Beritabatavia.com -
Begitu banyak yang harus kita rekam dalam ingatan kita. Begitu juga, banyak yang lupa dalam ingatan kita yang singkat ini. Terkadang kita mengenang-ngenang tentang suatu masa, tentang beberapa peristiwa. Lalu ingatan adalah ikatan kita akan peristiwa. Sebuah tali yang bisa getas oleh lupa. Seorang kawan, dalam status di media jejaring sosialnya menulis, Teringat Ibu, selalu haru... Kawan saya ini, sedang merawat tali ikatannya. Dan, setidaknya saya, menjadi ingat saat membacanya. Bahwa, saya kerap lalai dan sering lupa untuk merawat ingatan.
Saat Presiden Amerika Serikat, Obama datang ke Indonesia setelah beberapa kali tertunda—sebuah majalah mingguan nasional memilih judul di sampul-mukanya: Obama pulang. Di berbagai media, kunjungan Presiden Obama ini lebih banyak dilihat sebagai peristiwa pulang kampung seorang Obama. Nasi goreng, bakso, dan Menteng, adalah penggalan ingatan yang mengikat kisah kepulangan Obama. Mungkin, untuk tak menjadi lupa, kawan-kawan sekolah Presiden Obama semasa ia mengecap pendidikan dasarnya di Jakarta, saat anak Menteng ini menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi Presiden Amerika Serikat, membuat patung Obama kecil. Pulang kampung nih, ucap Presiden Obama. Ia ingin mengingatkan bahwa ia tak lupa.
Beberapa waktu lalu, bencana banjir bandang di Wasior, Tsunami di Kepulauan Mentawai, dan wedhus gembel Gunung Merapi yang meluluhlantakan itu, secara perlahan menghilang dari media massa kita. Nama (almarhum) Mbah Marijan pun demikian. Begitu juga dengan Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya. Nama dan wajah Doktor lulusan Prancis ini, sempat menjadi sangat akrab dengan kita, di saat-saat letusan Gunung Merapi yang tak henti-henti. Begitulah peristiwa, ia akan datang dan menghilang. Ia akan menjadi ingatan yang dikenang, atau hilang dan terlupakan.
Setidaknya dalam tiap-tiap peristiwa, dengan ingatan yang singkat dan kerap getas, kita masih memiliki waktu untuk terus menjaga ikatan kita dengan kehidupan ini. Merawat ingatan selalu bernilai. Ia dapat menghentakkan kita dari lupa dan lalai. Memang ini tak selalu mudah. Kita mungkin harus bertarung keras dengan kepenatan yang memcecar dalam setiap saat. Mungkin kita juga, dalam mengingat, memerlukan keberanian untuk menjadi lebih jujur.
Karena, terkadang tak sedikit peristiwa yang sesungguhnya ingin kita lupakan. Peristiwa-peristiwa yang di dalamnya ada luka, rasa sakit, dendam, amarah atau kebencian. Tak jarang, kita memilih-milih dan memilah-milah mana yang enak dan menyenangkan untuk kita kenang. Dan, mana yang buruk dan tercela yang segera ingin kita buang dan kita lupakan. Bahkan membayangkannya sekalipun kita tak mau. Buruk rupa cermin dibelah, kata pepatah.
Semoga memasuki tahun 2011 ini, menjadi jalan bagi kita bersama untuk saling belajar dan menjadi ikhlas. Sehingga kita dapat menjaga ikatan dalam bangsa dan negeri yang besar ini. Bahwa, sesungguhnya begitu banyak lupa yang menjadi alfa kita dalam mengikat hidup bersama dalam Indonesia. Dan, betapa sedikit ingatan kita untuk saling berbagi dalam kebaikan bersama.
Alhasil, semoga kita tak lupa. Semoga kita (dapat) ingat bahwa ada Wasior di Tanah Papua, ada Kepulauan Mentawai di Republik ini, ada gunung api aktif bernama Merapi dengan kuncen-nya yang telah berpulang bernama Mbah Marijan, ada Pak Surono, seorang doktor yang setia dengan tugas profesi dan intelektualnya untuk menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Dan, saya teringat kembali statusnya ditulis teman saya di media jejaring sosial tadi, Teringat Ibu, selalu haru... Agar selalu ingat dan terikat. Mudah-mudahan kita tak lupa. 0 Dadang RHs