Senin, 20 Maret 2017

Suami-Istri Pembuat Vaksin Palsu Dihukum 9 dan 8 Tahun

Suami-Istri Pembuat Vaksin Palsu Dihukum 9 dan 8 Tahun

Beritabatavia.com - Berita tentang Suami-Istri Pembuat Vaksin Palsu Dihukum 9 dan 8 Tahun

Hidayat  Taufiqurrohman dan istrinya Rita Agustina, terdakwa kasus pembuatan vaksin palsu, divonis 9 dan 8 tahun penjara, oleh majelis hakim di ...

Ist.
Beritabatavia.com - Hidayat  Taufiqurrohman dan istrinya Rita Agustina, terdakwa kasus pembuatan vaksin palsu, divonis 9 dan 8 tahun penjara, oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Bekasi, Senin (20/3) petang. Hukuman itu lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa yang menuntut keduanya hukuman 15 tahun.

Sementara lima terdakwa lainnya yakni Iin Sulastri dan Syafrizal selaku pengedar vaksin palsu, Agus Priyanto selaku produsen dan Mirza Sutarman selaku pemilik apotek sekaligus pengedar  divonis dari tujuh tahun hingga 10 tahun penjara, dalam sidang putusan pekan lali.

Marper Pandiangan, Ketua Majelis Hakim, membacakan putusan setelah mendengar kesaksian saksi dan terdakwa serta memperahtikan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
Sebelumnua JPU mendakwa keduanya dengan Pasal 196, 197, 198 Undang-Undang Nomor 36/2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun. Sebab, mereka memproduksi vaksin tanpa izin, serta vaksin yang dibuat tak sesuai standar. Selain itu, terdakwa didakwa dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen karena diduga menipu dengan memproduksi dan menjual vaksin palsu.

Menanggapi vonis hakim, penasihat hukum terdakwa , Rosiyan Umar, memastikan kliennya akan banding. “Seperti diawal, kalau pasal yang dikenakan itu soal kesehatan, kami banding,” ujar Sosiyan Umar.

Putusan yang dijatuhkan Majleis Hakim itu lebih ringan dibanding tuntutan JPU Kejaksaan Negeri Bekasi, tuntutan paling tinggi ialah 12 tahun penjara. Mereka didakwa dengan Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009.

Mereka yang sudah divonis itu; Muhammad Farid, pemilik apotek, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara (tuntutan 10 tahun penjara). Seno bin Senen, pembuat label vaksin palsu, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara (tuntutan 9 tahun penjara, denda Rp 300 juta subsider selama 3 bulan penjara).

Syafrizal, pengedar dan pembuat vaksin palsu, divonis 10 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara (tuntutan 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider 1 bulan penjara).

Iin Sulastri, pengedar dan pembuat vaksin palsu, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara (tuntutan 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider 1 bulan penjara) dan Irnawati, pengedar vaksin palsu, divonis 7 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara (tuntutan 12 tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara).

Dikatakan Adikawira, uang hasil bisnis ilegal itu diduga disamarkan asal-usulnya oleh terdakwa sehingga tuntutannya diarahkan pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang. "Latar belakang penetapan tindak pidana pencucian uang itu agar negara bisa menyita aset yang kini dimiliki para terdakwa," katanya.

Aset tersebut ada yang berupa klinik kesehatan, rumah, kendaraan, dan tanah. "Namun kami masih selidiki keberadaan aset-aset yang diduga hasil pencucian uang vaksin palsu," katanya. Selain penarikan aset, kata dia, sanksi bagi terdakwa pencucian uang juga akan dipenjara maksimal 20 tahun berikut denda Rp 1 miliar. "Kami targetkan berkas tindak pidana pencucian uang ini sudah diserahkan pada Pengadilan Negeri Bekasi pekan depan dan sidangnya bisa segera berjalan," katanya. o day


Berita Lainnya
Minggu, 12 Mei 2019
Jumat, 10 Mei 2019
Rabu, 08 Mei 2019
Selasa, 07 Mei 2019
Senin, 06 Mei 2019
Selasa, 30 April 2019
Senin, 29 April 2019
Minggu, 28 April 2019
Rabu, 24 April 2019
Selasa, 23 April 2019
Senin, 22 April 2019
Jumat, 19 April 2019