Beritabatavia.com -
Mau tidak mau, pencalonan Joko Widodo sebagai presiden RI oleh PDIP menjadi isu publik yang hangat diperbincangkan, baik oleh masyarakat maupun politisi. Bahkan hal tersebut sesaat direspon positif oleh pasar dengan menguatnya indeks harga saham dan
menguatnya rupiah. Media menyebut hal tersebut sebagai 'Jokowi effect'.
Peneliti dari The Indonesian Institute, Anas Syahroni mengatakan, banyak yang menyambut positif namun juga banyak yang menanggapi hal tersebut dengan miring. Mengingat Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta periode 2012 hingga 2017 yang dipilih secara langsung dalam Pilkada DKI Jakarta yang berarti Jokowi mengemban amanat untuk memimpin dan melayani warga Jakarta.
Jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta Jokowi resmi dilantik menjadi Gubernur DKI pada 15 Oktober 2012 setelah menang dalam Pilkada DKI tahun 2012 yang itu berarti hingga
saat ini usia jabatannya belum genap 1,5 tahun. Namun, sebelum masa jabatan itu berakhir, Jokowi menyatakan kesiapannya untuk didukung oleh PDIP untuk menjadi calon presiden dalam Pilpres 2014.
Hal serupa pernah dilakukan Jokowi ketika mengundurkan diri sebagai Walikota Solo dan kemudian menjadi Gubernur DKI pada tahun 2012. Ketika itu adalah periode kedua Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo periode kedua yang seharusnya dijabat dari tahun 2010 hingga 2015.
Jika membandingkan apa yang terjadi pada tahun 2012 dimana Jokowi meninggalkan jabatan Walikota Solo dan menjadi Gubernur DKI dengan apa yang akan terjadi pada tahun 2014 ini dimana ia akan meninggalkan jabatan Gubernur DKI jika terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia adalah suatu yang berbeda.
Ditilik dari masa jabatan, Jokowi hingga tahun 2012 telah menjalankan total masa jabatannya sebagai Walikota Solo selama tujuh tahun. Sedangkan jika Jokowi berhasil menjadi presiden, maka Jokowi meninggalkan posisi sebagai Gubernur DKI hanya dalam
masa 2 tahun.
Tentu sangat jauh berbeda membandingkan performa dan kinerja tujuh tahun dan dua tahun. Jokowi dinilai cukup berhasil pada lima tahun pertama menjabat sebagai Walikota Surakarta. Bahkan pada ketika ia maju dalam pilkada untuk masa jabatannya sebagai
walikota kedua kali, ia menang dengan perolehan 90 persen suara.
Itu menggambarkan bagaimana masyarakat Kota Solo sangat puas dengan kinerjanya selama lima tahun pertama.
Jakarta Masih AmburadulDibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Jokowi di Jakarta dalam kurun waktu kurang dari dua tahun saat ini tentu jauh berbeda. Masih banyak masalah dan program yang belum selesai di Jakarta. Seperti program untuk mengurangi kemacetan dengan program pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dan proyek Monorel, serta 15 koridor busway yang belum selesai.
Bahkan program tersebut sebagian bermasalah dalam pelaksanaannya, seperti masalah dalam pengadaan bus yang didatangkan dari Tiongkok, kemudian pembangunan monorel yang seperti jalan ditempat.
Kemudian kebijakan untuk melakukan reformasi birokrasi, di antaranya, pergantian pejabat dinas dan walikota, sistem lelang jabatan, dan transparansi anggaran dan inspeksi mendadak. Namun hal itu juga belum benar-benar tuntas, seperti indikasi kasus korupsi
dalam pengadaan bus Trans Jakarta yang dilakukan oleh birokrat terkait.
Banyak pihak bersuara miring soal pencapresan Gubernur DKI Jokowi. Namun faktanya, survei menunjukkan mayoritas warga DKI setuju pencapresan Jokowi. Survei yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik menunjukkan bahwa 69 persen warga DKI mendukung pencapresan Jokowi. Bahkan di tingkat nasional masyarakat yang setuju dengan pencapresan Jokowi mencapai 76 persen.
Akan tetapi dengan mempertimbangkan ekspektasi masyarakat Indonesia secara umum terhadap Jokowi yang sangat besar dan kerelaan warga Jakarta, seperti yang tergambar dari hasil survei-survei diatas, maka sebenarnya tidak masalah jika Jokowi
mengorbankan jabatan Gubernur DKI dan menjadi capres harapan masyarakat.
Jokowi menjadi pilihan yang saat ini dianggap lebih baik dibanding dengan beberapa kandidat lain dalam bursa wacana capres. Jokowi dianggap setidaknya telah bekerja keras dan berusaha melakukan perubahan.
Hal yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah popularitas Jokowi yang sangat tinggi saat ini dibanding dengan tokoh lain. Kesempatan ini adalah kesempatan yang sangat baik dan belum tentu akan datang kembali. Tidak ada jaminan pada pilpres lima tahun lagi, Jokowi memiliki popularitas seperti saat ini baik secara nasional maupun di dalam intenal PDIP. O brn