Jumat, 01 Juni 2012 09:27:18

Polri Kehilangan Otoritas

Polri Kehilangan Otoritas

Beritabatavia.com - Berita tentang Polri Kehilangan Otoritas

Rastra Sewakottama adalah lambang

Polri Kehilangan Otoritas Ist.
Beritabatavia.com - Rastra Sewakottama adalah lambang Polri yang berarti Polri adalah Abdi Utama dari pada Nusa dan Bangsa. Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli   1954.

Polri tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan  pengayom rakyat. Harus jauh dari tindakan dan sikap sebagai penguasa. Prinsip tersebut sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police philosophy, Vigilant Quiescant (kami   berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram).

Kita meyakini bahwa rasa aman itu tidak turun dari langit atau datang begitu saja sebagai hadiah. Karena itulah Polisi hadir dan diberikan otoritas untuk menciptakan dan memelihara serta menjaga keamanan dan keteriban kehidupan masyarakatnya.

Polisi harus bertanggung jawab atas semua potensi ancaman yang dapat mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat. Konstitusi UUD 1945 hasil amendemen kedua pada Pasal 30 ayat (4) secara tegas menyebutkan kepolisian sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum. Fungsi dan peran Polri itu dipertegas dalam UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Namun, belakangan kekhawatiran mencuat karena otoritas yang dimiliki Polri sudah diambil alih oleh kelompok tertentu. Sehingga mereka boleh menentukan apakah sesuatu bisa dilakukan atau tidak.

Disusul dengan kurangnya peran Polri menjaga rasa aman masyarakat.  Perampokan dengan senjata api kerap meletus di ibu kota negara ini.  Korban berjatuhan, sementara Polri hanya mampu menjelaskan prihal peristiwa yang terjadi, tanpa melakukan upaya pencegahan.

Polri kehilangan otoritas sebagai penanggung jawab keamanan di  negeri ini. Kondisi itulah yang dipahami pihak promotor, hingga akhirnya  membatalkan konser Lady Gaga di Jakarta. Lady Gaga membatalkan konsernya dengan alasan menghormati keadaan di Indonesia serta tidak ingin ada orang cedera hanya karena menonton konsernya.

Sepintas, pembatalan konser Lady Gaga merupakan tindakan untuk  mempermalukan Polri, karena dianggap tidak mampu menjaga  keamanan dan ketertiban. Namun, Lady Gaga benar. Hanya beberapa waktu kemudian, keraguan Lady Gaga terhadap Polri terbukti. Disusul tewasnya tiga orang penonton pertandingan sepak bola antara Persija dengan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Minggu (27/5) lalu.

Pembatalan konser Lady Gaga dan peristiwa bentrok hingga tewasnya tiga orang penonton pertandingan sepak bola di Senayan, sudah pantas dijadikan dasar untuk melontarkan pertanyaan. Apakah Polri masih memiliki otoritas untuk menciptakan dan memelihara serta menjaga keamanan dan ketertiban maupun sebagai aparat penegak hukum ? 0 edison siahaan


 
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Selasa, 23 Juni 2020
Senin, 15 Juni 2020
Selasa, 09 Juni 2020
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020