Senin, 26 September 2016

Jaksa Agung: Kasus Mirna Mirip Pembunuhan Munir

Ist.
Beritabatavia.com - Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menilai kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin mirip dengan kasus pembunuhan terhadap pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib.

Prasetyo mengatakan, seharusnya pengungkapan kasus Mirna lebih mudah dibandingkan kasus Munir yang juga tewas diracun. "Kasus ini mirip pembunuhan Munir. Bahkan sebenarnya lebih mudah, kita berkutat dengan petunjuk," kata Prasetyo dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/9/2016).

Prasetyo melihat saat ini ada pro dan kontra di kalangan masyarakat terhadap kasus pembunuhan Mirna tersebut. "Kita tunggu proses akhir perkara ini," tuturnya.

Untuk diketahui kasus pembunuhan Mirna dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, menyita perhatian masyarakat. Saat ini, kasus Mirna sudah memasuki persidangan ke 25.

Di tempat terpisah, Ahli hukum pidana dr Mudzakkir, meragukan keaslian rekaman CCTV di kafe olivier yang merekam kejadian saat Wayan Mirna Salihin meninggal. Otto Hasibuan, ketua tim penasehat hukum terdakwa, mengatakan alat bukti rekaman CCTV diambil oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pernyataan itu dinilai Mudzakkir merupakan hal yang tidak bisa diterima. Karena, yang berhak menyita alat bukti adalah penyidik dari kepolisian.

“Yang lain itu tak punya kewenangan. Kalau tak punya kewenangan, tak bisa dijamin originalitasnya (keasliannya). Dan tak bisa disebut sebagai alat bukti,” kata Mudzakkir dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, (26/9/2016).

Hal itu dikatakan Mudzakkir, sudah diatur dalam Peraturan Kapolri nomor 10 tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik TKP dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti kepada Labfor Polri. Dan penyitaan elektronik seperti rekaman CCTV diatur dalam pasal 20. Didalam pasal 20, penyitaan wajib memenuhi 4 unsur yakni, surat permintaan tertulis, laporan polisi, berita acara pengambilan (BAP), penyitaan dan pembungkusan barang bukti.

Menurut Otto yang jadi masalah rekaman CCTV yang dibawa oleh jaksa penuntut umum dibawa langsung oleh Jaksa dari Kafe Olivier, tanpa melewati pihak Puslabfor terlebih dahulu. Bentuknya pun sudah tidak original (dalam bentuk rekaman dalam DVR), tapi sudah dalam bentuk kloning dalam flash disk. “Kloning harus dari sumber aslinya, dan diserahkan ke lab bukan ke individual. Sehingga kalau ada demikian wajib dibuatkan BA (berita acara),” kata Mudzakkir.

Karena itu, Mudzakkir mempertanyakan keaslian alat bukti rekaman CCTV yang dibawa dan dibahas di pengadilan itu. “Proses yang tidak sah tidak bisa jadi alat bukti yang sah,” kata dia. o eee




Berita Lainnya
Jumat, 28 Desember 2018
Kamis, 20 Desember 2018
Rabu, 19 Desember 2018
Selasa, 18 Desember 2018
Sabtu, 15 Desember 2018
Jumat, 14 Desember 2018
Selasa, 11 Desember 2018
Senin, 10 Desember 2018
Minggu, 09 Desember 2018
Jumat, 07 Desember 2018
Jumat, 07 Desember 2018
Kamis, 06 Desember 2018