Senin, 06 April 2020 15:09:39

Marmouset

Marmouset

Beritabatavia.com - Berita tentang Marmouset

Charles VI raja Prancis menerima waris kekuasaan saat berusia 11 tahun. Pemerintahan dijalankan empat pamannya, kondisi negara kacau balau, ...

Marmouset Ist.
Beritabatavia.com -

Charles VI raja Prancis menerima waris kekuasaan saat berusia 11 tahun. Pemerintahan dijalankan empat pamannya, kondisi negara kacau balau, pemberontakan rakyat terjadi diberbagai tempat. Akhir 1388 Charles  langsung mengambil alih kekuasaan pemerintahan dan memecat keempat pamannya. Kemudian memanggil penasihat Charles V yang sangat kompenten dikenal dengan Marmouset. Prancis memasuki era baru, rakyat menyebut Charles sebagai Yang Terkasih (leBien-Aime).

Hendaknya ada sosok le bien Aime dan orang-orang Marmouset untuk menghadapi teror wabah virus corona atau covid-19. Disaat genting, wajib melangkah cepat disertai tindakan tegas lalu disusul dengan kebijakan yang konfrehensif untuk menggerakkan seluruh elemen menjadi derap langkah yang sama melawan virus corona.Bukan seperti saat ini, ada energy tanpa semangat atau sebaliknya. Punya anak panah, hilang busurnya tak jelas caranya. Tidak melintas pada putaran dan halte yang sama. Masing-masing berjalan dengan derap yang bising dan tak bersuara menuju arah yang belum tentu serupa. Bahkan ada yang terlihat bingung sambil menggerutu dengan langkah tetap ditempat. Berteriak dengan suara keras meskipun iramanya berbeda yang penting terdengar entah oleh siapa.  Seperti potret sebuah organisasi tanpa  AD dan ART bahkan pemimpin. Semua dapat melakukan apapun asal alasannya untuk kepentingan anggota. Lalu bersama mengatur skor kesalahan dan mengumbar rasa kebenarannya.

Padahal ada kaca spion untuk melihat apa yang terjadi dibelakang, lalu menentukan sikap terhadap peristiwa yang sudah terjadi di negara tirai bambu. Tapi tak mau bercermin atau bertanya maupun berdiskusi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.

Akhirnya keteteran disusul rasa ketakutan kemudian panik yang potensi meraih pasrah. Jauh sebelum dicatat ada yang terkapar, selalu memasang wajah ceria dengan obrolan bernuansa kebanggaan akan tujuan di seberang pulau. Pasca dua warga dijerat corona,tetap juga terlihat seperti kata anak milenial, slow. Belum ada yang perlu diceritakan, siang dan malam berganti seperti biasa. Hanya sesekali melontarkan jeb-jeb ringan berupa imbauan agar waspada sebelum roboh dihajar uppercut.

Empat ahad kemudian berbagai tempat mulai full house akibat sengatan virus corona. Beberapa orang berdatangan ke kawasan Harmoni yang ada di dekat Monas. Entah apa yang dibicarakan belum disampaikan ke telinga orang lain. Reaksinya mulai memuncak setelah satu dari anggota yang berkumpul digedung bersejarah itu juga disengat virus corona.

Situasi dan kondisi mulai terlihat dan terasa agak sesak, mulai banyak yang batuk ringan hingga berat. Pengukuran suhu lewat kening jadi aktivitas baru, menutup mulut dan hidung pun jadi wajib. Kini, jumlah yang tesetrum virus corona, atau meninggal dan sedang dirawat terus bertambah dan setiap hari diumumkan. Seperti isyarat penyesalan karena keterlambatan, sehingga menimbulkan kerugian besar yang belum pasti kapan akan berakhir.

Empat pekan lalu dengan saat ini masih bagian dari hitungan hari dan bulan, tetapi situasi dan resikonya jauh berbeda. Apalagi besok, lusa semoga lebih baik. Tapi sejak sebulan lalu tak ada langkah maju apalagi dampak yang signifikan untuk mencegah kehebatan virus corona.
Seruan dan imbauan agar stay at home dan sosial distancing hingga psyical distancing, cuci tangan, wajib masker, tak mampu menahan laju penyebaran virus corona maupun jumlah korban jiwa. Apalagi, obat yang tertulis di kertas resep tak ada di apotek, begitu juga masker dan alat pelindung diri (APD) sulit ditemukaan mungkin belum musim panen.
Sebulan sudah sebagian warga menahan rindu untuk pergi ke tempat ibadah. Rindu untuk  berjabat tangan dan berpelukan juga masih tersimpan rapi didada.
Kenapa semua ini terjadi ? Mungkin karena terlalu banyak suara tetapi sedikit yang mendengar. Lagi, mungkin berbeda kalau suara itu disampaikan oleh Marmuoset sehingga kita sambut dengan LeBien-Aime.
Kini saatnya Marmouset memimpin perang melawan virus corona atau covid-19, agar tak lagi ada tangis karena diganti dengan ucapan Lebien-Aime. O Edison Siahaan

 

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020