Beritabatavia.com -
Peradaban ada bersamaan dengan hidup dan kehidupan manusia yang selalu menjadi pembahasan dan dijadikan issu dalam berbagai topik.
Peradaban merupakan sesuatu yang absurd namun dapat dilihat dari pikiran, perkataan dan perbuatannya. Ke tiga hal tersebut ada pada koridor kewarasan.
Waras dalam konteks tidak gila, bermakna ada nalarnya. Nalar yang memahami sejarahnya, pada kekinian dan masa depan, yang berkaitan dengan empati, bela rasa, tanggung jawab, kesadaran, kepedulian.
Semua itu memerlukan pemahaman bukan sebatas mengetahui saja. Manusia sebagai mahkluk sosial, ia memerlukan manusia-manusia lainnya.
Dalam kehidupan sosialnya kewarasan manusia ini ditunjukkan adanya upaya-upaya meningkatkan kualitas hidup sesamanya.
Refleksi peradaban ada pada kelakuan? Bisa saja demikian terutama pada tempat-tempat umum.
Semakin tinggi peradabannya akan semakin sadar mematuhi kesapakatan-kesepakatan yang dibuatnya (peraturan, hukum, nilai, moral dan sebagainya). Keteraturan di tempat umum menunjukkan kemampuanya menata dan mengendalikan kelakuan-kelakuan buas manusia.
Menyelesaikan konflik dengan cara-cara beradab (bukan dengan anarkis). Menghormati hak hidup orang lain, memikirkan lingkungan alam, tempat tinggal dan berbagai kebutuhan sosial lainya. Mengedukasi kesepakatan-kesepakatan menjadi suatu habit atau kebiasaan.
Pikiran, perkataan dan perbuatan yang terintegrasi dalam kelakuan menjadi refleksi peradaban.
Semakin tinggi maka semua unsur dari kelakuan akan semakin meningkat kompetensi dan pengendaliannya. Apa yang menjadi kelakuannya sebagai problem solving, penghargaan atas mahkluk hidup,hidup dan kehidupanya.
Apa saja yang dipikirkan dikatakan dan dilakukan akan semakin penuh dengan kesadaran dan upaya-upaya untuk semakin memanusiakan manusia.O Kombes DR CdL