Senin, 22 Oktober 2018

Jokowi Sukses atau Gagal ? Ini Jawabannya

Jokowi Sukses atau Gagal ? Ini Jawabannya

Beritabatavia.com - Berita tentang Jokowi Sukses atau Gagal ? Ini Jawabannya

Jokowi Suskes atau Gagal ? Begitulah pertanyaan yang merebak luas di tengah-tengah sebagian besar masyarakat. Jokowi Sukses atau Gagal juga ...

Ist.
Beritabatavia.com -
Jokowi Suskes atau Gagal ? Begitulah pertanyaan yang merebak luas di tengah-tengah sebagian besar masyarakat. Jokowi Sukses atau Gagal juga menjadi topik pembicaraan yang menuai respon beragam di media sosial (medsos).

Agar tidak memicu kegaduhan di media sosial maupun masyarakat luas. Perlu ada acuan dasar yang digunakan mengukur untuk mengetahui apakah kinerja pemerintahan Jokowi sukses atau gagal.

Pengamat politik dan pemerhati bangsa asal Nganjuk,  Al Fakir Gus Ali menulis, Jokowi pasti dikatakan sukses oleh para pendukungnya. Indikatornya, pernah dikasih sepeda. Pernah dapat bingkisan yang dilempar dari mobil. Senang lihat Jokowi low profile ketika pakai kaos oblong dan sandal jepit. Tentu itu subyektif.

Sebaliknya, Jokowi gagal kata yang bukan pendukung.  Indikatronya, Jokowi mengkriminalisasi Habib Rizieq. Jokowi dukung Ahok. Ini juga subyektif.

Kalau lembaga survei, ada yang bilang sukses. Apa dasarnya?  Persepsi publik. Mereka disurvei menggunakan  kaidah-kaidah ilmiah dengan random sampling yang proporsional dan margin error  2,5 persen . Obyektif, tapi tidak nyambung. Sukses gagal kok dijawab pakai survei. Emang pemilu ? Sebab, pertanyaan dalam survei itu tentang tingkat kepuasan publik. Bukan tentang kesuksesan. Secara ilmiah itu tidak salah.  Tetapi, sukses gagalnya Jokowi mesti dilihat dari variabel kinerja dan janji kampanyenya.Bukan persepsi.

Jadi kalau mau lihat Jokowi sukses atau gagal, lihat seberapa besar janji yang sudah ditunaikan, dan lihat pula capaian kinerjanya.
 
Misal, bagaimana kinerja Jokowi di bidang Hukum makin adil, atau makin timpang? Apakah hukum ditegakkan, atau dikendalikan? Bagaimana tingkat kriminalitas ?  Diberantas,  atau malah semakin galak ?
Di bidang ekonomi. Rakyat makin sejahtera, atau makin sulit hidupnya? Pengangguran makin banyak, atau berkurang? BBM, listrik dan jalan tol makin membebani rakyat atau meringankan? Dolar dulu Rp.10.000, sekarang diatas Rp.15.000. Itu indikator sukses atau gagal?

Bidang Politik, Indonesia makin demokratis,atau makin represif.? Mimbar mahasiswa makin bebas, atau makin sempit? Rektor, ilmuan dan aktifis makin berani dan bebas bersuara, atau malah ciut nyalinya? Kampus makin independen, atau berada dalam pengawasan?
Soal clean government. Koruptor makin banyak, atau makin dikit?  KPK makin ganas, atau makin tersandera?  Lalu,semua keadaan sekarang ini dibandingkan dengan keadaan sebelum Jokowi dilantik jadi presiden.

Lihat juga janji Jokowi. Ini variabel penting. Karena menyangkut  tidak saja kredibilitas, tapi juga integritas seorang presiden.  Janji pantang untuk tidak ditunaikan. Ada yang bilang Jokowi-JK punya 66 janji. Ukur, berapa persen sudah ditunaikan?

Soal sukses gagalnya Jokowi, jangan tanyakan pada calon pemilih di pilpres 2019. Itu keliru. Tukang rongsok, pengayuh becak, penjual terong, pedagang asongan, cabe-cabean, mana ngerti mereka soal ekonomi, politik, hukum, pertahanan dan lain-lain. Disurvei, pasti jawabannya tidak nyambung. Alias ngawur. Kenapa? Jawaban tidak berbasis pada pengetahuan. Tapi bersumber dari bisikan tetangga. Apalagi kalau tetangganya orang partai. Atau info dari Breaking News TV di sela-sela tayangan sinetron. Makin bias.

Sekedar sebuah analogi. Sopir itu sukses atau gagal,jangan tanyakan pada penumpang.Sebab, penumpang tahunya nyaman dan cepat sampai. Soal sopir melanggar lalu lintas, nabrak lampu merah, gak peduli ganjil genap, bagi penumpang tidak ada ngaruhnya. Penumpang juga gak tahu sopir itu punya SIM atau tidak. Setorannya ke majikan angkot lancar atau tersendat. Oli mobil sering diganti atau dibiarkan. Diparkir di tempat aman atau sembarangan. Rajin service atau tidak, penumpang masa bodoh. Pokoknya, bagi penumpang, jika cepat sampai dan selamat, itu sopir sukses. Soal mobil itu cepat rusak, mesinnya rontok, akan dicuri orang,tak pengaruhi penilaiannya.

Ini mirip ketika tanya dan survei ke publik tentang Jokowi sukses atau gagal. Pasti tidak nyambung. Sukses gagalnya Jokowi, gak ada hubungannya dengan hasil survei. Sebab, survei itu persepsi. Dan persepsi dibentuk melalui pencitraan. Sangat subyektif.

Konon kabarnya, di awal pemerintahannya, kira-kira satu bulan berjalan, Jokowi membuat survei. Survei ini untuk mengukur tingkat kinerja para menteri berbasis persepsi masyarakat. Hasilnya, banyak menteri yang nilainya jeblok. Terutama kementerian yang tidak populer, seperti kementerian keuangan, perdagangan, ESDM, kesehatan, dan sejumlah kementerian yang lain. Ya iyalah. Masyarakat kita hanya sedikit yang tahu tentang kementerian. Bahkan jumlah menteri kabinet saja, belum tentu mereka tahu.  Bagaimana mungkin masyarakat bisa memberikan penilaian terhadap menteri yang mereka saja gak kenal?

Kalau sukses gagalnya seorang menteri diukur menggunakan persepsi publik, ini super bahaya. Kenapa? Nanti semua menteri hanya akan membuat dan mengerjakan program yang populer.Mudah dilihat masyarakat. Menteri olahraga ikut main futsal, lalu bagi-bagi bola dan sepeda. Menteri BUMN ikut jaga tol. Menteri perdagangan ikut jualan tape di pasar dengan diskon besar-besaran. Apalagi jika mau pakai kaos oblong dan sandal jepit. Menteri luar negeri ikut demo Palestina. Teriak Allahu Akbar, dengan bendera Palestina yang diikatkan di kepala. Menteri pertanian copot sepatu, lipat lengan baju, turun ke sawah, ikut memanen padi. Wah, dijamin makin kacau negara ini. Kalau ini dilakukan, hampir pasti para menteri itu dipecat.

Kenapa? Karena dianggap berpotensi menyaingi popularitas presiden. Penilaian sukses tidaknya pejabat tinggi, termasuk menteri dan presiden, berbasis pada persepsi publik itu menyesatkan. Ngaco dan ngawur. Kecuali jika memang berorientasi politis, semata-mata untuk tujuan Pilpres. Itu lain soal.

Jika ingin tahu sukses atau gagalnya Jokowi, lihat janji kampanye dan capaian kinerja Jokowi di bidang hukum, ekonomi, politik, keamanan nasional, ketahanan energi dan pangan,pembangunan dan variabel sejenis dengan indikator-indikator terukur. Dari situlah pemerintah Jokowi bisa dinilai sukses atau gagal. Bukan berbasis pada persepsi publik dan hasil survei politik. O Edison Siahaan

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Sabtu, 09 Februari 2019
Selasa, 22 Januari 2019
Jumat, 18 Januari 2019
Jumat, 18 Januari 2019
Selasa, 15 Januari 2019
Jumat, 04 Januari 2019
Selasa, 01 Januari 2019
Jumat, 28 Desember 2018
Selasa, 25 Desember 2018
Jumat, 14 Desember 2018
Rabu, 12 Desember 2018
Kamis, 29 November 2018