Beritabatavia.com -
Identitas merupakan potret yang dapat menjelaskan jati diri seseorang atau sebuah bangsa. Identitas menjadi kunci dari pelayanan, perlindungan, jaminan, pertanggungjawaban dan penegakan hukum. Identitas yang beragam akan memberi banyak peluang untuk menyimpang.
Banyak yang tidak mau tahu atau selalu ingin mempertahankan cara lama. Dengan harapan masih bisa bermain di sana dan melakukan di sini tanpa diketahui.
Apabila pola pikir kucing-kucingan terus membudaya di kalangan ndoro-ndoro maka akan menjadikan birokrasi penuh tipu daya yang akan ditiru oleh stake holder lainya.
Seharusnya para ndoro-ndoro membangun dan menularkan pembudayaan atas kemampuan berpikir untuk bangga bila patuh aturan dan malu bila melanggar, sebab itulah merupakan pokok dari revolusi mental.Sehingga pertanyaannya, apakah ndoro tidak mau atau tidak mampu ?
Apabila para ndoro masih sering menggunakan pola berpikir kucing-kucingan. Hingga bertindak bagai kucing garong yang terang-terangan mengutamakan, aku entuk piro? Bahkan, tanpa malu lagi, dari minta pulsa sampai minta saham pun tega dilakukan.
Dengan demikian sebenarnya siapa yang harus di revolusi mentalnya, apakah para ndoro atau kaum bawahan?
Bawahan itu istilahnya hanya mengekor menginthili ndoronya. Sejatinya, para ndoro-ndoro inilah yang menjadi akar dari segala system macet hingga mangkrak. Atau dari tak mampu sampai tidak mau.
Sistem singgle identity menjadi syarat utama, selain membantu membongkar pemain kucing-kucingan dan para kucing garong, sekaligus mampu memberikan pelayanan prima. Mental kucing-kucingan para kucing garong akan terus menjadi benalu karena bersekongkol dengan para tikus-tikus pengerat dan penggerogot.
Tatkala mental sang ndoro bukan mental kucing garong, perubahan menuju single identity akan mampu dilakukan. Sebaliknya jika masih kucing-kucingan dan bersekongkol dengan para tikus untuk merefleksikan kekucing garongannya dapat dipastikan tidak akan mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.O Kombes DR CdL