Kamis, 24 Mei 2018 10:52:15

Korban Teroris & Kecelakaan Lalin

Korban Teroris & Kecelakaan Lalin

Beritabatavia.com - Berita tentang Korban Teroris & Kecelakaan Lalin

Energi terkuras, air mata sebagai ungkapan duka mendalam. Semua fokus memikirkan dan mengulas tentang apa,bagaimana,kenapa  peristiwa aksi teror ...

Korban Teroris & Kecelakaan Lalin Ist.
Beritabatavia.com - Energi terkuras, air mata sebagai ungkapan duka mendalam. Semua fokus memikirkan dan mengulas tentang apa,bagaimana,kenapa  peristiwa aksi teror terjadi. Disusul bergulirnya pernyataan berbagai elemen yang mengutuk perbuatan biadab tersebut. Disertai berbagai aksi masyarakat sebagai isarat penolakan dan cara menyampaikan turut berduka atas kejadian peristiwa tersebut. Layar kaca televisi,media cetak, online begitu juga media sosial berlomba menyampaikan informasi pembahasan dengan beragam sudut pandang.

Ditengah suasana duka, media kembali membombardir berita  tentang kehebatan aparat penegak hukum melakukan penangkapan penggerebakan tempat-tempat  yang dijadikan markas oleh kelompok teroris. Hingga aksi baku tembak antara aparat penegak hukum dengan kelompok teroris. Semuanya seakan menggambarkan hanya aksi teroris yang menimbulkan tragedi kemanusiaan sekaligus menjadi  masalah utama bangsa dan Negara ini.

Tetapi, sikap dan kepedulian serupa kurang tampak dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas. Padahal, kecelakaan lalu lintas juga merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak kalah pedihnya dengan aksi teror bom. Bahkan, jumlah korban kecelakaan lalu lintas jauh lebih besar dan berdampak signifikan terhadap kelangsungan kehidupan keluarga yang ditinggal. Banyak keluarga sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, karena kepala keluarganya menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

Sayangnya duka terhadap korban kecelakaan lalu lintas hanya sesaat dan selintas. Begitu juga pembahasannya hanya sebatas kulit ari, seadanya, tidak konprehensif, bahkan terkesan karena terpaksa. Kemudian, beberapa saat setelah peristiwa, informasi pun meredup dan sirna, hingga kemudian terjadi kecelakaan berikutnya.

Secara kasat mata terlihat perbedaan kebijakan dan upaya pemerintah dalam menyikapi kedua peristiwa tersebut. Polri segera mengerahkan pasukan Densus 88 anti teror yang handal, untuk menangani ancaman teror. Tetapi kita kemungkinan belum pernah berfikir untuk membentuk tim khusus anti kecelakaan lalu lintas. Sehingga tampak hadir di lokasi kejadian saat terjadi kecelakaan.
 
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memerintahkan seluruh jajarannya untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan kepada anggota Polri terbaik yang gugur dalam peristiwa kerusuhan di rutan Mako Brimob maupun aksi teror bom di Surabaya. Disusul pernyataan duka mendalam dari berbagai pihak hingga Presiden Jokowi. Namun, belum terdengar perintah serupa terhadap anggota Polri yang gugur akibat kecelakaan lalu lintas saat melaksanakan tugas.

Emosi meluap disertai duka dan air mata, saat kelompok teroris melakukan penyerangan lewat aksi bom bunuh dirinya. Semua pihak berfikir keras, bahkan kementerian terkait meningkatkan intensitas rapat koordinasi membahas peristiwa aksi teror. Semua kekuatan dikerahkan,hingga desakan agar revisi undang-undang pemberatasan terorisme segera dirampungkan.

Tetapi, kita tak menunjukkan respon atau perhatian serupa terhadap peristiwa kecelakaan lalu lintas di Bumiayu yang menelan korban jiwa belasan orang. Begitu juga kecelakaan lalu lintas di Ciloto dan kecelakaan maut tanjakan emen, Subang Jawab Barat. Kita menyimpan rasa dan minim respon terhadap tragedi kecelakaan lalu lintas. Meskipun jumlah korban jiwa jauh lebih banyak dari korban aksi teror di Surabaya.

Padahal, berdasarkan data kepolisian jumlah korban yang meninggal maupun yang luka berat hingga cacat parmanen akibat kecelakaan jauh lebih banyak dari korban aksi teror. Tercatat korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada periode 2015 sebanyak 24.304 orang pada periode 2016 meningkat menjadi 31.268 orang kemudian menurun menjadi 30.055 orang pada periode 2017. Sedangkan korban yang mengalami luka berat hingga cacat parmanen pada periode 2015 sebanyak 22.523 dan periode 2016 sebanyak 20.040 orang sedangkan periode 2017 sebanyak 14.492 orang.

Kita sepakat, sumber daya manusia adalah asset utama bangsa dan Negara. Tetapi, mengapa kita berbeda rasa , sikap dan perhatian terhadap korban akibat ledakan bom teroris dengan korban dentuman kecelakaan lalu lintas. Padahal , kedua peristiwa tersebut telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang  meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat Indonesia.

Mengutip bunyi alinea ke empat pembukaan (preambule) UUD 1945, membentuk pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Esensinya adalah kemanusiaan dan upaya keselamatan jiwa segenap anak bangsa Indonesia, tidak boleh ada perbedaan sikap dan perbuatan. Setiap tragedi kemanusiaan harus mendapat respon dan gerak perbuatan serupa. Ekpresi yang timbul saat berada pada kondisi dan situasi tertentu, merupakan potret nyata untuk menunjukkan, apakah peradaban masih bernyawa atau sedang bertandang ke alam lain. 

Perbedaan yang tampak secara kasat mata itu menuai pertanyaan.  Apakah karena aksi teror diwarnai dengan latar belakang ideologi atau politik yang potensi mengancam kekuasaan ?

Sementara kecelakaan lalu lintas hanya karena kelalaian dan korbannya juga masyarakat, sehingga dianggap bukan peristiwa yang mengganggu kekuasaan? Perlu mendapat jawaban yang jujur.  Semoga.   O Ketua Indonesia Traffic Watch (ITW) Edison Siahaan




Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020