Senin, 15 Agustus 2011 09:53:32

Idul Fitri dari Masa ke Masa

Idul Fitri dari Masa ke Masa

Beritabatavia.com - Berita tentang Idul Fitri dari Masa ke Masa

UNTUK pertama kali masyarakat negeri nusantara melaksanakan perayaan Idul Fitri pada akhir 1942. Sehingga perayaan tersebut sangat istimewa, karena ...

Idul Fitri dari Masa ke Masa  Ist.
Beritabatavia.com - UNTUK pertama kali masyarakat negeri nusantara melaksanakan perayaan Idul Fitri pada akhir 1942. Sehingga perayaan tersebut sangat istimewa, karena kali pertama diselenggarakan pada jaman penjajahan Nippon alias Jepang.
Perayaan Idul Fitri saat itu sangat bersejarah, karena telah membuat umat Islam mampu berdiri lebih tinggi, dan merasa lebih dihormati, khususnya saat melaksanakan Sholat Idul Fitri 1942.
Perayaan Idul Fitri saat itu sekaligus menjadi momentum untuk masyarakat Indonesia. Dalam hal membangun kebersamaan dan meningkatkan toleransi antar umat beragama.
Jika, masyarakat bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh bahagia, meskipun masih dijajah oleh Jepang. Tentu, kini kita sudah menjadi sebuah bangsa yang merdeka, akan dpat lebih bahagia untuk merayakan Idul Fitri.

Benteng Belanda   

Saat akan melaksanakan salat Idul Fitri, masyarakat datang berbondong-bondong ke Masjid Istiqlal. Dari mulai masyarakat biasa hingga pucuk pimpinan negeri ini selalu melaksanakan sholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal.
Tetapi, tidak banyak yang mengetahui lokasi berdirinya Masjid Istiqlal yang terbesar di Asia Tenggara, dahulunya adalah Benteng, saat masih jaman penjajahan Belanda.
Bangunan Benteng itu didirikan oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch pada 1834 dan diberi nama Benteng Frederik Hendrik. Posisinya saat itu terletak di luar tembok kota Batavia, tepatnya di tengah-tengah Taman Wilhelmina.

Setiap pagi dan malam kerap dibunyikan letusan meriam di benteng tersebut. Selain Itu, di atas benteng itu dipasang sebuah lonceng besar. Milik seorang pedagang arloji berdarah Belanda di Rijswijk (Jln Veteran). Nama toko arloji itu Van Arken.
Selain benteng, di Taman Wllhelmina juga pernah berdiri monumen untuk memperingati serdadu Belanda yang tewas pada perang Aceh. Nama monumennya. Atjeh Monument. Di sekitar itu juga pernah dibangun benteng kecil yang usianya lebih tua dibandingkan Benteng Frederik Hendrik, yakni kubu pertahanan Noordwijk (Jalan Ir Juanda) yang dibangun di tahun 1657.

Benteng itu diperkirakan terletak di halaman Masjid Istiqlal kini, yakni di antara jalan kereta api dan Sungai Ciliwung di sebelah barat jalan Pos. Adolf Heuken dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (1997). disebutkan di luar kota Batavia dibangun kubu pertahanan, yakni Noordwijk.
Kubu pertahanan itu pernah digambar oleh J Rach pada abad ke-18. Berdasarkan gambar J Rach itu benteng terletak di persilangan Jalan Ir H Juanda dan jalan layang kereta api.
Pagar di sebelah kanan diperkirakan segaris dengan permulaan halaman Masjid Istiqlal sekarang. Pintu air yang digambarkan di tengah-tengah lukisan tersebut saat ini masih ada dan masih berfungsi sebagai pintu air.
Pos-pos pertahanan itu sangat dibutuhkan kompeni untuk menjaga ketenteraman dan kestabilan di wilayahnya. Pasalnya, sisa-sisa tentara Kerajaan Mataram kerap menjelajah daerah tersebut.

Masjid Istiqlal Lambang Kerukunan

Proses pembangunan Masjid Istiqlal sempat menuai perbedaan pendapat antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Presiden Bung Karno  menentukan lokasi Masjid Istiqlal dibangun di Taman Wilhelmina , sementara Bung Hatta memilih  di sekitar Thamrin. Menurut Bung Hatta, membangun Masjid di taman itu akan membongkar bangunan benteng yang menelan biaya tinggi.
Namun, keputusan di tangan Bung Karno. Masjid Istiqlal dibangun di lahan bekas benteng Belanda, berseberangan dengan Gereja Katedral. Bung Karno berharap masjid dan gereja saling berdampingan itu dapat menunjukkan kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

Wisata Hari Raya

Taman Kebun Binatang Cikini (KBC) sudah berdiri sejak 1864 dengan nama Planten En Dlerentuln yang artinya tanaman dan kebun binatang.
Tempat tersebut sudah lama menjadi tempat wisata yang paling banyak diserbu orang. KBC berada di atas lahan seluas 10 Ha milik pelukis terkenal Raden Saleh. Planten En Dlerentuln dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna di Jakarta (Culturule Verenlging Planten en Direntuin at Batavia ).
Selepas proklamasi kemerdekaan, tepatnya tahun 1949, nama Planten En Dierentuln diganti menjadi Kebun Binatang Cikini. Untuk pergi ke KBC dulu cukup dengan naik opelet becak atau trem listrik. Maklum ketika itu mobil pribadi hanya milik orang-orang kaya. Bahkan sepeda motor Jumlahnya baru ratusan di Jakarta.

Tahun 1950-an, mobil merek Opel dijadikan angkutan penumpang. Makanya namanya opelet. Tak sedikit pula masyarakat yang berekreasi dengan naik sepeda. Apalagi pemerintahan kolonial Belanda membuat jalur khusus untuk sepeda, sehingga berkendara naik kereta angin di Jakarta jaman itu benar-benar nyaman.
Alwi Shahab, budayawan Betawi, menceritakan, di Kebun Binatang Cikini sering digelar panggung musik pada akhir pekan dan hari libur. Pengisi acara yang populer adalah grup lawak Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, dan Iskak.

Tempat rekreasi lain yang dipadati penduduk Jakarta di waktu Lebaran pada masa lalu adalah Pantai Zaandvoord. yang berlokasi sekitar tiga kilometer dari Pantai Ancol. Orang Belanda di Batavia Itu rupanya terkenang-kenang dengan sebuah pantai panjang di kampung halamannya sono, yang berada di Provinsi Zandvoort Pantai di sisi utara negeri keju Itu sudah jadi kawasan pesiar sejak tahun 1100.

Berhubung lidah kebanyakan penduduk bumiputra sulit mengucap Zaandvoord, maka namanya jadi Sanpor dan akhirnya Sanipur. Nama itu yang justru ngetop sampai beberapa tahun lalu, sebelum pantai itu hilang tahun 1994 terkena perluasan Pelabuhan Tanjungpriok.
Sebelum tercemar Pantai Zaandvoord sangat nikmat, untuk tempat mandi, apalagi masuknya zonder betalen alias masuk gratis. Para pengunjung tinggal menggelar tikar untuk makan lesehan setelah berenang sepuasnya. Noni-noni Belanda pun gemar jalan-jalan di pantai ini.
Untuk menuju pantai Zaanvoord, bisa dengan mengendarai sepeda beramai-ramai. Atau naik kereta api sampai stasiun Tanjungpriok, dan dilanjutkan dengan naik becak. Dengan hilangnya Pantai Sampur berarti berkurang satu pantai gratis di Jakarta.0 berbagai sumber/son








Berita Lainnya
Selasa, 21 Juli 2026
Senin, 20 Juli 2026
Minggu, 19 Juli 2026
Jumat, 17 Juli 2026
Kamis, 16 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Selasa, 07 Juli 2026
Senin, 06 Juli 2026
Sabtu, 04 Juli 2026
Sabtu, 04 Juli 2026
Kamis, 02 Juli 2026