Minggu, 21 Mei 2017 09:13:30

Belajar Dengan Kucing & Tikus

Belajar Dengan Kucing & Tikus

Beritabatavia.com - Berita tentang Belajar Dengan Kucing & Tikus

Perubahan selalu diawali dengan proses belajar baik lewat pendidikan formal maupun lingkungan kehidupan yang disebut sebagai “universitas ...

Belajar Dengan Kucing & Tikus Ist.
Beritabatavia.com - Perubahan selalu diawali dengan proses belajar baik lewat pendidikan formal maupun lingkungan kehidupan yang disebut sebagai universitas kehidupan. Bahkan nenek moyang kita banyak belajar dari lingkungan sekitarnya hingga binatang yang kita kenal dengan ungkapan-ungkapan yang disampaikan untuk menggambarkan sesuatu.

Seperti kucing dengan tikus adalah sebuah ucapkan lawas yang dahulu sering dilontarkan orang tua untuk menjelaskan perilaku dua orang yang selalu bertengkar atau gaduh saat bertemu.

Memang, dahulu jika kedua binatang itu bertemu, maka  tikus akan menjadi korban dimangsa oleh kucing. Tetapi pada era kemajuan jaman seperti saat ini, kebuasan kucing terhadap tikus sudah tidak lagi segarang dahulu. Khususnya di wilayah Ibukota Jakarta, perilaku kedua binantang itu sudah berubah.  Keduanya sudah berdamai, bahkan dalam beberapa kesempatan kucing dan tikus sering terlihat bercanda dalam waktu dan tempat yang sama.

Kendati kedua binatang itu tidak pernah belajar di bangku sekolah apalagi di universitas, bahkan tidak memiliki kemampuan menawarkan kemajuan teknologi. Kucing dan tikus maupun binatang lainnya ikhlas hanya hidup di alam kemajuan yang dihasilkan oleh manusia. Tetapi, kucing dan tikus mampu membuat kesepakatan untuk memilih perdamaian sebagai solusi efektif demi kelangsungan hidup yang tidak lagi diwarnai saling memusuhi.

Pertanyaannya. Mengapa justru manusia semakin menunjukkan perilaku yang menghindari terwujudnya perdamaian ? Bahkan, kemajuan jaman dan kecanggihan teknologi tidak serta merta memajukan perilaku manusia kearah yang lebih baik. Justru sebaliknya, sebagian manusia menggunakan kemajuan teknologi untuk menciptakan kecemasan dengan menebar kebencian, fitnah serta berbagai isu yang potensi  menjadi ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa.
 
Ironisnya, berbekal pengetahuan yang dimiliki itupula membangun kekuatan untuk saling menyerang dan menjatuhkan dengan kelompok masyarakat yang dinilai tidak sepaham atau seideologi bahkan seiman. Semua perbedaan dalam kebhinekaan dijadikan amunisi untuk menciptakan suasana tidak harmonis.Sehingga menjadi ancaman serius terhadap kebhinekaan yang hidup dalam bingkai Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

Sejatinya, pengetahuan yang kita peroleh lewat proses pendidikan dari mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menjadikan kita lebih piawai untuk mewujudkan perdamaian dalam keragaman masyarakat. Bukan untuk mengemas perbedaan dan kelemahan serta keburukan kemudian digunakan menjadi amunisi untuk menyerang dan menjatuhkan sehingga memicu kagaduhan bahkan perpecahan.

Manusia sebagai mahluk Tuhan paling mulia, dan memiliki pengetahuan yang luas seharusnya tidak lagi berperilaku seperti kucing dan tikus pada era dahulu. Manusia harus mampu mewujudkan kehidupan tanpa ada unsur kebencian dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk mencapai cita-cita yaitu mensejahterakan seluruh bangsa Indonesia.
 
Persatuan dan kesatuan menjadi modal dasar dan prioritas dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Dalam kebhinekaan, perdamaian adalah pintu masuk untuk menjalin tumbuhnya persatuan dan kesatuan. Seyogianya, perdamaian kucing dengan tikus menjadi pelajaran berharga yang mungkin sulit kita dapat dari sesama manusia. O Edison Siahaan


Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Selasa, 23 Juni 2020
Senin, 15 Juni 2020
Selasa, 09 Juni 2020
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020