Selasa, 28 Februari 2017 17:49:38

Antasari,Antara Dendam,Rivalitas Politik dan Pers Partisan

Antasari,Antara Dendam,Rivalitas Politik dan Pers Partisan

Beritabatavia.com - Berita tentang Antasari,Antara Dendam,Rivalitas Politik dan Pers Partisan

Antasari Azhar itu simbol bersatunya perasaan dendam, rivalitas politik dan media massa partisan serta massa penggembira yang menyokong ...

Antasari,Antara Dendam,Rivalitas Politik dan Pers Partisan Ist.
Beritabatavia.com - Antasari Azhar itu simbol bersatunya perasaan dendam, rivalitas politik dan media massa partisan serta massa penggembira yang menyokong kekuasaan.Kondisi itulah yang menjelaskan mengapa sosok yang baru muncul dari lembah kegelapan bisa tampil leluasa bak seorang kesatria dengan sebilah pedang yang mengayun liar dan menyasar ke mana-mana.

Tidak terlalu sulit untuk menjelaskan betapa dendamnya Antasari atas kasus yang menimpa dirinya. Seorang Ketua KPK aktif terseret dalam pusaran arus kasus pembunuhan berencana, dengan motif asmara berdarah.
 
Meskipun sebenarnya kurang tepat disebut berlatar belakang asmara, lantaran Rani Banjarani, si perempuan yang ada di tengah pusaran kasus itu, terdengar jual mahal dan menolak ajakan Antasari untuk bersetubuh.

Lebih cocok disebut pembunuhan berencana yang terbukti diotaki oleh Antasari terhadap suami Rani. Tak perlu juga menceritakan ulang semua peristiwa itu karena sudah menjadi fakta publik.

Sejak insiden pelecehan seks Antasari kepada Rani, relasi antara Nazrudin Zulkarnen sebagai suami sah Rani dan Antasari Azhar selaku Ketua KPK yang gemar main golf dengan ditemani Rani sebagai caddy— menjadi memanas, overheated.

Nazarudin Zulkarnaen pun memulai aksi teror dengan serangkaian telepon. Menebar ancaman hendak menjatuhkan Antasari Azhar dari kursi empuk di KPK dengan bekal fakta perundungan seks yang seluruhnya terekam dalam ponsel Rani.

Apa yang akan manusia lakukan jika berada dalam posisi Antasari Azhar? Memang sangat rumit. Tergantung pada apa akses, sumber daya, dan kekuasaan yang dimiliki. Itu adalah situasi survival yang sangat primitif : to kill or to be killed. Kalau anda tidak membunuh maka anda sendiri yang akan terbunuh.

Juga tergantung sepenuhnya pada apa sesungguhnya keinginan si peneror.Apakah uang atau jabatan atau keduanya, atau bukan apa-apa selain hancurnya reputasi seseorang. Jika hanya persoalan uang, sepertinya bukan persoalan besar bagi Antasari Azhar.
 
Sebagai Ketua KPK yang tengah tersudut posisinya, apalagi dia adalah seorang mantan jaksa yang hidup dalam kultur lama, boleh dibilang Antasari akan dengan mudah mendapatkan uang tebusan dengan berbagai cara.Tapi sepertinya bukan uang yang diincar Nazarudin Zulkarnaen. Apapun itu, hanya Nazarudin dan Antasari Azhar yang tahu persis. Nazarudin sepertinya mengincar sesuatu yang lebih besar. Sedangkan Antasari memberikan jawaban yang maksimal pula yaitu merancang pembunuhan atas diri Nasarudin Zulkaranen.
 
Tak perlu kita ulang di sini tentang fakta perencanaan pembunuhan yang melibatkan sejumlah orang terpandang, perekrutan kelompok eksekutor, hingga peristiwa penembakan yang menewaskan Nazarudin Zulkarnaen. Mengapa? Ya karena rangkaian fakta itu sudah sangat jelas dan sudah dibuktikan secara sahih di pengadilan yang bertingkat-tingkat.Sejak pengadilan negeri, pengadilan tinggi, hingga kasasi dan proses peninjauan kembali atau PK di Mahkamah Agung. Dari seluruh proses itu, tak ada satupun yang berhasil dimenangkan oleh pihak Antasari Azhar.

Lantas bagaimana mungkin sosok Antasari Azhar yang sudah menjadi pesakitan, dijebloskan sebagai napi kini bisa menjadi bintang panggung politik di tanah air ? Faktanya, itu semua terjadi pasca mendapat Grasi (pengampunan) dari Presiden Jokowi.
 
Setelah mengantongi Grasi disusul pertemuan dengan Presiden Jokowi, kini Antasari Azhar berusaha membalikkan skenario pembunuhan yang sudah sahih diputus oleh pengadilan, menjadi peristiwa pembunuhan bernuansa politik.Namun keterlebitannya dirinya bukan sebagai pelaku, melainkan sebagai korban konspirasi. Apakah mungkin? Persoalan dendam sudah terjawab.

Dendam itu mendapatkan kursi empuk karena kekuasaan yang hadir saat ini sedang tidak stabil dan terus bergoyang. Goyang oleh persoalan di lingkaran dalam. Juga bergoyang oleh faktor-faktor di luar lingkar kekuasaan, termasuk oleh kelompok politik yang mencoba bangkit untuk kembali berkuasa.
 
Sesuatu fenomena yang sesungguhnya lumrah, alamiah, dan berlaku sejak manusia mengenal politik dan demokrasi, sampai hari ini, dan akan terus berlaku selama manusia eksis di muka bumi.
 
Di antara mereka yang mencoba bangkit, yang paling menonjol adalah keluarga SBY dengan menghadirkan debutan baru Agus Harimurti sebagai kandidat Gubernur DKI.

Tapi spirit politik yang sedang disemai saat ini bukanlah politik yang demokratis dan sehat, malah cenderung barbaric, liar, tanpa etika, dan tak segan menghabisi siapa saja yang dicurigai akan menjadi ganjalan.Apapun yang menjadi penghalang harus ditebang. Tak peduli dia itu perorangan , parpol,pejabat, dan lain-lain. Motonya adalah tebang mereka sebelum tumbuh besar, kuat dan menyulitkan kelompok yang ingin terus berkuasa: Killed them before they grows.

Tidak sulit untuk menarik kesimpulan jika Antasari Azhar adalah rudal yang dilepaskan oleh kekuasaan, untuk menghancurkan seteru politik yang dirasa sebagai ancaman sangat krusial. Diberi grasi, diterima dengan sambutan hangat di Istana Kepresidenan, lantas melesat dengan kecepatan anak panah menyasar ke Cikeas.

Semangat berpolitik dengan nuansa angkara murka ini menjadi semakin mendapatkan lahan sangat subur oleh iklim pers yang cenderung partisan. Pers yang tanpa malu malu menyatakan sokongan bagi kelompok yang sedang berkuasa dan dengan senang hati menjadikan setiap pernyataan Antasari Azhar sebagai fakta yang layak dan pantas untuk dijadikan berita. Tanpa filter, tanpa reserve, tanpa pertanyaan kritis, tanpa gugatan.
 
Pers dengan senang hati memperlakukan Antasari sebagai narasumber dengan standar sangat minimal.Cukup ada narasumber, ada pernyataan,maka langsung untuk dibuatkan suatu berita headline.Sebenarnya bukan soal standar minimal itu yang mengusik. Berita yang dilaunch oleh Antasari memang memenuhi kriteria untuk menjadi berita utama.Tapi semangat, karena cukup banyak media massa yang turut serta menjadikan peluru Antasari Azhar sebagai amunisi dan dengan garang ikut serta sebagai anjing pemburu CIKEAS itulah yang terasa memilukan.
 
Semangat partisan serupa ini membuat pers menjauh dari semangat mencari kebenaran.Padahal yang dibutuhkan hanyalah pertanyaan-pertanyaan sederhana. Pertanyaan paling mendasarnya adalah, apakah secara hukum masih ada ruang dan tempat untuk melakukan koreksi terhadap putusan yang sudah memiliki kekuatan tetap dalam kasus yang melibatkan Antasari ? Sebab semua hak untuk melakukan koreksi terhadap proses hingga peradilan yang diatur dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sudah dilaksanakan.
 
Kemudian adakah Antasari Azhar memiliki bukti perihal kedatangan Hary Tanoesoedibyo ke rumahnya? Apakah mungkin rumah seorang Ketua KPK tidak dilengkapi dengan kamera CCTV? Dan pertanyaan yang lebih serius lagi rasanya layak untuk disampaikan kepada Antasari Azhar, mengapa kedatangan Hary Tanoesudibyo ke rumah Antasari tidak pernah menjadi fakta hukum selama perkara pembunuhan itu bergulir di pengadilan? Mengapa pula Antasari tidak menjadikan fakta itu sebagai NOVUM saat ia mengajukan PK?

Pertanyaan pertanyaan itulah yang akan menguak tabir, apakah Antasari Azhar layak disebut sebagai pahlawan, atau hanya seorang pecundang yang kini sedang berusaha memainkan peran sebagai Anjing Pemburu bagi Keluarga Cikeas. Jika fakta yang diungkap Antasari lolos ujian, biarlah peluru yang dia lepas merobek sasarannya. Sebaliknya, jika tak lolos uji kesahihan, atau jika tidak berani diuji dengan pertanyaan pertanyaan, semakin tegaslah posisi dirinya sebagai Anjing Pemburu yang dilepas untuk menuntaskan dendam lama dan sekaligus mengamputasi musuh politik. Biarlah dan cukup Antasari saja yang merasa punya nilai berperan sebagai Anjing Pemburu. O Sumargani/Edison


Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020