Beritabatavia.com -
Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala menilai yang menyebabkan seseorang menjadi penyodomi anak, mungkin karena pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecilnya.
Kasus psikopat-psikopat seperti Sartono alias Toni, yang mengaku menyodomi 96 anak, (meski yang sementara bisa dibuktikan oleh polisi adalah 16 anak), Babe alias Baekuni, kemudian Siswanto alias Robot Gedek juga dikatakan pernah mengalami pelecehan seksual saat anak-anak.
Sebenarnya baik laki-laki atau perempuan akan sangat terpukul jika mengalami pelecehan seksual. Perempuan yang diperkosa dan laki-laki yang disodomi akan sama terhinanya, bahkan sama-sama memiliki kecenderungan mengalami gangguan psikologis dan penyimpangan seksual. Namun ada hal yang membedakan antara perempuan yang dilecehkan dan laki-laki yang dilecehkan, ujarnya pada wartawan di Jakarta,
Selasa (18/1).
Dari beberapa kasus pemerkosaan terhadap perempuan, biasanya para korban akan mengalami guncangan psikologis yang menyebabkan mereka cenderung lebih menarik diri, menyalahkan diri sendiri, mengurung diri, dan lebih parahnya lagi menjadi gila lalu bunuh diri.
Juga, perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual juga cenderung mengalami penyimpangan seksual, tapi kecenderungannya lebih pada menutup diri pada lawan jenis, dan tidak menutup kemungkinan akan menolak melakukan hubungan seks, sekalipun dengan suaminya sendiri, katanya.
Sementara bagi lelaki, Adrianus melanjutkan, juga akan mengalami gangguan psikologis. Namun jika perempuan lebih pada menyakiti diri sendiri, laki-laki cenderung menyakiti orang lain.
Laki-laki yang pernah mengalami pelecehan seksual cenderung melakukan balas dendam, dengan meniru dan mengulang apa yang pernah dialaminya pada orang lain. Pada taraf yang tidak begitu parah mereka akan menjadi seorang gay, untuk menyalurkan hasrat seksualnya yang menyimpang.
Jika sudah pada 'stadium lanjut' diikuti dengan pembunuhan, bahkan mutilasi. Kita bisa melihatnya dari kasus Robot Gedek, dan Babe, para psikopat yang membalaskan dendam masa lalu mereka pada orang lain yang tidak bersalah. Celakanya, mereka mengincar korban yang dinilai mudah dibujuk dan dimanfaatkan, yaitu anak kecil, ungkapnya.
Adrianus khawatir pada nasib korban cilik. Mengingat, pelecehan seksual bukan hal yang mudah dilupakan begitu saja. Luka jiwanya akan terus ada seumur hidup.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya anak-anak itu 10 atau 20 tahun lagi. Mungkin giliran mereka yang menjadi headline berita, pungkasnya. O brn