Rabu, 18 Januari 2017

Notaris Palsukan Akta, Saksi Bantah Keterangan Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto

Notaris Palsukan Akta, Saksi Bantah Keterangan Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto

Beritabatavia.com - Berita tentang Notaris Palsukan Akta, Saksi Bantah Keterangan Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto

 Keterangan Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto di depan Pengadilan Negeri Cibinong dibantah keras oleh saksi Suwarno. Pengakuan mantan petinggi ...

Ist.
Beritabatavia.com -  Keterangan Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto di depan Pengadilan Negeri Cibinong dibantah keras oleh saksi Suwarno. Pengakuan mantan petinggi Polri itu, dianggap tidak sesuai dengan fakta di lapangan sehingga banyak penyimpangan bahkan penuh kebohongan.

"Di sidang katanya sudah dibayar, realitanya kan belum. Kalau tidak percaya tanya terdakwa Makbul Suhada SH, sang notaris tahu itu semua. Bahkan sudah dibuat dalam surat
pernyataan bahwa belum ada pembayaran jual beli  ruko berlantai 4 di Jalan Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan seharga Rp2,48 miliar,
" papar Suwarno, saksi yang menjadi perantara antara pemilik ruko Haryanto Latifa dengan  Irjen (Purn) Pol. Heru Susanto di Jakarta, Rabu (18/01/2017).

Suwarno menjelaskan tahun 2007, Haryanto Latifah ingin menjual ruko berlantai 4 di Jalan Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan seharga Rp2,48 miliar. Ruko itu ditawarkan Suwarno
kepada Irjen Pol (Purn) Heru Susanto, petinggi di Mabes Polri. Tertarik membeli, Heru ingin mengecek keabsahan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No. 544/Kalibata dengan nomor
sertifikat 09.02.08.03.3. 0054, yang ditandatangani a/n Kepala Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Selatan Ir. Lukman H. Kartasasmita tertanggal 17 Mei 2000.

Juga mengadakan pertemuan di Hotel Sultan Jakarta. Heru menunjuk notaris Makbul Suhada warga Cibinong untuk mengurusnya. Setelah PPJB dibuat notaris Makbul, dilanjutkan penandatangan akta PPJB  yang disaksikan Tri Rahardian Sapta Pamarta (anak Heru), Haryanto (pemilik) dan Suwarno (saksi). "Jadi di Hotel Sutan itu tak ada jual beli. Cuma penandatanganan dan sampai kini saya belum dibayar," ucapnya dan dibenarkan terdakwa Makbul bahkan dibuat surat pernyataan.

Diakuinya, Heru pernah memberi uang hingga 3 kali, namun bukan untuk pembayaran jual beli ruko melainkan untuk membeli kebutuhan Heru berupa renovasi villa di Gunung Geluis
Bogor dan jam tangan. "Jadi uangnya untuk kepentingan lain, bukan untuk membayar ruko. Saya punya catatannya kok dan itu semua diketahui Heru," tandasnya sambil menambahkan
hingga kini ruko belum dibayar, tapi kunci dan sertifikat ditangan jenderal bintang dua itu.

Sementara Bonar Sibuea, pengacara Hariyanto Latifah menjelaskan keterangan Irjen Pol. (Purn) Heru banyak kebohongan, penyimpangan dan tidak benar. Sebenarnya, itu bukan jual beli namun baru pengikatan jual beli. Saksi Heru mengaku sendiri tidak pernah bayar kepada pemilik sah Ruko Haryanto. "Nah, soal kunci dan sertifikat yang diterima Heru, itu cuma dititipkan sesuai kesepakatan dan ada tanda bukti terimanya. Seharusnya sebagai barang titipan ya harus dikembalikan," sambungnya.

Dilanjutkan, jika dibilang sudah dibayar oleh Heru, tentunya ada bukti - bukti kwitansi yang tentunya ditandatanani Hariyanto selaku pemilik sah. "Kan pemilik Ruko Harijanto.  Coba lihat sertifikat HGB tertulis atas nama masih Harijanto," ungkapnya.

Ditambahkan bukti kwitansi yang diajukan saksi Heru dipersidangan itu, ternyata kuitansi orang lain yang diakui sebagai pembayaran. "Ini kan nggak bener, mana ada hukum di dunia ini mengesahkan jual beli dengan membayar kuitansi palsu, milik orang lain lagi," sambungnya. o eee

Berita Lainnya
Senin, 08 Juli 2019
Jumat, 05 Juli 2019
Kamis, 04 Juli 2019
Rabu, 03 Juli 2019
Selasa, 02 Juli 2019
Senin, 01 Juli 2019
Sabtu, 29 Juni 2019
Jumat, 28 Juni 2019
Rabu, 26 Juni 2019
Selasa, 25 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
Jumat, 21 Juni 2019