Beritabatavia.com -
Ratusan warga di Kel. Petogogan, Pela Mampang, Bangka dan Cipete Utara yang bermukim di pinggir Kali Krukut meminta Pemprov DKI tak hanya menyalahkan warga yang memiliki rumah di kawasan tersebut. Namun, lebih memperhatikan pengembalian fungsi lahan seperti waduk di dekat apartemen Kintamani, saluran air pembuangan dan lahan latihan lapangan golf Brawijaya.
Sosialisasi berkaitan dengan penertiban bangunan di pinggir Kali Krukut sebagai salah satu alternatif mengurangi banjir luapan air tersebut jangan tebang pilih, kata Ny. Mahaga, warga Pulo Raya, Kel. Petogogan, Kebayoran Baru, Selasa malam (28/9).
Menurut dia, sosialisasi berkaitan masalah itu sama sekali tak membuahkan hasil dan hanya buang waktu percuma jika pengembalian fungsi lahan resapan air di kawasan ini hanya sebatas wacana saja. Jika mau ditertibkan atau dibongkar semuanya bukan hanya tebang pilih saja.
Keberadaan waduk Brawijaya yang kemudian berubah bentuk menjadi lapangan golf, dan sebagian rumah mewah dan apartemen membuat kawasan ini tak pernah lepas dari banjir kiriman atau luapan air Kali Krukut, imbuh ibu empat anak yang sudah bertempat tinggal di Petogogan sejak tahun 1962.
Sejalan dengan diizinkannya pembangunan apartemen yang persis bersebelahan dengan Kali Krukut serta penutupan saluran air dari kali menuju waduk Brawijaya yang kini berubah menjadi lapangan golf sekitar tahun 1978, praktis banjir selalu melanda warga di kawasan ini.
Warga Minta Ganti Rugi LahanSosialisasi dan informasi berkaitan dengan penertiban bangunan di pinggir Kali Krukut yang melintasi sekitar empat kelurahan, dilakukan di aula Kantor Kec. Kebayoran Baru diwarnai hujan interupsi dan berbagai pertanyaan dari sejumlah warga yang hadir sejak Pk. 20:30 hingga Pk. 22:30, Selasa malam (28/9).
Kusnadi, warga lainnya, mengaku tak hanya masalah waduk yang berubah menjadi lapangan golf serta berdirinya apartemen tapi lahan makam Blok P yang juga menjadi kantor walikota Jaksel tentunya membuat lahan resapan air semakin berkurang di kawasan ini.
Keberadaan waduk di samping kantor walikota Jaksel juga tak mampu menahan debit air yang datang dari arah Depok maupun Bogor. Silakan ditertibkan tapi jangan main bongkar saja sebelum ada perjanjian ganti rugi lahan milik warga yang bakal ditertibkan,ujarnya.
Sementara itu, Wakil Walikota Jaksel Anas Effendi didampingi Kasudin PU setempat Yayat Hidayat dan Camat Kebayoran Baru M Fitrial, mengatakan kegiatan ini baru sosialisasi saja berkaitan untuk pengembalian fungsi pinggir kali yang belakangan makin marak bangunan berdiri.
Penyempitan sejumlah titik di pinggir kali tentunya mempengaruhi kelancaran air saat ada kiriman dari wilayah hilir atau Depok dan Bogor sehingga rumah di kawasan ini selalu terendam air, ujar Anas. O brn