Sabtu, 23 Januari 2016 17:54:29

Kecelakaan Lalin Lebih Kejam dari Teroris

Kecelakaan Lalin Lebih Kejam dari Teroris

Beritabatavia.com - Berita tentang Kecelakaan Lalin Lebih Kejam dari Teroris

Respon dan reaksi positif masyarakat terhadap para korban aksi teror di jalan Thamrin, Jakarta, yang terjadi pada Kamis 14 Januari 2016 ...

  Kecelakaan Lalin Lebih Kejam dari Teroris Ist.
Beritabatavia.com - Respon dan reaksi positif masyarakat terhadap para korban aksi teror di jalan Thamrin, Jakarta, yang terjadi pada Kamis 14 Januari 2016 lalu,hendaknya menjadi momentum untuk menggelorakan kepedulian terhadap korban kecelakaan lalu lintas. Sebab, hingga kini kepedulian masyarakat terhadap kecelakaan lalu lintas masih sangat kurang. Padahal, kecelakaan lalu lintas menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang juga sangat besar.

Berdasarkan data Korps Lalu Lintas Polri, jumlah korban jiwa pada periode 2011 di seluruh Indonesia  tercatat sebanyak 32.657 jiwa. Sedangkan periode 2012 tercatat menjadi 27.000 orang dan periode 2013 sebanyak 25.157 jiwa. Kemudian pada  periode 2014 sebanyak 28.297 jiwa. Selanjutnya pada  periode Desember 2014 sampai Juni 2015 sudah menelan korban jiwa sebanyak 9.604 orang

Sementara kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas periode tahun 2012 sebesar Rp.298.627.130.430, dan periode 2013 sebesar Rp. 233.842.283.566. Sedangkan periode Januari hingga November 2014, Korlantas Polri mencatat kerugian material akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 224.297.495.685.

Apabila merujuk data tersebut, maka jalan raya di Indonesia jauh lebih kejam dari aksi teroris. Jalan raya di Indonesia sudah menjadi arena pembantaian yang mengerikan. Sebab, setiap harinya mencapai sekitar 120 orang yang meninggal dunia di jalan raya akibat kecelakaan. Kondis jalan raya di Indonesia yang disesaki sekitar 60 juta unit sepeda motor dan kurang lebih sekitar 20 juta unit mobil, semakin runyam, akibat masih sangat rendahnya kesadaran tertib berlalu lintas masyarakat. Ditambah lagi belum maksimalnya penegakan hukum, serta minimnya upaya dan perhatian pemerintah, sehingga membuat kondisi jalan raya sudah sampai pada tingkat kritis.

Maka tidak heran jika Spesialis Transportasi Bank Dunia, Mustapha Benmaamar, menyebut, Indonesia aneh. Dikatakannya, ketika kecelakaan sebuah pesawat terjadi, maka itu menjadi berita besar, tetapi di Indonesia, orang-orang mati di jalan, semua diam. Kecelakaan di Indonesia belum menjadi masalah besar, padahal jumlah korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas di Jakarta setara dengan jumlah korban kecelakaan pesawat terbang apabila terjadi setiap pekannya.

Ironisnya, keselamatan dalam berlalu lintas sering diabaikan dan dianggap sesuatu yang tidak memerlukan pemikiran maupun perhatian khusus dari semua pemangku kepentingan. Aneh sehingga mengherankan jika nyawa dan kesehatan manusia masih dijadikan ajang permainan bahkan jadi ladang untuk mencari keuntungan dengan  cara-cara instan. Masyarakatpun akhirnya dininabobokan dan dicandui dengan cara-cara instan yang sebenarnya akan mematikan dan merusak produktifitas masyarakat sendiri.

Tatkala ada pergeseran pola berfikir, tentu akan menjadikan gerah, marah apalagi bagi yang sedang memiliki kuasa dan punya teman penguasa. Mereka dengan arogansinya mengatakan cara-cara belajar keselamatan adalah cara yang buang-buang energi dan hanya mencari kesempatan dengan mempersulit perolehan Surat Izin Mengemudi (SIM). Bahkan mediapun dengan suka cita mendukungnya melalui penaburan issu seperti  sim mahal. Bagi yang waras akan geleng kepala bisa kompak serempak
mendukung yang koplak. Dan beramai-ramai menyalahkan serta menuding yang akan mewaraskan.

Kegilaan ini bukan sekedar penyakit sesaat, namun sudah akut menahun dan menular,tanpa sadar mati dan cacatnya orang akibat kecelakaan lalu lintas dijadikan pameran dan kebanggaan tanpa rasa sesal serta tanpa pertanggungjawaban secara moral yang bisa ditunjukan. Semua easy going saja, seolah semua takdir dan memang itulah jalan hidupnya. Keselamatan merupakan yang  pertama dan utama untuk diajarkan ditanamkan dan dilaksanakan bila mengakui manusia sebagai aset utama bangsa.O Kombes DR CdL/son

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020