Jumat, 02 Desember 2016

Notaris Cibinong Merubah Akta Otentik Tanpa Persetujuan Pemilik

Notaris Cibinong Merubah Akta Otentik Tanpa Persetujuan Pemilik

Beritabatavia.com - Berita tentang Notaris Cibinong Merubah Akta Otentik Tanpa Persetujuan Pemilik


Sidang lanjutan kasus pidana akta otentik dengan terdakwa Makbul Suhada SH mengakui perbuatannya salah dengan membuat akta pembatalan terhadap ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Sidang lanjutan kasus pidana akta otentik dengan terdakwa Makbul Suhada SH mengakui perbuatannya salah dengan membuat akta pembatalan terhadap surat kuasa menjual ruko di Jalan Pasar Minggu Kalibata Jakarta Selatan, tanpa persetujuan pemilik akta yang sah Haryanto Latifah. Bahkan notaris senior di Cibinong ini menandatangani akta pembatalan sehingga merugikan pemilik seritifikat asli.

"Saya akui pak ketua, kami yang membuat sekaligus meneken akta pembatalan penjualan ruko itu tanpa persetujuan saksi korban," papar terdakwa Makbul di depan majelis hakim yang dipimpin Barita Sinaga dengan anggota Yuliana dan raden Ayu Riskiati di PN Cibinong, Kamis (01/12/2016).

Terdakwa Makbul juga mengakui akibat perbuatannya telah kena skorsing dari organisasi Notaris selama 3 bulan tidak boleh menjalankan praktek notaris.

Sidang lanjutan yang menghadirkan saksi korban Haryanto Latifah menjelaskan tahun 2007 ingin menjual ruko berlantai 4 di Jalan Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan seharga Rp2,48 miliar. Oleh Suwarno, adik Haryanto ditawarkan Irjen Pol (Purn) Heru Susanto, petinggi di Mabes Polri.

Dan tertarik, dan ingin melihat sekaligus akan mengecek keabsahan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 544/Kalibata dengan nomor sertifikat 09.02.08.03.3. 0054, yang ditandatangani an Kepala Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Selatan Ir. Lukman H. Kartasasmita tertanggal 17 Mei 2000.

Setelah PPJB dibuat sendiri oleh terdakwa Makbul, lalu penandatangan akta PPJB di Hotel Sultan Jakarta yang disaksikan Tri Rahardian Sapta Pamarta, Notaris Makbul yang ditunjuk Heru Susanto, Haryanto dan Suwarno. "Jadi di Hotel itu tak ada jual beli dan sampai kini saya belum dibayar," ucapnya dan terdakwa Makbul mengetahui sekaligus mengiyakan belum ada pembayaran.

Majelis hakim sempat menanyakan apakah tidak dibaca dulu isi surat penyerahan itu? apa tidak didampingi penasehat hukum? "Saya tidak membaca detail isinya, saya percaya saja dan saya tak didampingi pengacara," jawabnya.

Hampir sembilan tahun, lanjut dia, sertifikat itu dikuasi Heru Susanto bahkan ruko itu disewakan ke PT. Bank Negara Indonesia (BNI) persero oleh Tri Rahandian yang mengaku sebagai pemilik sah ruko itu. BNI pun disomasi sehingga tidak mau memperpanjang sewa ruko itu lagi.

"Kasus ini saya laporkan ke Polda Jabar. Saat disidik dan Notaris Makbul sempat dijemput paksa oleh polisi karena mangkir dipanggil. padahal kasusnya akan dilimpahkan ke Kejaksaan tanpa alasan yang sah secara hukum," kata saksi korban

Di luar sidang, Bonar, pengacara Haryanto Latifah mendesak majelis hakim melakukan penahanan terhadap notaris Makbul karena dikhawatirkan mengulangi perbuatannya lagi, menghilangkan barang bukti dan lari ke luar negeri. "Apalagi sebagai seorang sarjana hukum tak patut melakukan perbuatan melanggar hukum," lontarnya. o ndy




Berita Lainnya
Rabu, 03 Juli 2019
Selasa, 02 Juli 2019
Senin, 01 Juli 2019
Sabtu, 29 Juni 2019
Jumat, 28 Juni 2019
Rabu, 26 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
Jumat, 21 Juni 2019
Selasa, 18 Juni 2019
Minggu, 16 Juni 2019
Jumat, 14 Juni 2019