Minggu, 19 Juni 2016 14:25:06

Memilih Kapolri, Menuai Pujian

Memilih Kapolri, Menuai Pujian

Beritabatavia.com - Berita tentang Memilih Kapolri, Menuai Pujian

Pujian dan sanjungan serta dukungan mewarnai proses pengajuan Komjen Tito Karnavian, sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin ...

 Memilih Kapolri, Menuai Pujian  Ist.
Beritabatavia.com - Pujian dan sanjungan serta dukungan mewarnai proses pengajuan Komjen Tito Karnavian, sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti.

Sayangnya, banyak komentar dan pendapat yang memberikan pujian dan sanjungan, membabibuta atau pokoke. Bahkan menganggap sosok yang disanjungnya adalah pilihan satu-satunya. Meskipun,  belum tentu mengenal sosok yang dipuja-puji itu secara baik.

Seyogianya, pujian,sanjungan, dan dukungan, hendaknya didasari pemahaman terhadap system, mekanisme, dan tradisi yang berlaku di institusi Polri, maupun sosok yang di dukung. Sehingga tidak memberikan kesan dukungan membabibuta atau pokoke.

Karena tanpa disadari, justru dukungan ala pokoke bisa menjadi kontra produktif atau bumerang bagi orang yang didukung.Apalagi dukungan yang berlebihan sampai menimbulkan  kekecewaan bagi orang-orang yang berada di seputar sosok yang didukung.

Untuk menilai sosok Tito Karnavian, tentu kurang elok kalau hanya berdasarkan pada saat detik-detik dipilih sebagai calon tunggal Kapolri. Dalam meniti karir hingga meraih prestasi, Tito Karnavian tidak bekerja sendiri. Kesuksesan yang diraihnya, merupakan bagian dari peran personil Polri lainnya yang bersama-sama dengan Tito saat melaksanakan tugas.

Secara umum, pada dasarnya setiap perwira Polri mendapatkan pengetahuan yang sama lewat jenjang pendidikan formal dari mulai AKPOL, PTIK,Sespim,Sespimti. Dalam implementasinya, tentu secara personal, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Hingga kemudian kesempatan dan factor keberuntungan yang terkadang membedakan mereka.

Contohnya, Irjen Drs Anas Yusuf, DIPL Krim, SH.MH.MM saat ini menjabat Gubernur AKPOL di Semarang. Lulusan AKPOL 1984 ini, kurang popular di masyarakat. Tetapi bila menelisik track record dan catatan riwayat penugasan cukup panjang dan beragam. Salah satu prestasi monumental yang ditorehkan Irjen Anas, adalah menangkap buron internasional, M Nazarrudin (Bendahara Partai Demokrat) di Cartagena, Colombia.

Selain menguasai empat bahasa asing secara aktif, latar belakang pendidikan kejuruan Anas Yusuf  sangat representatif. Anas lulusan Criminal Investigation Departement (CID) Jerman 1993. Pendidikan yang sama ditempuhnya tahun 2000 dan yang terakhir adalah CID  Berlin 2006. Ditambah dengan Pendidikan Kejuruan  tentang Money Laundryng, Perbankan, Kepailitan hingga Human Trafficking. Maka dia terbilang ahlinya dalam bidang white cholar crime (kejahatan krah putih) maupun cyber crime.

Proses tour of duty yang panjang mengasah kemampuannya untuk mengendus kejahatan, baik  kejahatan kriminal biasa hingga level yang luar biasa maupun kejahatan transnasional. Sejatinya sosok Anas sangat  diperlukan oleh Polri.

Meskipun setiap perwira Polri memiliki kesempatan untuk menduduki jabatan Kapolda atau jabatan strategis lainnya hingga Kapolri. Namun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk memilih dirinya sendiri.Untuk jabatan Kapolda dipilih oleh Kapolri, sedangkan menduduki jabatan Kapolri adalah wewenang Presiden, yang tentu sarat dengan kepentingan politik.

Sehingga, seorang Kapolri belum tentu perwira yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Polri. Semestinya,  kewenangan untuk memilih Kapolri diserahkan ke internal Polri, kemudian dikukuhkan dan dilantik Presiden. Sebab, Polri sudah memiliki catatan baik itu prestasi,kompentensi,integritas hingga karakter masing-masing personil Polri.

Potensi terjadinya kekeliruan,bisa dihindari apabila kewenangan untuk memilih Kapolri diberikan kepada internal Polri. Tetapi potensi kekeliruan menjadi lebih besar, jika kewenangan memilih Kapolri oleh  pihak yang tidak memahami mekanisme,tradisi,senioritas di internal Polri.

Karena Kapolri bukan kepala daerah yang dipilih berdasarkan jumlah suara pada Pilkada. Atau Menteri yang menjadi pembantu presiden. Oleh karena itu, seorang Kapolri harus lulusan akademi kepolisian. O Edison Siahaan

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Selasa, 23 Juni 2020
Senin, 15 Juni 2020
Selasa, 09 Juni 2020
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020