Selasa, 26 Maret 2019 11:41:22

Bhineka Tunggal Ika Tumbuh di Kisaran

Bhineka Tunggal Ika Tumbuh di Kisaran

Beritabatavia.com - Berita tentang Bhineka Tunggal Ika Tumbuh di Kisaran

Keluarga Suharto dengan dua anaknya Giman dan Atik. Kemudian Wak Lolla dan  Pak Amat, serta Sapran. Tak lupa juga Bang Nur pemilik warung tempat ...

Bhineka Tunggal Ika Tumbuh di Kisaran Ist.
Beritabatavia.com - Keluarga Suharto dengan dua anaknya Giman dan Atik. Kemudian Wak Lolla dan  Pak Amat, serta Sapran. Tak lupa juga Bang Nur pemilik warung tempat kami berkumpul dan bercerita tentang apa saja. Serta puluhan warga yang tinggal di komplek PJKA disebut Flow. Semuanya adalah tetangga yang hidup rukun dalam keragaman dan perbedaan keyakinan maupun status sosial.

Sedangkan Hasan yang piawai mengolah sikulit bundar kemudian kabarnya menjadi pemain bola profesional, adalah salah satu dari teman masa kecil. Sehari-hari belajar di sekolah yang sama, bermain di halaman yang sama, dan selalu mengucapkan kata kita bukan saya atau kau.

Ketika bulan puasa tak ada yang berbeda, semua berlangsung alami. Malam takbir jelang Hari Raya Idul Fitri, suara gebukan beduk yang saya pukul hingga kini masih terngiang. Begitu juga ketika ada musibah yang menimpa keluarga, Tahlilan sambil menyantap hidangan kue sederhana yang disajikan, serasa baru saja berlangsung. Kedamaian dan kerukunan itu menjadi kenangan indah yang masih tersimpan rapi di hati sanubari.

Tidak pernah membicarakan tentang perbedaan keyakinan kemudian berujung pada perselisihan apalagi kebencian. Tak juga terdengar atau kesan,  apakah masuk surga bila bertetangga dan hidup damai serta rukun  dengan yang berbeda keyakinan. Hidup dan kehidupan warga berlangsung tradisional atau apa adanya yang saling memahami dan mengerti dengan penuh toleransi.  Tak berlebihan, bila damai dan rukun dalam perbedaan dan keragaman itu, adalah potret bangsa Indonesia yang memahami makna Bhineka Tunggal Ika.

Damai dalam perbedaan itu adalah fakta kehidupan yang menjadi kenangan indah saat masa kanak-kanak hingga jelang dewasa di sudut Kota Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada 56 tahun silam.

Seiring dengan perjalanan waktu disusul perkembangan teknologi dan kemajuan jaman. Secara perlahan mempengaruhi perilaku menjadi lebih mementingkan pribadi, kelompok atau golongan. Bahkan perubahan sikap dan perilaku mulai menggunakan keragaman dan perbedaan keyakinan menjadi amunisi untuk memicu kebencian dan perselisihan. Meski sulit dibuktikan, tetapi kondisi kehidupan sosial yang semakin meruncing dapat dirasakan. Kekhawatiran, kecemasan terhadap indikasi perpecahan, menjadi rasa yang sama bagi sebagian warga saat ini.

Kendati sebagian besar rakyat Indonesia berharap  tidak ada yang berfikir apalagi berniat untuk memecah belah atau merobek Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan dengan tujuan yang sama adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang telah diikrarkan lewat sumpah pemuda sebelum Indonesia merdeka.Bhineka Tunggal Ika membuat Bangsa Indonesia unggul dengan bangsa lain.

Mencintai Indonesia harus terus dipelihara dan dirawat agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Tentu, dibutuhkan tokoh formal maupun non formal sebagai panutan untuk memberikan contoh. Sosok pemimpin yang memiliki integritas, kuat dan berwibawa serta berwawasan luas. Pemimpin yang bukan hanya dipercaya oleh kelompok tertentu saja. Tetapi sosok pemimpin seluruh rakyat Indonesia. Sehingga dipercaya dapat memberikan pengaruh seluruh rakyat untuk tetap merawat Bhineka Tunggal Ika. 

Kehadiran pemimpin yang bersahaja, akan menjadi  obat penawar rasa rindu pada kehidupan yang penuh damai dan rukun seperti di sudut kota Kisaran, Sumatera Utara dahulu. O Edison Siahaan



Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020