Beritabatavia.com -
Anomali cuaca dunia belakangan ini, menyebabkan setiap tahunnya, 200 juta orang terkena dampak bencana alam di wilayah
Asia-Pasifik. Sepanjang tahun 2013, Indonesia telah mengalami berbagai
bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi dan banjir. Ketika
bencana ini terjadi maka stabilitas ekonomi di seluruh wilayah akan
terpengaruh.
Dampak bencana yang terjadi di wilayah Asia Pasifik, terutama dengan bencana yang baru saja terjadi, topan Haiyan di Filipina, telah memicu diskusi diseluruh dunia mengenai bagai mana upaya masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan baik sebelum terjadinya bencana untuk mengurangi dampak korban jiwa dan kerugian harta benda.
Salah satu yang dapat memberikan kontribusi signifikan dalam penanggulangan bencana adalah dunia usaha. Melalui pendekatan strategis, jaringan yang luas dan pemanfaatan jumlah sukarelawan, dunia usaha dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah, organisasi kemanusiaan, didukung teknologi dan inovasi terkini memiliki peran penting terhadap keberhasilan inisitif penanggulangan bencana.
Donald Kanak, Pimpinan Prudential Asia dan Perwakilan Prudence Foundation, mengatakan, upaya avokasi yang dilakukan sejalan dengan aktifitas CSR Prudence Foundation yang meliputi tiga pilar yakni, Pendidikan, Perlindungan Anak dan Penanggulangan Bencana.
Kesinambungan bisnis Private Sector dalam jangka panjang haruslah sejalan dengan upaya kesiapan menghadapi bencana yang tidak hanya bertujuan mengurangi kerugian dan korban jiwa, namun juga berjalan seiring dengan tujuan bisnis itu sendiri.
'Prudence Foundation memiliki komitmen kuat dalam jangka panjang terhadap kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan masyarakat, kami akan terus berkontribusi terhadap upaya penanganan bencana,' ujarnya.
Pada kesempatan itu, Richard Welford, pimpinan CSR ASIA menjelaskan, saat ini banyak peusahaan yang menjadi bagian dari masyarakat rawan bencana, sehingga mendorong kesiap siagaan masyarakat terhadap bencana merupakan yang hal terbaik. Tindakan ini dapat menunjukan partisipasi aktif perusahaan di tengah-tengah masyarakat.
'Hal ini akan mengurangi konflik potensial di dalam masyarakat dan menciptakan loyalitas diantara karyawan dan pelanggan,' kata Richard. O brn