peristiwa teror terakhir di Makassar dan di Jakarta menunjukkan bahwa kelompok pengusung ideologi teror masih eksis di Indonesia, termasuk dengan menggunakan strategi lone wolf. Jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) adalah salah satu jaringan terorisme yang paling menonjol mengadopsi strategi lone wolf dalam menjalankan tindakan teror. JAD mengkapitalisasi pesatnya perkembangan teknologi informasi dan memanfaatkannya secara efektif untuk melakukan proses radikalisasi di ruang publik dengan menyasar kelompok-kelompok spesifik, yang memiliki potensi transformasi secara cepat untuk menjadi intoleran aktif, radikal, lalu jihadis dan melakukan amaliyah teror, " kata ketua Setara Institute, Hendardi, dalam siaran persnya, Kamis (1/4) .

Setara Institute menilai, eksistensi kelompok teroris ini dimungkinkan karena mengendurnya kepekaan dan melemahnya partisipasi masyarakat. Di sisi lain, berkembang upaya untuk mendelegitimasi tindakan polisional oleh institusi-institusi keamanan negara dalam menangani terorisme. Sehingga mendorong masyarakat menjadi permisif, karena berkembang persepsi bahwa terorisme adalah konspirasi atau rekayasa pihak-pihak tertentu.

"Padahal, dua aksi terakhir, misalnya, menunjukkan betapa jejaring itu nyata dan keberadaan mereka membahayakan jiwa warga masyarakat. Demi melindungi kepentingan publik dan keselamatan warga, tindakan polisional yang terukur dan akuntabel, untuk melumpuhkan teroris dan jaringannya dibenarkan, (permissible) dalam perpsektif hukum dan hak asasi manusia," tegas Hendardi.

Sayangnya, Hendardi melanjutkan, penyesatan opini yang mendeligitimasi tindakan koersif negara dalam menangani aksi terorisme masih terus berlangsung. Hal itu jelas menjadi kampanye distortif atas kinerja pemberantasan terorisme di satu sisi, dan semakin memperluas ruang radikalisasi publik dan memperkuat sikap permisif warga, di sisi lain. Padahal, ruang-ruang publik yang permisif terhadap intoleransi dan radikalisme merupakan enabling environment atau lingkungan yang membuat dan mempercepat tumbuhnya terorisme dan rekonsolidasi jaringan dan sel-sel tidur terorisne

Setara Institute mengingatkan agar semua pihak memahami bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Oleh karena itu, mobilisasi sumber daya dan dukungan bersama jelas dibutuhkan. Penanganan terorisme, mulai dari pencegahan hingga penindakan yang bersifat terukur dan akuntabel, harus dilakukan secara simultan untuk menjamin keamanan dan keselamatan seluruh warga negara.
"Masyarakat mesti berpartisipasi dalam pencegahan dan aparatur negara harus melakukan tindakan hukum yang akuntabel dan terukur dalam bentuk penindakan. Sinergi demikian akan membentuk imunitas kolektif dari penyebaran terorisme melalui saluran apapun, termasuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, seperti media sosial dan internet,"pungkas Hendardi. 0 son

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 28 Oktober 2021
Rabu, 27 Oktober 2021
Selasa, 26 Oktober 2021
Kamis, 21 Oktober 2021
Senin, 18 Oktober 2021
Selasa, 12 Oktober 2021
Senin, 11 Oktober 2021
Sabtu, 09 Oktober 2021
Kamis, 30 September 2021
Rabu, 29 September 2021
Selasa, 21 September 2021
Kamis, 09 September 2021