Selasa, 22 Juni 2010 13:04:56

Hidup Mudah, Bahagia dan Damai Dengan Ilmu Pengetahuan

Hidup Mudah, Bahagia dan Damai Dengan Ilmu Pengetahuan

Beritabatavia.com - Berita tentang Hidup Mudah, Bahagia dan Damai Dengan Ilmu Pengetahuan

Ketika menyampaikan pesan kepada mahasiswa California Institute of Technology, Albert Einstein (1938), mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang ...

Hidup Mudah, Bahagia dan Damai Dengan Ilmu Pengetahuan Ist.
Beritabatavia.com - Ketika menyampaikan pesan kepada mahasiswa California Institute of Technology, Albert Einstein (1938), mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang menggugah kita semua, yakni: …Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar…. Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief kepada Tabliod Pro baru-baru ini.
Menurutnya, ungkapan Einstein ini tentu saja sangat relevan dengan Indonesia kekinian, dimana kita sedang dihadapkan pada berbagai persoalan strategis, yang bukan saja dapat mengurangi kemampuan kita dalam mengatasi persoalan di masa kini, akan tetapi juga berpeluang mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam menjawab tantangan masa depan yang lebih kompleks.
Kita mencatat lanjut Andi Arief, setidaknya tiga masalah strategis, yang perlu mendapatkan perhatian seluruh elemen bangsa, yakni: Pertama, fakta geologis, bahwa Indonesia berada di jalur ring of fire, yakni jalur yang menyimpan kerawanan bencana gempa bumi, letusan gunung berapi, dan berbagai akibat yang dapat ditimbulkannya. Kedua, fakta bahwa kini kita (dan juga dunia), menghadapi krisis energy, yang bukan tidak mungkin pada waktunya kelak akan menyumbang bencana kemanusiaan, jika kita tidak mampu mengatasinya. Dan ketiga, krisis lingkungan hidup, yang berpotensi membawa implikasi luas pada kemampuan kita meyediakan pangan, air bersih dan tentu udara yang bersih. Sulit dibayangkan apa yang akan terjadi apabila ketiga elemen tersebut bertemu pada satu titik: pastilah suatu bencana yang maha dasyat yang akan membawa korban yang sangat besar. Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi situasi yang demikian?
Peran Sains
Lebih lanjut Andi Arief memaparkan, gempa bumi, sesungguhnya adalah peristiwa alam biasa. Gempa bumi dan berbagai peristiwa alam lainnya, menjadi suatu bencana ketika terjadi pertemuan antara kekekuatan gempa (berdaya rusak yang tinggi) dan ketidaksiapan (baik rakyat, ataupun pemerintah). Dalam kondisi tersebut, gempa berubah dari sekedar peristiwa alam menjadi bencana, karena menimbulkan kerusakan, memakan korban dan membawa kerugian, serta masalah-masalah lainnya. Apa yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah benar peristiwa gempa bumi adalah peristiwa yang sungguh tidak dapat diprediksikan, sehingga kita benar-benar dibuat tidak dapat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan?
Pertanyaan ini tentu bukan pertanyaan bagi kaum awam, melainkan pertanyaan mulia bagi sains dan kalangan ilmuan. Dalam kaitan ini kita mendapatkan beberapa terobosan yang sangat menantang, terutama berkait dengan prediksi terhadap terjadinya gempa bumi. Pertama, suatu pertemuan internasional yang dihadiri banyak ilmuan dari berbagai negara, yakni: Internasional Meeting on Sumatran Earthquake Challenge (kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), California Institute of Technology (Caltech) dan Japan Society fot Promotion of Science), yang diselenggarakan di Padang, pada 24-28 Agustus 2008 lalu. Dalam pertemuan tersebut dikemukakan bahwa Kota Padang merupakan daerah yang paling rawan terhadap potensi gempa bumi dan tsunami, dan akan merambat ke daerah sekitarnya: Pariaman, Mentawai, Bengkulu, Anyer (Selat Sunda), Lampung dan Pelabuhan Ratu, dan seterusnya. Perkiraan tersebut dikonfirmasi dengan peristiwa gempa bumi di Padang, Pariaman, dan sekitarnya pada 30 September 2009, dengan kekuatan mencapai 7,6 SR.
Kedua, sejalan dengan kajian tersebut, kita juga mendapati analisis (prediksi) dari berbagai ilmuan lain, seperti mereka yang tergabung dalam Earth Observatory of Singapore, memperkirakan akan terjadi gempa bumi dengan kekuatan kekuatan 8,8 SR, yang akan menghantam Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ke depan. Metodologi yang digunakan yakni dengan menggunakan specimen koral dari wilayah Sumatera untuk mengetahui alur tren gempa. Selanjutnya juga infomasi dari International Symposium on Earthquake and Precursor, dengan tema On The Possibility of Establishing For Earthquake Precursors Monitoring System, yang diselenggarakan oleh JISNET dan Task Force Meeting on Establishment of Monitoring Network of Tsunami Early Warning Systems in South East Asia. Dalam pertemuan ini juga muncul prediksi akan terjadinya gempa bumi dan tsunami paska Aceh.
Apa yang menarik dari pertemuan ilmiah tersebut? Tentu bukan kelihaian pendekatan keilmuan yang menguraikan teknis peristiwa gempa bumi, tsunami dan berbagai peristiwa alam lainnya, namun kemampuannya untuk memberikan prediksi: apa yang mungkin terjadi di depan. Pertanyaan kita selanjutnya, apakah prediksi tersebut tidak mungkin ditingkatkan akurasinya? Sebagai awam, kita tentu saja hanya punya harapan agar ilmuan kita memiliki mental merah putih, sehingga dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya mampu menyumbangkan pengetahuan yang maha berharga, bukan saja bagi dunia keilmuan, melainkan demi keselamatan umat manusia. Kita percaya, bahwa dengan dukungan dari Negara, maka riset-riset yang idealis, riset kemanusiaan, akan dapat membuahkan hasil gemilang bagi kepentingan bangsa Indonesia. Dengan itu, kita akan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah makin banyak memberi makna, karena kita makin tahu bagaimana memanfaatkannya.
Harus Sadar Bencana
Andi menjelaskan, dari semua bencana yang telah kita alami, terdapat satu kata kunci yang sangat penting, yakni: kesiapan. Yakni kesiapan sebelum terjadi peristiwa, pada saat kejadian dan paska bencana. Benar bahwa berbagai upaya dalam memberikan respon cepat, serta langkah rekonstruksi dan rehabilitasi paska bencana, amat diperlukan. Berdasar pengalaman dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Yogya, Padang, dan daerah-daerah lain, kita telah mendapatkan semacam best practice, tentang bagaimana penanganan korban bencana dilakukan. Oleh sebab itulah kita perlu melangkah lebih jauh, kita bukan saja memutar sel otak untuk mengembangkan teknologi penanganan paska bencana, melainkan juga mempersiapkan diri secara terencana terhadap berbagai kemungkinan yang berpotensi menjadi bencana.
Apa yang harus dilakukan untuk membangun kesiapan? Pertama, perlunya suatu peta ancaman, yakni hasil kajian yang didukung Negara, untuk memberikan gambaran utuh mengenai sebaran potensi gempa bumi, berikut perkiraan mengenai kekuatan, daya rusak dan akibat-akibat lain yang dapat ditimbulkan. Informasi ini memang bisa dipergunakan dengan bijak, agar kita punya road map yang jelas untuk mengurangi jumlah korban yang bakal jatuh. Dalam hal ini kita juga tidak perlu mengabaikan kearifan lokal, karena di berbagai negeri, kearifan lokal, juga member sumbangan penting dalam memprediksi ancaman bencana.
Kedua, tidak terhindarkan perlunya system peringatan dini yang lebih baik, akurat, cepat dan sampai. Sistem ini bukanlah suatu system yang terpisah dari masyarakat. Justru system ini harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, agar system berjalan di atas rasa saling percaya, saling menjaga dan saling bekerjasama. Oleh sebab itulah, kesadaran sadar bencana menjadi sangat penting, karena tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat, amat mustahil system peringatan dini akan berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
Ketiga, membangun kesadaran sadar bencana sebagai suatu bentuk membangun kultur siap menghadapi bencana. Tentu diperlukan sejumlah pengetahuan yang disosialisasikan kepada masyarakat, agar mereka mengetahui apa makna informasi prediksi bencana, makna system peringatan dini, dan berbagai langkah standar dalam keadaan darurat. Disinilah pentingnya kesiapan berbasis masyarakat, karena hanya dengan kekuatan masyarakat, yakni kekuatan yang didasarkan pada nilai-nilai kearifan local, sikap saling percaya, sikap saling hormat dan kesediaan bekerjasama dalam situasi sulit (darurat), akan menjadi modal penting membangun kesiapan yang sejati.
Di atas itu semua, kita memerlukan suatu semesta berpikir baru: semesta berpikir sadar bencana. Kesadaran baru ini kelak akan membimbing kita dalam menata masa depan. Memeriksa kembali segala aturan dalam mengelola pemerintahan, tentu dengan maksud mentransformasikan model pembangunan agar lebih sadar bencana. Hal ini pasti punya implikasi yang jauh, mulai dari cara kita menyusun tata ruang, alokasi lahan, ketentuan dalam membangun rumah dan berbagai jenis bangunan, strategi kita dalam menggerakkan industry, pertanian, pengusahaan energy, air, pangan, dan lain-lain. Hanya dengan kemauan keras, kerjasama yang baik antar semua elemen bangsa. Kita percaya dengan kebersamaan semua tantangan dapat diatasi, dan kita bisa tersenyum meyakinkan Einstein, bahwa ilmu pengetahuan sungguh membuat kita lebih mudah, bahagia dan damai," ujar Andi Arief.O edison

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 23 September 2024
Kamis, 22 Agustus 2024
Minggu, 04 Agustus 2024
Rabu, 17 Juli 2024
Rabu, 19 Juni 2024
Senin, 22 April 2024
Senin, 26 Februari 2024
Kamis, 01 Februari 2024
Senin, 13 November 2023
Rabu, 12 April 2023
Senin, 03 April 2023
Selasa, 07 Maret 2023