Kamis, 28 Mei 2020 15:12:20

Menghalau Bukan Mengejar

Menghalau Bukan Mengejar

Beritabatavia.com - Berita tentang Menghalau Bukan Mengejar

Virus corona atau covid-19 dapat berpindah melalui percikan batuk dan napas. Penularan juga dapat melalui sentuhan atau kontak phisik  antar ...

Menghalau Bukan Mengejar Ist.
Beritabatavia.com -

Virus corona atau covid-19 dapat berpindah melalui percikan batuk dan napas. Penularan juga dapat melalui sentuhan atau kontak phisik  antar orang setelah bersalaman atau cipika cipiki.  Virus bisa bertahan hingga beberapa hari pada benda yang tercemar setelah disentuh oleh orang yang tertular.

Wabah virus covid-19 melanda 217 negara,  jumlah yang terkonfirmasi positif mencapai 5,5 juta orang sedangkan meninggal mencapai 350 ribu orang. Belum ada kepastian kapan penyebaran dan penularan akan berhenti. Justru cenderung akan terjadi peningkatan.  Wabah covid-19 juga melumpuhkan aktifitas memicu krisis ekonomi beberapa negara. Wabah virus juga drastis merubah  perilaku dan gaya hidup, menghentikan aktivitas sosial hingga  tata cara peribadatan dan perilaku masyarakat dunia.

Masyarakat dunia berduka akibat pandemi covid-19. Berbagai upaya dilakukan secara serius dan fokus untuk mencegah penyebaran dan penularan, agar korban jiwa tidak terus bertambah.

Tidak terkecuali Indonesia. Sayangnya, diawal wabah sedikit lalai, membuat virus leluasa bergerak lebih cepat dan massif.  Kegesitan virus menyentak dan membuat kita gugup dan gagap. Tak ada kata terlambat, begitulah kira-kira, disusul  gerakan cepat lewat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik. Serta segudang imbauan dan anjuran seperti tetap dirumah, kerja dari rumah, memakai masker, cuci tangan pakai sabun.

Kebijakan dan sikap kita menjadi potret nyata yang menunjukkan bahwa kita harus banyak belajar tentang managemen  penanganan wabah seperti covid-19. Kita berlari tanpa arah yang jelas, hanya dengan modal tiba masa tiba akal. Bila memiliki kemampuan yang memadai, seharusnya kita berada pada posisi  menghalau, bukan berlari mengejar virus seperti saat ini.

Tetapi wabah virus corona membuka banyak hal yang belum terungkap secara transparan.  Wabah virus corona mengingatkan sosok pemimpin yang bukan hanya memiliki integritas dan kompetensi. Tetapi naluri yang tajam dan benar -benar mengenal karakter bangsa yang dipimpin. Sehingga kebijakan dan langkah sesuai dengan kebutuhan rakyatnya.  

Semua elemen masyarakat dan pemerintah membangun sinergi melawan lajunya virus corona. Hingga memasuki bulan ketiga, jalan raya lengang, pusat perbelanjaan close. Sekolah diliburkan, tempat ibadah dikosongkan, seluruh kegiatan sosial tak lagi terlihat. Ibadah puasa hingga perayaan hari raya Idul Fitri berlangsung dengan protokol kesehatan. Hebatnya, tidak membuat masyarakat kecewa, semua ikhlas demi keselamatan jiwa seluruh warga Indonesia.

Ternyata tidak cukup, karena wabah terus menggeliat menambah kecemasan dan kekhawatiran. Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, hingga Rabu 27 Mei 2020 sebanyak 1.473 warga telah meninggal dunia dan 23.851 orang positif tertular virus covid-19. Masyarakat tak punya pilihan, kecuali rela dan bertahan serta terus berharap tidak lagi ada jiwa yang  melayang karena virus covid-19.

Ironisnya, di tengah sinergi yang terbangun dan kerja keras serta pengorbanan maupun  perjuangan untuk memutus rantai penyebaran dan penularan covid-19  sejak tiga bulan lalu, menjadi sia-sia. Dipicu keputusan Menkes HK.01.07/Menkes/328/2020 tentang panduan pencegahan dan pengendalian virus covid-19 di tempat kerja dan perkantoran dalam mendukung kelangsungan usaha dalam situasi pandemi. Artinya, pemerintah akan melakukan relaksasi atau pelonggaran PSBB dengan membuka aktivitas perkantoran dan usaha. Bahkan Presiden Joko Widodo memastikan, implementasi keputusan menuju new normal itu dilakukan di 4 provinsi dan 25 kabupaten/ Kota dengan melibatkanTNI-Polri.

Padahal, ditengah sosialisasi kebijakan yang tertuang dalam keputusan Menkes keputusan Menkes HK.01.07/Menkes/328/2020. Pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan persiapan untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan pasien positif virus covid-19. Dengan penambahan tempat karantina di menara 8 dan 9 wisma karantina yang berada di Blok C2, Jln Benyamin Sueb, Pademangan,Jakarta Utara.  

Apalagi, pengetatan PSBB dan larangan mudik serta protokol kesehatan pun tak membuat virus corona atau covid-19 mereda. Justru wilayah penyebaran dan jumlah yang tertular terus bertambah dari hari ke hari. Bahkan belum ada titik terang yang menjadi dasar akan terjadi penurunan kurva covid-19.
Atau mungkin dalam kondisi wabah virus mematikan seperti saat ini, ada tekanan yang lebih dahsyat , sehingga  sulit menentukan sikap dan pilihan. Atau jangan-jangan upaya pemerintah untuk menghindar dari kewajiban apabila tetap meneruskan PSBB. Tentu akal sehat akan memilih keselamatan jiwa menjadi prioritas. Sebab belum ada ahli yang dapat melakukan recovery kematian, sedangkan ekonomi dapat berjalan dan bertumbuh hanya lewat aktivitas emak-emak.

Sayangnya, suara penolakan seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Ditengah kecemasan dan kekhawatiran masyarakat, pemerintah tetap akan melakukan relaksasi PSBB. Dengan kebijakan pemerintah yang baru, upaya menyelamatkan jiwa dari keganasan virus covid-19, bakal menjadi tanggungjawab masing-masing. Sebagian besar masyarakat kecewa, karena dibiarkan berjuang sendiri ditengah gelombang wabah virus covid-19 yang tidak pasti kapan berakhir. O Edison Siahaan

 

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020
Senin, 06 April 2020
Sabtu, 04 April 2020
Kamis, 02 April 2020
Minggu, 22 Maret 2020
Minggu, 08 Maret 2020
Senin, 02 Maret 2020