Rabu, 09 Juli 2014 14:43:40

Diskusi Usai Pilpres

Diskusi Usai Pilpres

Beritabatavia.com - Berita tentang Diskusi Usai Pilpres

Usai memberikan hak suara (nyoblos) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) sekitar pukul 11.00 saya langsung meluncur ke sebuah tempat di kawasan Jakarta ...

Diskusi Usai Pilpres Ist.
Beritabatavia.com - Usai memberikan hak suara (nyoblos) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) sekitar pukul 11.00 saya langsung meluncur ke sebuah tempat di kawasan Jakarta Pusat untuk memenuhi janji dengan seorang perwira tinggi yang juga sedang menduduki jabatan strategis di negeri ini.

Tidak lebih dari 30 menit, saya tiba di tempat pertemuan yang sudah kami sepakati sebelumnya. Ternyata  di tempat yang sejuk itu sudah ada empat orang perwira tinggi lainnya, mereka sedang terlibat diskusi hangat perihal prediksi siapa pemenang Pilpres 9 Juli 2014 ini.
Kehadiran saya tak membuat suasana berubah, justru semakin hangat satu sama lain saling melontarkan argumentasi tentu berdasarkan hasil pengamatan dan pengetahuan masing-masing terkait dua sosok Capres yang sedang bertanding pada Pilpres 2014 yaitu Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Seorang perwira tinggi dengan bintang dua bertengger di pundak tampak semangat saat menjelaskan kelebihan dan kemampuan dua capres pada Pilpres 2014 ini. Menurut sang Jenderal tersebut, Prabowo memiliki pengalaman yang cukup dalam hal memimpin, itu terbukti selama menjadi perwira tinggi di jajaran TNI AD. Kemudian memasuki masa pencalonan Capres hingga masa kampanye, Prabowo juga membuktikan kemampuannya mengendalikan koalisi partai politik. Sehingga Prabowo menjadi sosok yang kuat dan penentu, kendati ada sejumlah tokoh di barisan koalisi partai politik pendukung Prabowo. Itu artinya Prabowo memiliki kemampuan memimpin dan meyakinkan masyarakat bahwa dia bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan sejahtera. 

Seperti membenarkan, seorang perwira tinggi lainnya menjelaskan Capres Jokowi belum menunjukkan bukti kinerja yang baik, justru upaya yang sedang dilakukannya selalu menuai pro kontra. Seperti sejumlah proyek Pemprov DKI diantaranya transjakarta yang bermasalah, kemudian proyek MRT yang menimbulkan sllang pendapat antar pejabat instansi bahkan kelanjutan proyek tersebut jadi mengambang tidak memiliki kepastian.

Jokowi juga disebut kurang memiliki kemampuan yang cukup untuk menjadi pemimpin ditingkat nasional, apalagi internasional. Kelemahan Jokowi terlihat dari posisinya dalam koalisi partai politik pendukung yang dimotori PDIP. Jokowi bukan menjadi orang nomor satu dalam koalisi tersebut, disana masih banyak sosok yang bisa mengendalikan Jokowi, sebut saja Megawati dan sejumlah purnawirawan jenderal yang juga sangat dominan menentukan arah dan tujuan Jokowi. Posisi Jokowi sebagai Capres sangat lemah, sehingga akan berdampak buruk pada pemerintahan apabila mendapat kepercayaan dari rakyat untuk menjadi presiden.

Jika menang dalam Pilpres, Jokowi akan mengalami kesulitan menjalankan roda pemerintahan, karena kemampuannya untuk meyakinkan lawan politik masih di ragukan. Kendala itu akan nyata, apabila koalisi partai politik  pengusung Capres Prabowo  sepakat menjadi koalisi parmanent dan beroposisi di parlemen atau DPR RI. Tentu dengan kondisi seperti itu, kita semua sebagai bangsa Indonesia akan mengalami kerugian mengingat dana yang digelontorkan untuk Pilpres sangat besar jumlahnya, namun hasilnya hanya sebuah pemerintahan yang tidak efektif dansulit memberikan kepastian adanya kesejahteraan, kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. O edison siahaan


Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020