Rabu, 14 September 2016

Pengacara Otto: Tak Ada Sianida, Tak Ada Pembunuhan

Pengacara Otto: Tak Ada Sianida, Tak Ada Pembunuhan

Beritabatavia.com - Berita tentang Pengacara Otto: Tak Ada Sianida, Tak Ada Pembunuhan

Sidang Kasus Pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jesica Kumala Wongso memasuki sidang ke-20 kalinya. Sidang kali ini, menghadirkan empat ...

Ist.
Beritabatavia.com - Sidang Kasus Pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jesica Kumala Wongso memasuki sidang ke-20 kalinya. Sidang kali ini, menghadirkan empat saksi. Saksi yang pertama telah dihadirkan dalam sidang yakni Dr Budiawan, ahli kimia toksikologi forensik.

Selama persidangan, Budiawan mengatakan bahwa bahan kimia merupakan sebuah materi berupa senyawa tunggal yang bisa merubah menjadi apapun, asalkan ada wadah. "Bahan kimia ini bisa berupa senyawa tunggal atau campuran yang bisa saja padat, cair dan gas. Asalkan ada wadahnya," kata Budiawan.

Dia juga menambahkan jika sianida yang memasuki tubuh seseorang dan melebihi 10 ppm maka akan tercium kebauan yang menyengat. Dalam kasus mirna, dijelaskan oleh Budiawan bahwa tidak ada kebauan yang menyengat setelah Mayan Wirna meninggal.

Menurut Budiawan, Gejala umum yang dialami oleh orang yang terkena sianida adalah terjadi perubahan yang bermuara di lambung, gangguan pernapasan, pusing, mual. Budiawan juga menambahkan jika seseorang mengalami keracunan, maka khas dari ciri tersebut adalah baunya. Bau akan tercium sangat tajam sehingga orang bisa dinyatakan beracun.

"Di sini (BAP) disebutkan ada 7.400 mg per liter sianida. Harusnya, bau gasnya ke mana-mana. Dan ada potensi orang yang hirup bisa mati, karena maksimal 4,4 mg per liter saja orang sudah harus dievakuasi. Maka saya lihat data ini, apa iya benar? Jika benar ada 7.400 mg per liter dan POHnya 2,64 maka PHnya 11,33. Sedangkan, ini tertera 13. Sehingga saya pikir ada something yang tidak tepat,"ungkapnya.

Gangguan pernafasan itu bisa berupa gangguan sesak nafas dan tergengap-engap. "Gangguan itu bisa berupa apa saja, bisa jadi sesak nafas," tutur Budiawan.

Otto Hasibuan memaparkan sidang bukti yakni pemaparan bukti pertama hingga bukti ketujuh (bb1-bb7). Bb1 adalah bukti sisa yang diminum Mirna di dalam gelas, sedangkan bb2 adalah bukti sebagian sisa sianida yang berada di botol ,bb3 bukti pembanding, bb4 adalah cairan lambung yang diambil dari tubuh Mirna 70 menit setelah dia meninggal, dan bb5,6,7- barang bukti yang diambil dokter (sampel dari Lambung, hati , urin).

Dalam pemarapan sidang, bb4 menunjukan hasil sianida berupa negatif setelah 70 menit Mirna meninggal. "Lab krim mengatakan 70 menit setelah mirna dinyatakan meninggal hasilnya negatif tidak ada sianida, lalu kalau seperti itu berarti tidak ada perkara kan, tidak ada kasus," ucap Otto Hasibuan.

Namun, hasil bukti menunjukan setelah tiga hari Mayat Mirna diformalin ditemukan sebanyak 0,02 sianida. "0,02 itu timbul karena proses alami. Dalam orang mati pun ada sianida, Kalau sianida tidak ada di dalam korban, tidak ada pembunuhan, tidak ada kasus dan tidak ada alasan menjadikan Jessica menjadi terdakwa," ucap Otto.

Otto mempermasalahkan bukti bernomor 3 dan 4 yang tidak tercantum dalam kesimpulan. Padahal bukti tersebut merupakan bukti yang cukup kuat menurut Otto. "Substansi 70 menit dari kematian mirna hasilnya negatif, dari negatif kan tidak bisa berubah menjadi positif," tuturnya. o bso




Berita Lainnya
Minggu, 30 Desember 2018
Sabtu, 29 Desember 2018
Jumat, 28 Desember 2018
Kamis, 20 Desember 2018
Rabu, 19 Desember 2018
Selasa, 18 Desember 2018
Sabtu, 15 Desember 2018
Jumat, 14 Desember 2018
Selasa, 11 Desember 2018
Senin, 10 Desember 2018
Minggu, 09 Desember 2018
Jumat, 07 Desember 2018