Beritabatavia.com -
Jangan sekali-kali meninggalkan /melupakan sejarah yang popular disebut Jasmerah. Menjadi semboyan terkenal yang disampaikan Presiden RI pertama Soekarno (Bung Karno) dalam pidatonya saat memperingati HUT Kemerdekaan RI,pada 17 Agustus 1966 silam.
Semboyan terkenal Presiden pertama RI, yang biasa disapa Bung Karno itu, benar. Suatu bangsa tidak akan pernah ada tanpa sejarahnya. Sejarah bukanlah sekedar masa lalu, bukan pula sekedar menjaga dan melestarikan tradisi. Sejarah adalah proses perjuangan dalam suatu masa untuk memperjuangkan dan meneruskan hidup dan kehidupan.
Sebab, kejayaan, kemapanan, kemajuan adalah perjuangan yang membutuhkan proses panjang untuk terus dapat hidup tumbuh dan berkembang dalam kehidupan.
Kebangkitan nasional diperingati bukanlah sekedar upacara dan setelah itu pulang atau melanjutkan aktivitas masing-masing.
Tetapi, kebangkitan nasional adalah proses perjuangan panjang para anak bangsa yang memiliki nyali, idealisme, semangat serta rela untuk membaktikan dirinya bagi negeri yang dicintainya.
Mereka bisa saja bekerja sama dengan kaum kolonial dan mendapat fasilitas aman, mapan, nyaman terjamin dan bisa hidup senang. Namun mereka memilih kritis karena sadar bahwa bangsanya hanya dijadikan budak dan sapi perahan. Mereka hanya menguras sumber daya bangsa ini bagi negerinya.
Anak-anak muda bernyali ini memiliki mimpi, dan berani mewujudkan mimpinya bagi negeri ibu pertiwi. Tidak lagi ngeri menghadpi moncong senjata atau jeruji penjara. Tidak lagi memikirkan diri sendiri dan keluarganya. Kerelaan, keberanian serta pengorbanannya menjadi benih bagi bangsa ini merdeka. Menjadi bangsa yang merdeka dan memimpin bangsanya sendiri. Berdikari, mandiri pasti!!!!
Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu,seperti saat ini, kita melihat banyak yang sudah menanggalkan dan melupakan jasmerah. Sejarah dianggapnya lapuk yang merupakan barang-barang musium kuno. Justru yang tumbuh dan berkembang adalah generasi-generasi yang cinta jabatan bukan cinta negeri dan bangsanya. Generasi "generasi yang sekedar menjadi boneka hedonisme keduniawian. Takut dengan kemapanan dan kenyamananya.
Pasca kemerdekaan, Jasmerah mengingatkan, bahwa musuh bangsa adalah bangsa ini sendiri. Karena generasi-generasi penerus teracuni mental-mental pencari selamat, mental-mental penjilat dan pencari kenikmatan.
Lupa akan kemanusiaan. Tetapi menggunakan kekuasaan untuk kesenangan diri serta kroni. Ingat kembali jasmerah. Bangsa yang lupa akan sejarahnya akan runtuh dengan sendirinya.
Sejarah menunjukkan hanya orang-orang bernyali yang mampu mewujudkan mimpinya bagi ibu pertiwi, dan merekalah yang dikenang abadi.O Kombes DR CdL