Beritabatavia.com -
Warga Depok, Jawa Barat mengeluhkan mutu pendidikan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di wilayahnya. Pasalnya uang pangkal yang ditarik dari siswa tidak sebanding dengan mutu pendidikan RSBI itu sendiri.
Kami tahu RSBI itu katanya berstandar internasional. Tapi kenyataannya pendidikan yang diterima anak saya tidak jauh berbeda dengan siswa SMA negeri di Jakarta. Padahal uang pangkalnya cukup tinggi, mencapai Rp 7,5 juta, ujar Ny Ida, warga Beji, Depok, Sabtu (19/3).
DPRD Depok mengakui hal tersebut. Menurut mereka, harusnya dana yang diberikan pada RSBI dari provinsi dan pusat dipakai untuk peningkatan mutu pendidikan, tapi malah dipakai untuk memperindah kondisi bangunan, misalnya menambahkan Air Conditioner (AC). Padahal jumlah yang dipungut RSBI dari siswa mereka sudah cukup 'wah'.
Setiap siswa untuk mendaftar ke RSBI di Depok rata-rata dipungut Rp 7,5 juta. Biaya yang dipungut kepada siswa terlampau tinggi dan tidak jelas peruntukannya jika dibanding mutu pendidikan RSBI yang masih rendah. Padahal RSBI selalu mendapatkan anggaran dari pihak provinsi dan pemerintah pusat dengan total anggaran mencapai Rp 1 milyar per tahun, diluar uang pangkal dari siswa, ujar Wakil Ketua Komisi Pendidikan DPRD Depok, Sri Rahayu.
Sri Rahayu melanjutkan, DPRD Depok juga menemukan banyak guru di setiap RSBI belum menerapkan kurikulum berbasis informasi dan teknologi. Belum lagi kurangnya guru berkemampuan dalam berbahasa asing.
Sekarang di Depok terdapat tiga sekolah berstatus RSBI yakni satu RSBI untuk SMP, dan dua RSBI untuk SMA. O brn