Beritabatavia.com -
'Tak ada yang dapat menjawab, kita hanya sujud dan tunduk pada Nya
Penggalan syair lagu Ebiet Geade mengingatkan tragedi kemanusiaan akibat tsunami di Aceh pada 2004 silam . Hingga tragedi kepiluan yang tiada tara yang menimpa warga Aceh, digambarkan hampir semua media massa dengan tajuk Indonesia Menangis. Apakah ancaman tsunami sudah berakhir ?
Bencana alam seperti gempa dan tsunami merupakan peristiwa perulangan perjalanan sebuah sejarah, seperti rentetan gempa dan tsunami yang berulang kali terjadi di Indonesia. Nyaris, Indonesia setiap tahun diguncang gempa, setidaknya dalam kurun waktu 96 tahun (1900-1996) telah terjadi 17 kali bencana tsunami besar di indonesia.
Berdasarkan catatan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sebanyak 28 wilayah di Indonesia yang termasuk katagori rawan gempa dan tsunami. Diantaranya NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, JawaTengah dan DIY bagian Selatan. Selanjutnya, wilayah Jawa Timur bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. Sementara di bagian utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Balikpapan (Kalimantan Timur), Yapen dan Fak-Fak di Papua.
Potensi ancaman itu disebabkan, wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sementara lempengan itu sewaktu-waktu bisa bergeser dan dipastikan akan menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.
Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin Api Pasifik (CAP) membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. CAP membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Kemudian zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik yang amat terkenal,karena setiap terjadi gempa hebat atau tsunami dikawasan tersebut, dipastikan menelan korban jiwa manusia sangat banyak. Itujuga sangat berpengaruh dengan Indonesia yang memiliki gunung berapi kurang lebih 240 buah, dan 70 di antaranya masih aktif.
Upaya Pencegahan Korban Jiwa Hingga saat ini belum ditemukan metoda atau ilmu pengetahuan yang dapat memastikan kapan akan terjadi gempa atau tsunami.Upaya yang dapat dilakukan hanya sebatas memberikan informasi awal atau melakukan sistem peringatan dini atau (early warning sytem). Dimana Sistem ini berfungsi sebagai alarm, guna mencegah agar tidak menimbulkan korban jiwa. Implementasi sistem ini bisa diterapkan dengan memasang rangkain seismograph yang tersambung dengan satelit. National Ocean and Atmospheric Administration (NOAA) USA , telah menggunakan sensor DART (Deep Oceaan Assesment and Reporting) yang mampu mengukur perubahan gelombang laut akibat gempa tektonik. Alat-alat pendeteksi gempa langsung diletakkan pada daerah-daerah rawan gempa. Alat-alat pendeteksi dipasang dipantau setiap hari oleh petugas teknis yang berada di daerah bersangkutan, lalu mengirimkannya ke pusat untuk diolah dan dianalisis lebih lanjut oleh para pakar yang memang ahli di bidangnya.
Kepala Badan Geologi Departemen ESDM R Sukhyar mengatakan, setiap hari pihaknya mencatat terjadinya gempa dengan skalanya beragam. Menurutnya, terjadinya gempa juga berkaitan dengan sesar aktif. Di antaranya sesar Sumatera, sesar Palu, atau sesar yang berada di Papua. Ada juga sesar yang lebih kecil di Jawa seperti sesar Cimandiri, Jawa Barat.
Sementara staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief mengatakan, ada dua upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah dampak atau korban akibat gempa.
Pertama, pendekatan struktural yakni mengikuti kaidah-kaidah konstruksi yang benar dalam mendirikan bangunan. Dalam arti menciptakan bangunan tahan gempa.
Kedua, pendekatan nonstruktural dengan membuat peta rawan bencana gempa. Informasi potensi gempa ini dimasukan dalam perencanaan wilayah.
Ancaman gempa dan tsunami menjadi kekhawatiran semua bangsa, seperti tragedi yang menelan korban ratusan ribu jiwa saat tsunami di Aceh dan sebagian wilayah sumatera utara pada 2004. Kemudian, gempa di pulau Nias dan sekitaranya yang terjadi pada 2005 pada peristiwa ini ribua jiwa manusia jadi korban. Peristiwa gempa juga terjadi pada akhir Mei 2006 di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah dan menewaskan sekitar 5000 orang. Disusul dengan gempa berkekuatan diatas tujuh (7) skala richter melanda Padang, Sumatera Barat pada akhir 2009 lalu. Selanjutnya gempa menguncang bumi Bengkulu-Jambi. O berbagai sumber/son