Beritabatavia.com -
BERMODAL keyakinan dan kerja keras, Sule akhirnya bisa mewujudkan cita-cita menjadi komedian yang dikenal luas di Indonesia. Semua berawal dari titik nol. Bahkan, belum banyak yang tahu kalau Sule pernah menjadi pedagang jagung bakar.
Lewat berbagai banyolan segarnya di program komedi
Opera Van Java (
Trans 7), Sule kian mengibarkan namanya sebagai salah seorang komedian papan atas Indonesia. Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu pemirsa. Ujungnya bisa ditebak. Dia pun kebanjiran tawaran tampil. Honornya terus melambung. Sekali tampil bisa mencapai angka belasan juta rupiah. Tak heran kalau dari hasil jerih payahnya mengocok perut penonton, dalam waktu terbilang singkat Sule sudah bisa mengoleksi lima rumah.
Toh, Sule membutuhkan perjalanan panjang yang keras dan berliku sebelum akhirnya mereguk kesuksesan sebagai komedian, profesi yang memang sudah sejak lama diimpikannya. Dia mengawali semuanya benar-benar dari nol. Bahkan, belum banyak yang tahu kalau pemilik nama asli Sutisna yang kini mencat pirang rambutnya itu pernah menjadi pedagang jagung bakar di daerah asalnya Citeureup, Cimahi, Bandung. Penghasilannya pun kurang dari Rp15 ribu per hari. Saya tidak pernah malu mengakuinya. Sebaliknya, itu saya jadikan motivasi untuk mewujudkan cita-cita menjadi pelawak yang bisa dikenal masyarakat, katanya belum lama ini.
Lantaran bercita-cita menjadi pelawak, saat SMP Sule masuk sanggar sekolah tari jaipong di Bandung. Kemudian dia melanjutkan ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dan Sekolah Tinggi Karawitan Indonesia (STKI) pada 1997. Dunia seni sudah mendarah daging dalam diri saya. Keluarga saya memang keluarga seni. Uwak saya sinden wayang golek. Sementara selera humor saya dapat dari Bapak. Bapak saya dulunya pedagang baso. Biasanya, saat keliling Bapak kerap becanda dengan pelanggannya. Bedanya lelucon Bapak tidak jadi duit, sementara saya bisa jadi duit, jelas ayah tiga anak ini.
Nama Sule mulai dikenal sebagai komedian saat mengikuti ajang
Audisi Pelawak TPI (API) bersama dua rekannya, Ogi dan Oni, lewat grup SOS, singkatan dari Seninya Orang Sunda. Sebelumnya, saya juga pernah ikut Lapidut pada 1994. Lapidut adalah Lawak Tapi Dangdut yang diadakan di Bandung. Tak lama setelah itu saya bersama Ogi dan Oni lalu membentuk grup lawak SOS. Ikut API 2005 dan alhamdulillah kami jadi juara satu. Saya juga menjadi pemenang kategori Pelawak Api Paporit (PAP), paparnya.
Belakangan, personel SOS yang awalnya kompak mengalami perpecahan. Masing-masing individu sibuk dengan pekerjaannya sendiri hingga menimbulkan konflik. Saya mah orangnya punya komitmen. Meski tidak ada perjanjian hitam putih, kalau seandainya ada job saya selalu bilang kepada kedua rekan saya. Suatu hari saya pernah bilang kalau keadaannya begini terus SOS tidak akan bertahan lama. Jangankan bertahan 10 tahun, tiga tahun saja belum tentu bisa, lanjut anak kedua dari empat bersaudara ini.
Tak ingin cita-citanya kandas di tengah jalan, Sule terus berjuang mencari peluang sampai akhirnya dia dikontrak untuk bermain di program
Opera Van Java (
Trans 7). Awalnya justru bukan di
Opera Van Java. Saya pernah menjadi bintang tamu di program
Bukan Empat Mata. Di situ saya dapat tawaran untuk bekerjasama dengan Tukul. Tak tahu kenapa, belakangan kontrak itu batal. Lalu ada tawaran untuk menjadi bintang tamu di Opera Van Java. Saya ambil. Sampai sekarang kontrak itu diperpanjang dan saya sudah menjadi pemain inti di acara ini, katanya.
Selain piawai melontarkan guyonan segar, Sule juga punya kemampuan berolah vokal. Namun jika disuruh memilih antara melawak dan menyanyi, dia akan memilih tetap menjadi pelawak. Bahkan, dia bertekad akan terus melawak sampai ajal menjemput. Soal menyanyi, dia hanya fokus di Jawa Barat saja. Makanya meski pernah memuncaki ajang menyanyi di salah satu stasiun televisi, Sule tak pernah menghapal lagu. Dia menghapal lagu kalau ada tawaran menyanyi, kecuali lagu-lagu Rhoma Irama. Saya jelas hapal. Pokoknya, kalau di Jakarta saya akan pilih menjadi pelawak, tegasnya.
Sule kian memantapkan langkahnya di dunia lawak lewat program Awas Ada Sule yang notabene ‘menjual’ nama besarnya. Sule menyadari kalau semua merupakan limpahan rezeki dari Tuhan. Manusia hanya berusaha. Kuncinya keyakinan. Dengan keyakinan, usaha, dan bersyukur, pasti semua yang kita impikan bisa terwujud. Kini, saya tinggal mewujudkan keinginan menjadi pelawak di panggung internasional, tandasnya. O