Beritabatavia.com -
AKSI penusukan dua anggota Brimob Masjid Faletehan Kebayoran baru Jakarta Selatan pada Jumat (30/6/2017) menambah deretan panjang peristiwa penyerangan terhadap aparat kepolisian.
Peristiwa ini merupakan rentetan kejadian penyerangan yang menyasar sejumlah lokasi dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian besar serangan mengincar anggota kepolisian.
Sejumlah kasus penyerangan terhadap anggota kepolisian oleh terduga teroris yang terjadi sepanjang 2017. Dari data tersebut, terlihat bahwa penyerangan terhadap aparat kepolisian terjadi sejak April 2017 hingga saat ini, yakni total sebanyak lima kasus.
Bahkan, pada April dan Juni 2017, terjadi masing-masing dua kasus penyerangan dengan waktu kejadian yang cukup berdekatan. Ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Berikut rinciannya:
APRIL 2017
Pos polisi di Tuban, Jawa Timur ditembaki oleh tujuh orang pelaku pada Sabtu (8/4/2017). Upaya penembakan gagal dan enam pelaku ditembak mati, sedangkan satu orang ditangkap hidup-hidup. Pelaku penembakan di Tuban diketahui sempat berkomunikasi dengan pelaku penyerangan di Banyumas.
Seorang anggota polisi Mapolres Banyumas dibacok pada Senin (11/4/2017) menggunakan parang. Pelaku yang bernama Muhammad Ibnu Dar ini terindikasi sebagai jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Sebelumnya, dia menabrakkan sepeda motornya ke arah salah seorang anggota polisi lain.
MEI 2017
Halte Busway Kampung Melayu Jakarta Selatan diserang oleh pada Rabu (24/5/2017). Serangan bunuh diri ini menggunakan bom panci rakitan. Tiga orang anggota Polri tewas dalam peristiwa ini. Enam anggota polisi dan lima masyarakat juga mengalami luka parah.
JUNI 2017
Dua personel polisi yang sedang piket di Markas Polda Sumatra Utara, Aiptu Martua Singgalingging dan Brigadir E Ginting, menjadi korban serangan dua orang terduga teroris pada Minggu, (25/6/2017). Martua meninggal akibat terkena luka pada leher sedangkan Ginting mengalami luka parah. Pelaku juga sempat berencana membakar pos jaga Mapolda Sumut.
Dua orang anggota Brimob menjadi korban aksi penusukan selesai menunaikan salat Isya di Masjid Falatehan Blok M, Jakarta Selatan yang berada tak jauh dari Markas Besar Kepolisian RI pada Jumat (30/6/2017).
Komisi III DPR prihatin atas terjadinya penusukan terhadap dua anggota Brimob, Jumat (30/6/) malam, saat keduanya selesai salat Isyak di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan. Ia menilai, tindakan tegas oleh aparat kepada pelaku sulit dihindari. Apapun motifnya menyerang aparat polisi, apalagi sedang melakukan ibadah adalah perbuatan biadab, kata Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil, Sabtu(1/7/2017).
Menurutnya, kejadian tersebut memperlihatkan bahwa teror terhadap aparat Polri belum berhenti. Apakah kejahatan itu dilakukan oleh pelaku yang merupakan bagian dari jaringan teroris tertentu atau aksi ‘lone wolf’ yang dilatarbelakangi oleh motif tertentu, ujar Nasir.
Dilanjutkan, tewasnya pelaku penusukan, aparat memang harus melakukan tindakan tegas karena dua anggota mereka ditikam. Penindakan secara tegas oleh aparat itu, sulit dihindari. Ya, tentu semua kita ingin pelakunya dilumpuhkan hidup-hidup sehingga akan terjawab motif dan siapa pelaku sebenarnya,katanya.
Kepada pimpinan Polri, agar meningkatkan kewaspadaan dan tetap mengedepankan fungsi intelijennya guna bisa mendeteksi cepat orang-orang yang mencurigakan dan diperkirakan akan melakukan aksi kejahatan. Kejadian ini juga membuat program deradikalisasi harus dilakukan secara masif kepada kelompok-kelompok yang rentan disusupi jaringan terorisme, ungkapnya. o bio