Minggu, 29 Agustus 2010 13:43:15

PKL Tanah Abang Dipungli 2 juta

PKL Tanah Abang Dipungli 2 juta

Beritabatavia.com - Berita tentang PKL Tanah Abang Dipungli 2 juta

Kesemrawutan dan kemacetan sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan Tanahabang, Jakarta Pusat, khususnya menjelang Lebaran ini. Keberadaan ...

PKL Tanah Abang Dipungli 2 juta Ist.
Beritabatavia.com - Kesemrawutan dan kemacetan sudah menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan Tanahabang, Jakarta Pusat, khususnya menjelang Lebaran ini. Keberadaan pedagang kaki lima (PKL), aktivitas bongkar muat barang, dan parkir liar menjadi penyebab utama kesemrawutan di kawasan perekonomian tersebut.
Meskipun berdagang di bahu jalan, bukan berarti PKL bisa mendapatkan lapak secara gratis. Sebab, untuk bisa berdagang PKL harus membayar uang hingga Rp 2 juta /bulan ke sejumlah oknum di kawasan tersebut.
Ya, upaya menertibkan kawasan pusat grosir terbesar di Indonesia itu pun tampaknya tidak pernah berjalan mulus. Karena usai ditertibkan, PKL akan datang lagi ke tempat tersebut. Seperti di Jl Wahid Hasyim, Tanahabang. Selain PKL, aktivitas jasa ekpedisi dan parkir liar makin memperburuk keadaan. PKL di kawasan itu seakan menjadi usaha yang legal, terlebih sejumlah PKL mengaku membayar retribusi kebersihan sebesar Rp 500-Rp 1.000 per hari kepada petugas yang mengaku dari kelurahan.
Kita mangkal di sini memang tak dipungut bayaran, tapi kita nyumbang uang kebersihan sebesar Rp 500 sampai Rp 1.000 per hari, kata Jaja (40) seorang pedagang makanan. Minggu (29/8).
Berbeda dengan kondisi Jl KH Wahid Hasyim, di Jl Raya Tanahabang-Jatibaru, atau jalan tembusan Jalan KH Mas Mansyur mengarah ke Terminal Tanahabang kondisinya lebih parah lagi. Seluruh badan jalan raya, nyaris tertutup lantaran dipenuhi oleh PKL yang menjual pakaian, pernak-pernik, hingga makanan.
Ironisnya, melihat kondisi jalan yang kian semrawut, petugas keamanan dari pihak pengelola pasar atau pun pihak keamanan dari kepolisian seolah mendiamkan ketidaktertiban tersebut. Akibatnya, kawasan yang pada hari biasa selalu dipadati kendaraan, kian tak terjangkau lalu lalang kendaraan di saat bulan Ramadhan ini karena kemacetan yang semakin kronis.
Supriatna (34) pedagang pakaian di Jl Raya Tanahabang-Jatibaru mengaku pada hari biasa, pedagang yang ada jumlahnya tak sebanyak saat bulan Ramadhan. Kalau hari biasa pedagang menggelar lapak lebih ke pinggir, tapi bulan Ramadhan ini, pedagang memenuhi jalan sampai ke tengah jalan, kata pria yang akrab disapa Supri ini.

Supri, mengaku untuk berdagang di situ pedagang tidak mendapatkannya secara cuma-cuma. Pedagang, lanjut Supri, dipungut biaya lapak sebesar Rp 1,5 sampai Rp 2 juta selama bulan Ramadhan, di samping uang kebersihan sebesar Rp 1.000 rupiah per hari. Kalau saya sendiri lapaknya kecil dan letaknya di pinggir, jadi cuma bayar Rp 1,5 juta, ucapnya.

Berbeda dengan Supri, Hamid (31) mengaku harus membayar lapak sebesar Rp 2 juta rupiah. Pria yang bermukim di Petamburan ini mengaku uang lapak dibayar pada awal berjualan, atau dapat dicicil dua kali kepada seorang pria yang mengkoordinir para PKL yang mangkal di Jl Raya Tanahabang-Jatibaru.

Humas PD Pasar Jaya, M Nur Hafidz mengaku, PKL yang menggelar usaha di jalan tidak ada kaitannya dengan PD Pasar Jaya. Dia pun memastikan tak ada campur tangan yang dilakukan oleh petugas PD Pasar Jaya, termasuk penarikan retribusi kepada pedagang yang berada di jalan.
Pedagang di luar tak ada kaitannya dengan kita, tapi kalau pedagang kaki lima yang berada di dalam area Pasar Jaya, itu memang diberikan toleransi selama Ramadhan untuk berjualan, ujarnya. O bjc/brn

Berita Lainnya
Kamis, 21 September 2023
Rabu, 13 September 2023
Selasa, 29 Agustus 2023
Kamis, 17 Agustus 2023
Senin, 12 Juni 2023
Minggu, 19 Maret 2023
Jumat, 17 Februari 2023
Sabtu, 11 Februari 2023
Rabu, 14 Desember 2022
Sabtu, 19 November 2022
Jumat, 17 Juni 2022
Selasa, 19 April 2022