Senin, 09 Mei 2011 16:33:01

Habis Arang Besi Binasa

Habis Arang Besi Binasa

Beritabatavia.com - Berita tentang Habis Arang Besi Binasa

Jalan berliku, proses berbelit, membutuhkan energi ekstra menjadi penyebab para pencari keadilan di negeri ini putus asa dan pasrah. Sehingga pepatah ...

Habis Arang Besi Binasa  Ist.
Beritabatavia.com - Jalan berliku, proses berbelit, membutuhkan energi ekstra menjadi penyebab para pencari keadilan di negeri ini putus asa dan pasrah. Sehingga pepatah habis arang besi binasa sangat tepat bagi pencari keadilan di negeri ini. Tak dapat dipungkiri, sebagian besar masyarakat Indonesia harus tertatih-tatih hanya untuk mendapatkan sedikit keadilan dari negeri yang berlandaskan hukum ini.
Sebut saja Sengkon dan Karta yang harus menderita di balik jeruji besi atas tuduhan melakukan pembunuhan. Meskipun belakangan terungkap, bahwa pelakunya bukan Sengkon dan Karta, mereka tak juga mendapatkan hak-haknya sebagai korban keganasan penegakan hukum yang ‘keseleo’ di negeri ini. Lalu, Suciwati istri almarhum Munir yang tewas dibunuh dalam pesawat terbang saat akan menuju negeri Belanda. Suci tak puas, karena pelaku utamanya bukanlah Pollycarpus yang sudah dijebloskan ke lembaga permasyarakatan. Namun, Suci harus jatuh bangun untuk mencari keadilan, yang dirasakan seperti sudah terbang jauh dari bumi Indonesia.
Keadilan kian jauh, dan sulit digapai juga dirasakan Esi Ronaldi janda almarhum Irzen Octa (52) yang juga sekretaris jenderal (Sekjen) Partai Pemersatu Bangsa (PPB).Suami Esi tewas ditangan debt collektor Citibank pada 29 Maret 2011, lalu. Sebelum maut menjemput, Irzen datang ke kantor Citibank di gedung menara Jamsostek  Jl Gatotsubroto. Ia ingin mendapat penjelasan prihal membengkaknya jumlah hutangnya dari Rp 48 juta menjadi Rp100 juta.
Saat itulah Irzen digiring ke salah satu ruangan bernama ruang Cleo dan diinterogasi para debt collektor. Tak disangka, niat baik Irzen pengusaha Cargo itu datang untuk menyelesaikan hutang, harus ditebus dengan nyawa.
Tidak hanya keluarga korban yang kecewa, masyarakat luas juga ikut menyesalkan tindakan para debt collektor dan manajemen Citibank. Peristiwa yang sempat menjadi berita utama di hampir seluruh media nasional maupun lokal, tak juga memuluskan upaya keluarga korban mendapatkan keadilan.  
Jeritan Ny Esi Ronaldi hanya bergema tanpa jawab pasti atas pertanyaannya ihwal  kebijakan perbankan yang menagih hutang melalui tangan debt collector. Langkahnya pun kian gontai saat menyusuri liku-liku jalan mencari keadilan.  Upaya keluarga korban untuk mencari keadilan tidak hanya di kantor polisi, tapi juga ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ke istana negara, hanya untuk sepenggal rasa adil.

Pilu  Ny Esi Ronaldi dibalutnya bersama putrinya Citra Octa saat mendatangi gedung DPR, hingga ke istana Negara. Mereka bukan mengemis, hanya untuk keadilan yang menjadi haknya, atas meninggalnya suaminya Irzen Octa. Supaya semua pihak yang terlibat dihukum sesuai dengan tindakannya. Nya Esi  Ronaldi hanya meminta keadilan hidup bersama kepedihan hati mereka. Meminta agar jangan ada pembelokan tuntutan, meskipun berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuatan seperti Citibank.

Sehingga, penyidikan tidak sesuai dengan fakta peristiwa. Bahkan, ada upaya mengebiri keadilan dengan cara yang tidak berdasar. Seperti mengatakan korban memiliki riwayat sakit stroke, jantung atau darah tinggi, yang menyebabkan kematiannya. Kemudian, upaya untuk tidak menggunakan hasil visum yang dilakukan ahli Forensik RSCM dr Mun'im Idris, setelah makam korban di TPU Srengsengsawah, Jakarta Selatan dibongkar kembali pada Rabu (20/4).

Harapan Ny Esi Ronaldi untuk mendapatkan sepenggal keadilan dari lingkungan Istana, pun kian pupus. Langkahnya terhenti, setelah diblokade anggota Paspampres dan pernyataan jubir Presiden bahwa Presiden SBY tidak akan menerimanya. Ny Esi Ronaldi hanya mendapat janji bahwa suratnya aka disampaikan kepada Presiden SBY. Sejenak dan mungkin seterusnya Ny Esi Ronaldi hanya bisa menunggu, berharap, tanpa ada kepastian, apakah keadilan akan datang.Pengorbanan diwarnai keraguan dan ketidak adilan masih terus mengalir dan  selalu dirasakan sebagian besar masyarakat yang mencari keadilan di negeri ini.  Kita hanya bisa ber Doa. 0 edison siahaan  

Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020