Jumat, 20 Januari 2017

KPK Cekal Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar

KPK Cekal Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar

Beritabatavia.com - Berita tentang KPK Cekal Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencekal dua tersangka dugaan suap pengadaan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Mereka adalah ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencekal dua tersangka dugaan suap pengadaan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Mereka adalah mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo, Beneficial Owner Connaught International.

"Kami sudah melakukan pencekalan. Sudah beberapa hari yang lalu minta ke Dirjen (Direktorat Jenderal) Imigrasi," ujar Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif di gedung KPK, Jumat, 20 Januari 2017.

Kepala Bagian Humas dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Agung Sampurno menuturkan permintaan KPK telah diterima pada 16 Januari 2017. Sejak hari itu, Ditjen Imigrasi mengeluarkan surat cekal. "Sudah kami terima atas nama Emirsyah. Berlaku untuk enam bulan ke depan," kata Agung saat dihubungi. Untuk Soetikno, Agung belum bisa memastikan. "Nanti saya cek lagi."

KPK belum menahan kedua tersangka. Namun, status cekal itu membuat kedua tersangka tidak bisa ke luar negeri. Menurut perhitungan, surat cekal akan habis masa berlakunya pada 16 Juli 2017.

Emirsyah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan menerima suap dari Rolls-Royce, perusahaan produsen mesin asal Inggris, agar membeli mesin mereka dalam pengadaan mesin pesawat Airbus. Uang suap itu diberikan melalui Soetikno.

Suap itu diduga diberikan dalam rentang 2005-2014, saat Emirsyah masih menjabat sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia. Suap diberikan melalui transfer yang dilakukan beberapa kali sepanjang rentang waktu itu. "Sudah lebih dari satu kali," kata Syarif.

Total uang yang diterima Emirsyah adalah Euro 1,2 juta dan US$ 180 ribu atau setara dengan Rp 20 miliar. Chairman Matahari Mall itu juga diduga menerima suap dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta yang tersebar di Indonesia dan Singapura.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Emirsyah sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan di KPK. Menurut Laode, dia akan kembali diperiksa jika penyidik membutuhkan keterangannya. "

Dari kerja sama yang dilakukan dengan Serious Fraud Office (SFO), badan antikorupsi Inggris dan Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB) di Singapura, KPK menemukan bukti awal berupa komunikasi dan catatan perbankan.
"Tapi kami enggak bisa perlihatkan," kata Syarif.

Menurut Syarif, bukti-bukti yang diterima KPK dari SFO dan CPIB hanya untuk keperluan penyidikan dan bukti di pengadilan. Karena itu, KPK belum bisa menunjukkan detail bukti-bukti tersebut. o tmp









Berita Lainnya
Kamis, 24 Oktober 2019
Kamis, 24 Oktober 2019
Minggu, 20 Oktober 2019
Sabtu, 19 Oktober 2019
Jumat, 18 Oktober 2019
Rabu, 16 Oktober 2019
Selasa, 15 Oktober 2019
Senin, 14 Oktober 2019
Kamis, 10 Oktober 2019
Rabu, 09 Oktober 2019
Rabu, 09 Oktober 2019
Selasa, 08 Oktober 2019