Senin, 03 Mei 2010 08:19:58

Judika, Iis, dan Giring Tolak 'Lipsync'

Judika, Iis, dan Giring Tolak 'Lipsync'

Beritabatavia.com - Berita tentang Judika, Iis, dan Giring Tolak 'Lipsync'

INDUSTRI musik Indonesia memang tengah berkembang pesat ditandai dengan kemunculan banyak penyanyi baru, baik dalam format penyanyi solo, duo, atau ...

Judika, Iis, dan Giring Tolak 'Lipsync' Ist.
Beritabatavia.com - INDUSTRI musik Indonesia memang tengah berkembang pesat ditandai dengan kemunculan banyak penyanyi baru, baik dalam format penyanyi solo, duo, atau band. Tak sekadar berasal dari masyarakat biasa, sejumlah pelakon dan presenter pun ramai-ramai menceburkan diri menjadi penyanyi. Contohnya Titi Kamal, Luna Maya, dan Olga Syahputra.
Sayang sebagian dari mereka belum mempunyai modal yang mutlak harus dimiliki jika berkecimpung sebagai penyanyi, yakni kualitas vokal yang baik. Tak heran kalau mereka lebih sering memilih menyanyi secara lipsync, kependekan dari lip synchronization, menyelaraskan gerakan bibir dengan suara rekaman. Dalam konteks musik, si penyanyi hanya berpura-pura menyanyi. Fenomena ini bisa dilihat di berbagai program musik yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi secara langsung, seperti Derings (Trans TV), Dahsyat (RCTI), serta Inbox dan Playlist (SCTV).
Kondisi ini jelas sangat memrihatinkan. Mirisnya, penonton ikut menikmati kondisi tersebut. Di sisi lain musisi senior James F Sundah pernah mengatakan, untuk menilai seseorang itu sudah pantas menjadi penyanyi atau belum adalah saat orang tersebut menyanyi secara langsung.
Untungnya, dunia musik Indonesia masih terselamatkan oleh sejumlah penyanyi lain yang sampai kini tetap memilih menyanyi secara langsung atau live di setiap kesempatan, seperti Judika Nalon Abadi Sihotang, Giring ‘Nidji’, dan Iis Dahlia.
Punya pengalaman sebagai penyanyi kafe, tak heran kalau Judika terbiasa menyanyi secara langsung. Dia juga terbiasa menyanyi secara acapella. Vokalnya pun selalu terasah. Saya juga sering mengikuti berbagai festival menyanyi nasional dan internasional. Dari sana saya melatih bagaimana agar suara bisa tetap bagus. Modal utama saya memang suara, katanya di Jakarta, belum lama ini. 
Terbiasa menyanyi secara langsung, tak heran kalau Judika kesulitan apabila diminta menyanyi secara lipsync. Pernah satu kali saya diminta panitia untuk menyanyi lipsync lantaran tidak ada waktu untuk cek sound mengingat banyak artis lain juga akan tampil. Saya merasa tidak nyaman, lanjutnya.
Judika tidak nyaman lantaran tidak bisa berinteraksi dengan penonton seperti yang biasa dia lakukan setiap menyanyi secara langsung. Biasanya di tengah-tengah lagu saya gunakan untuk improvisasi dengan penonton. Kalau lipsync saya harus mengikuti apa yang terdapat di CD. Jadi terasa kaku. Saya tidak bisa mengeksplor kemampuan, jelasnya.
Lantaran itu pula Judika menyayangkan jika ada penyanyi yang lebih senang tampil secara lipsync. Lain halnya jika ada satu keperluan. Misalnya tampil terburu-buru hingga tidak sempat menyesuaikan nada atau suara sedang benar-benar rusak. Pokoknya, jika bukan lantaran hal yang benar-benar mendesak hindari menyanyi secara lipsync, tegasnya.
Sikap serupa ditunjukkan Giring, vokalis Band Nidji. Dia menolak menyanyi secara lipsync agar bisa lebih bebas berekspresi saat di panggung. Gue jarang pakai suara lipsync. Lebih enjoy pakai suara asli lantaran bisa menyatu dengan teman-teman band yang menggunakan alat musik. Selain itu feel-nya lebih terasa. Lewat suara asli gue juga lebih bisa berekspresi dan mengeksplorasi gaya sesuai suasana di panggung, paparnya.
Pelantun Bila Aku Jatuh Cinta ini menambahkan, menyanyi secara langsung meningkatkan kepercayaan diri di panggung. Dia juga bisa lebih bebas berkomunikasi dengan penonton. Paling penting, dia bisa membuktikan kalau vokalnya diterima masyarakat. Sebagai vokalis pasti ingin membuktikan bisa menyanyi di panggung. Bisa berkolaborasi dengan penonton. Itu seru banget. Lebih menghibur, jelasnya.
Sikap lebih tegas ditunjukkan pedangdut Iis Dahlia. Pelantun Seroja ini menolak jika diminta menyanyi secara lipsync. Soalnya, kalau nyanyi lipsync saya suka gemetaran lantaran takut salah dan tidak kompak dengan CD-nya. Makanya, banyak orang bilang kalau saya ini penyanyi betulan, katanya seraya tertawa.
Sejatinya, lanjut Iis, penyanyi itu bisa membawakan lagu secara live alias tidak sekadar bagus saat rekaman. Misalnya lagu yang dibawakan meledak di pasaran. Selanjutnya banyak dong orang yang meminta si penyanyi itu untuk tampil. Masa iya saat ngamen keliling dia mau selamanya lipsync. Kalau hal itu terus dilakukan orang akan beranggapan percuma saja ngundang penyanyinya kalau menyanyi secara lipsync. Lebih baik beli CD-nya saja. Ujungnya, karir si penyanyi itu terancam jalan di tempat. Bahkan, bisa berhenti total, jelasnya.
Terkait itu Iis mengimbau para penyanyi agar terus berlatih meningkatkan kualitas vokal mengingat persaingan di blantika musik yang kian keras. Bagi saya tampil live itu merupakan satu bentuk latihan vokal. Artinya, semakin banyak tampil secara live semakin sering juga pita suara saya terlatih. Dengan begitu saya bisa mempertahankan kualitas vokal yang saya miliki, katanya.
Di sisi lain tampil menyanyi secara lipsync punya banyak efek negatif. Sesuatu mungkin saja terjadi saat kita tampil lipsync. Misalnya, tiba-tiba CD atau kasetnya macet. Kalau sudah begitu gimana cara mengatasinya? Kalau saya sudah pasti gemetaran tidak karuan. Sementara menyanyi secara live selain bisa berinteraksi dengan penonton, sekaligus bisa menunjukkan kalau kita memang benar-benar seorang penyanyi. Sudah sepantasnya penyanyi itu harus bisa nyanyi dan pemain musik itu harus menguasai alat musik, tambahnya. O



Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Jumat, 18 Maret 2022
Jumat, 10 Desember 2021
Rabu, 13 Oktober 2021
Kamis, 23 September 2021
Jumat, 03 September 2021
Senin, 19 Juli 2021
Jumat, 23 Oktober 2020
Kamis, 03 September 2020
Jumat, 17 Juli 2020
Senin, 13 Juli 2020
Rabu, 26 Februari 2020
Jumat, 31 Januari 2020