Selasa, 28 Februari 2017

1.198 Rumah di Pejaten Timur dan Cawang Tergenang

1.198 Rumah di Pejaten Timur dan Cawang Tergenang

Beritabatavia.com - Berita tentang 1.198 Rumah di Pejaten Timur dan Cawang Tergenang


SEDIKITNYA 1.198 rumah dihuni 1.198 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan Kelurahan ...

Ist.
Beritabatavia.com -
SEDIKITNYA 1.198 rumah dihuni 1.198 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, terdampak langsung luapan Sungai Ciliwung. Sehingga pemukiman mereka tergenang banjir dengan ketinggian antara 10 hingga 70 sentimeter (cm).

"Banjir menggenangi pemukiman warga di dua kelurahan ini dikarenakan naiknya debit Sungai Ciliwung di Pintu Air Depok hingga Level Siaga 3 pada Senin sore. Kondisi ini mengakibatkan pemukiman yang berada di bantaran sungai tergenang banjir akibat luapan sungai," papar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (28/2).

Genangan atau banjir di Kelurahan Pejaten Timur terjadi di RW 06, RW 07 dan RW 08 dengan tinggi banjir 30 " 70 sentimeter sejak Senin (27/2) pukul 19.00 WIB. Sebanyak 20 KK mengungsi di ruko. Sebelumnya aparat Kelurahan Pejaten Timur telah memberitahukan kepada warga akan adanya luapan Sungai Ciliwung. Sedangkan genangan atau banjir di Kelurahan Cawang merendam permukiman di RW 001, RW 002, RW 03, RW 05, dan RW 08 sejak Senin pukul 19.00 WIB.

Sebanyak 1.178 KK (3.832 jiwa) terdampak langsung dari banjir setinggi 10
" 60 centimeter. "Masyarakat tetap bertahan di rumahnya. Tidak mau mengungsi karena beranggapan sudah biasa mengalami banjir," ujarnya.

Dilanjutkan, masyarakat di sekitar bantaran Sungai Ciliwung sudah memiliki daya antisipasi menghadapi banjir. Bagi mereka, banjir bukan sesuatu hal yang baru karena setiap tahun pasti mengalami banjir sehingga wargan sudah memiliki mekanisme untuk mengantisipasi banjir. Saat terjadi kenaikan debit Sungai Ciliwing atau status Siaga naik, maka sistem peringatan dini disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai moda, seperti sms, whatsapp, kentongan, sirine atau pemberitahuan melalui masjid.

"Sebelumnya masyarakat juga sudah menempatkan perabotan rumah tangga dan barang-barang berharga di lantai dua, sedangkan lantai satu. Sebagian besar masyarakat sulit diminta mengungsi, kecuali banjirnya tinggi dan membahayakan mereka akan mengungsi di tempat yang aman," terangnya.

Menurutnya, banjir yang kerap kali melanda pemukiman yang berada di bantaran Sungai Ciliwung ini dikarenakan belum selesainya normalisasi sungai Ciliwung. Sehingga, setiap terjadi kenaikan debit sungai, pasti akan menyebabkan genangan atau banjir masih sering terjadi.

Karena itu, Sungai Ciliwung perlu dilebarkan dan dikeruk agar debit sungai meningkat. Agar normalisasi Sungai Ciliwung dapat berjalan lanjar, maka pemukiman yang ada di bantaran sungai, bahkan banyak rumah yang dibangun di dalam sungai harus dipindahkan ke tempat yang lebih aman, kemudian sungai ditata kembali. "Permukiman dan masyarakat di sekitar sungai juga perlu ditingkatkan kapasitasnya dan diberdayakan agar ikut menjaga sungai dengan baik," pungkasnya. o day
Berita Lainnya
Sabtu, 28 September 2019
Kamis, 26 September 2019
Minggu, 22 September 2019
Jumat, 20 September 2019
Senin, 16 September 2019
Minggu, 15 September 2019
Sabtu, 14 September 2019
Selasa, 10 September 2019
Senin, 09 September 2019
Kamis, 05 September 2019
Rabu, 04 September 2019
Senin, 02 September 2019