Jumat, 10 April 2020 17:08:09

Kita Lalai Mencegah Corona Bertemu Ramadhan

Kita Lalai Mencegah Corona Bertemu Ramadhan

Beritabatavia.com - Berita tentang Kita Lalai Mencegah Corona Bertemu Ramadhan

Sebenarnya sudah ada UU nomor 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan. Artinya, pemerintah dapat melakukan karantina untuk   ...

Kita Lalai Mencegah Corona Bertemu Ramadhan Ist.
Beritabatavia.com -

Sebenarnya sudah ada UU nomor 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan. Artinya, pemerintah dapat melakukan karantina untuk   mencegah penyebaran dan penularan wabah virus. Sayangnya, aturan pelaksanaannya atau Peraturan Pemerintah no 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) baru ditanda tangani tanggal 31 Maret 2020. Kemudian Pemprov DKI mendapat izin dari Menteri Kesehatan pada 7 April dan PSBB diterapkan di wiyaha DKI Jumat 10 April 2020. Sementara pada 10 April, jumlah pasien yang positif virus covid-19 sudah mencapai 3.512 orang dan meninggal dunia sebanyak 306 orang.

Kini, wabah virus corona atau covid-19 sudah berubah menjadi teror menakutkan tanpa kepastian kapan akan berakhir. Keresahan menjadi potret nyata yang ditunjukkan warga dalam perbincangan maupun lewat media sosial.

“ Sudah satu bulan di rumah, mau gila nich, gimana disitu,” pesan dalam percakapan warga lewat  WhatsAPP. Apakah wabah virus corona atau covid-19 menimbulkan stress yang dapat membuat gila ? Biarlah ahli yang menjelaskan.

Memang, kekesalan dan penyesalan tidak lagi dapat merubah situasi dan kondisi saat ini. Kecuali hanya menjadi topik pembahasan dalam setiap pembicaraan warga maupun  di media sosial (medsos). Seseorang mengatakan kesal, jumlah yang tertular terus bertambah, keadaan diluar makin seram. Dia menyesalkan, kenapa tidak sejak awal dibuat aturan yang mengikat untuk membatasi aktifitas atau sosial distancing. Sehingga tidak seperti sekarang, masih  banyak warga yang terus beraktivitas yang potensi menularkan  atau tertular.
Ada benarnya, sebab sejak awal ditemukannya dua warga positif virus corona awal Maret 2020 lalu. Nyaris ruang publik hanya disesaki imbauan dan ajakan serta permintaan tetapi minim tindakan.

Bahkan sebelumnya, ada sosok dengan wajah sumringah tampil dengan suara lantang mengatakan, Indonesia bebas dari virus Corona. Dikatakan virus corona tidak akan mampu menembus imunitas warga Indonesia. Kemudian  membahas rancangan untuk mendapat keuntungan dari tragedy virus corona. Caranya membuka pintu selebar-lebarnya ditambah bonus diskon bagi  wisatawan asing dan investasi yang akan datang ke Indonesia. Hingga virus corona mewabah ke sejumlah negara, nyaris tidak terdengar rasa khawatir sehingga merancang upaya antisipasi terhadap virus. Justru, saat virus merebak, ada kegaduhan, setelah warga mengungkapkan kedatangan puluhan tenaga kerja asing ke Kendari, Sulawesi.

Ada juga mengaku sangat menyesal dan takut akan menjadi penyesalan tak berkesudahan bila terus  menyimpan dalam hati dan benaknya. Katanya, sebagai negara yang warganya beragama Islam terbesar di dunia, apakah tidak mengetahui pada akhir April dan Mei 2020 akan memasuki bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri ? Kenapa tidak terdengar ada rasa khawatir wabah virus corona akan mengganggu ibadah puasa maupun perayaan Idul Fitri ? Seharusnya ada kekhawatiran sehingga segera menyiapkan  upaya antisipasi sejak virus corona pertama kali mencuat di Wuhan, China pada awal Januari 2020 lalu.Sehingga tidak menjadi teror menakutkan dan menyeramkan saat umat Islam menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri. Apalagi, setiap ibadah puasa hingga jelang hari Raya Idul Fitri, akan disertai dengan peningkatan mobilitas seperti tradisi mudik lebaran.

Kini, nasi sudah menjadi bubur, penyesalaan mengapa tak cepat melakukan upaya antisipasi, tak lagi dapat merubah kondisi saat ini. Tak juga penting lagi memikirkan kecemasan dan ketakutan yang melanda masyarakat. Biarlah semua itu disampaikan dalam doa dan harapan agar bisa sedikit lebih tenang dan sehat saat melaksanakan ibadah puasa maupun merayakan Idul Fitri nanti. Kini masyarakat hanya mampu pasrah dan pasrah sekali lagi pasrah.

Ditengah kondisi seperti saat ini, tidak lagi perlu bertanya, apa yang terjadi kalau pemerintah cepat menerapkan PSBB. Kecuali mencatat agar masyarakat selalu ingat, pentingnya pemimpin di setiap tingkatan memahami secara luas  kebutuhan rakyatnya, bukan keinginan yang dipimpinnya. Pemimpin yang memiliki kemampuan dan keberanian  menentukan skala perioritas sesuai dengan kondisi riel. Pemimpin tegas memastikan semua bergerak dengan derap langkah yang sama. Pemimpin yang memberikan kepastian bahwa segala proses dan kebijakan dilaksanakan berdasarkan aturan dan ketentuan.  Serta pemimpin yang berdiri didepan untuk menyelematkan dan melindungi rakyatnya. O Edison Siahaan

 

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020