Beritabatavia.com -
Kapal tongkang PB 17 milik PT Pelayaran Hub Maritim Indonesia yang tenggelam bersama 380 ton minyak solar dikedalaman sekitar 32 meter di perairan Pulau Seribu, DKI Jakarta, Senin (28/2) lalu membuat ratusan nelayan budidaya di Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan, berada di ujung tanduk.
Sejak insiden tenggelamnya tongkang yang ditarik Tug Boat KM Bengkalis dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Merak, hingga kini baru hanya dilakukan penandaan lokasi dari pihak Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) setempat.
Padahal, dilokasi tengelammnya kapal tersebut, genangan minyak di permukaan laut telah meluas hingga sepanjang 4 kilo meter dan lebar sekitar 30 meter.
Berdasarkan data Kelurahan Pulau Pari, saat ini disekitar perairan pulau itu terdapat sebanyak 280 nelayan budidaya rumput laut, 27 kelompok budidaya ikan kerapu, dan 7 lokasi wisata konservasi.
Memang saat ini angin dan arus laut ke arah timur, namun kita tetap khawatir pencemaran akan terjadi dan merusak usaha kami, ungkap Hidayat, salah seorang nelayan budidaya rumput di Pulau Pari, Kamis, (3/3).
Dia berharap, pihak-pihak terkait dapat segera melakukan upaya penanganan sehingga ancaman pencemaran dapat dihindari. Kami mohon segera dilakukan penanganan, kalau minyak sampai disini kami akan rugi besar, tuturnya.
Lurah Pulau Pari, Astawan mengamini warga Pulau Pari yang berusaha budidaya tengah dirundung kekhawatiran. Pasalnya, bila arah angin tiba-tiba berubah dalam waktu dekat ini akan menjadi ancaman serius usaha budidaya warga.
Mohon ini jangan dianggap sederhana, ini masalah hajat hidup ratusan nelayan yang memiliki usaha budidaya, pinta Astawan. O brn