Beritabatavia.com -
Pemerintah DKI memang terkenal lambat dalam menangani sampah. Contohnya di Jakarta Selatan, baru belakangan ini keluar instruksi agar seluruh lurah di Jaksel diharapkan memiliki bank sampah sebagai antisipasi sampah buangan tersebut. Padahal para LSM lingkungan hidup sudah mengusulkan hal tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Saya sudah ingatkan seluruh kelurahan minimal memiliki satu bank sampah agar masalah kebersihan lingkungan paling tidak dapat ditangani dengan cepat, kata Walikota jaksel Anas Efendi didampingi Kasudin Kebersihan setempat Zainuri dan Kasie Pengembangan Peran serta Masyarakat Sudin Kebersihan setempat Korel Buyung.
Menurut dia, program satu kelurahan memiliki satu bank sampah merupakan salah satu kegiatan Pemda DKI Jakarta dalam antisipasi mengurangi volume sampah setiap hari yang dihasilkan dari limbah rumah tangga maupun lainnya.
Zaenuri menambahkan dari data yang ada bank sampah di Jaksel baru ada di 20 titik saja tapi masih perlu ditangani dengan baik serta ditata ulang sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan dari 20 titik hanya delapan titik bank sampah yang berjalan dengan baik antara lain di RW 12, Kel. Kebayoran Lama Selatan, RW 03 Kel. Rawajati, RW 05 Kel. Jagakarsa, RW 09 Kel. Pejaten Timur, RW 01 Kel. Gandaria Utara dan RW 02 Kel. Pasar Minggu.
Keberadaan bank sampah, tambah dia, tentunya sangat membantu pengurangan volume sampah yang hampir setiap hari sekitar 1.318 ton dan diharapkan dapat mengurangi sekitar 25 persen sampah buangan setiap hari dengan kehadiran bank sampah tersebut.
Kesulitan lain, tambah dia, adalah penempatan bank sampah di setiap kelurahan yang harus menempatkan persetujuan warga sekitar yang akan ditempati lokasi bank sampah tersebut. Belum lagi karena harus ada penelitian amdal, pelatihan penangganan, peralatan dan sumber daya manusia. Selain itu harga pengolahan bank sampah lumayan mahal minimal sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. O brn