Beritabatavia.com -
Pandir Kelana, berkeliling ke semua penjuru, ia bukan blusukan melainkan ia mencari pengetahuan. Walaupun dirinya dianggap orang Pandir namun dia tidak mempedulikanya. Ia terus saja mencari pengetahuan ke mana saja.
Tatkala ia sampai di sebuah negeri 1001 konflik ia tertegun dan berpikir ada apa di negeri ini? Mengapa konflik direkayasa? Mengapa yang suci dinistakan oleh kaum-kaum yang terpilih dalam kesucian itu sendiri ?
Si Pandirpun berkeliling ke sana kemari, ia senang melihat banyak tempat suci, dalam hati ia bertanya di mana orang-orang sucinya ?
Kalau banyak tempat suci berarti negeri ini gudangnya orang suci ? Kalau menjadi gudangnya orang suci, mengapa konflik terus terjadi? Kepala si Pandir Kelana semakin puyeng tatkala kebencian ditabur sembarangan dalam sudut-sudut perbincangan.
Si Pandir Kelana pun berpikir, apakah negeri 1001 konflik juga mengkonflikan siapa yang paling benar. Siapa yang paling terdepan untuk menjdi penghuni surga? Bisa jadi demikian, semua merasa benar.
Si Pandir juga heran, mengapa kebanggaan dalam konfliknya ditandai dengan darah, pembakaran, pengrusakan? Adakah mereka lebh pandir dari padaku ?
Pandir Kelana dianggap orang yang kurang sesendok berpikiran cupet bahkan sering konyol perilakunya. Namun di negeri 1001konflik ia merasa lebih waras dari apa yang dipelajarinya.
Ia tertawa terbahak bahak melihat konflik-konflik yang ada. Mungkin saja negeri ini design oleh warganya atau orang lain agar negeri 1001 konflik selalu memamerkan ketololannya.
Pandir Kelana merasa nyaman dan ia merasa pandai sekarang tidak perlu berkelana lagi. Ia menemukan negeri dimana ia merasa pandai untuk bisa menjadi guru di situ. O Kombes DR Chrysnanda DL