Senin, 15 Juni 2015 14:05:52

Ketika Jalan Raya Berubah Fungsi

Ketika Jalan Raya Berubah Fungsi

Beritabatavia.com - Berita tentang Ketika Jalan Raya Berubah Fungsi

Sejatinya, jalan raya adalah urat nadi kehidupan, cermin budaya bangsa dan potret modernitas. Namun, sekarang kerab menjadi ajang untuk unjuk massa, ...

Ketika Jalan Raya Berubah Fungsi Ist.
Beritabatavia.com - Sejatinya, jalan raya adalah urat nadi kehidupan, cermin budaya bangsa dan potret modernitas. Namun, sekarang kerab menjadi ajang untuk unjuk massa, pamer ketololan, akhirnya berubah jadi pemicu stress akibat kemacetan hingga arena kematian yang sia-sia akibat kecelakaan.

Dengan alasan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum, mereka atau kelompok tertentu seakan bebas melakukan apa saja  di jalan raya, tanpa memperdulikan akibat yang harus ditanggung pihak lain.

Pamer penguasaan massa dengan gaya gerombolan dan gaya-gaya preman jalan dipertontonkan dengan berputar putar membawa bendera, berteriak teriak mirip seperti setan penguasa jalanan.

Siapa saja yang punya massa bisa mengadakan kegiatan dengan momentum yang sengaja dipilih baik itu memperingati hari ulang tahun maupun syukuran. Para pelaku dengan bangga menggiring massanya ke jalan raya. Penuh gaya tapi tidak sadar bahwa orang-orang itu adalah kelompok yang tidak tahu aturan , sehingga menimbulkan kemacetan hingga memicu kedongkolan.

Mau marah, jengkel tapi ya bagaimana, takut massanya marah apalagi kalau sudah dengan simbol-simbol kesucian namun ada unsur "unsur kekerasanya.

Karena sudah seperti kebiasaan, akhirnya masyarakat menjadi apatis, enggan berbicara seakan pasrah dan  berpikir sing waras ngalah. Meskipun sebenarnya masyarakat bukan takut, tapi enggan dan malas konflik apalagi tahu akan menjadi akar masalah yang harus dihadapi.

Saat menggelar aksi, seakan jalanan sudah milik kaum gerombolan tadi. Mereka tidak sadar bahwa tindakan yang bisa mengganggu kelancaran lalu lintas adalah sebagai cermin budaya bangsa.

Anehnya, mereka tetap mempertontonkan perilaku-perilaku gerombolan yang tidak tahu malu dan tidak memiliki harga diri seakan kebenaran telah ditukar dengan ketololan.

Apakah manusia ketika bergerombol menjadi tolol dan tak lagi memiliki kesadaran personal? Apakah kalau bersatu dalam massa lalu boleh semau maunya?

Aneh memang perilaku kolektif masyarakat yang bersatu seakan otaknya dibuang dan diganti dengan pikiran-pikiran menyesatkan serta bangga dengan ketololannya.

Ironisnya, peran pemerintah belum juga tanpak untuk melakukan upaya agar fungsi jalan raya tidak berubah menjadi pemicu stress masyarakat. O Kombes DR CDL/son


Berita Terpopuler
Minggu, 13 September 2020
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020