Senin, 04 Juli 2011 15:54:53

Babu, Pengusaha & Penguasa

Babu, Pengusaha & Penguasa

Beritabatavia.com - Berita tentang Babu, Pengusaha & Penguasa

KISAH Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sungguh memprihatinkan. Mereka disebut sebagai pahlawan devisa bagi negara, tetapi nasib dan ...

Babu, Pengusaha & Penguasa Ist.
Beritabatavia.com - KISAH Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sungguh memprihatinkan. Mereka disebut sebagai pahlawan devisa bagi negara, tetapi nasib dan keselamatan mereka seperti tidak ada yang peduli.Banyak TKI yang tersandung persoalan tetapi penyelesaiannya masih belum jelas. Seharusnya, nasib mereka harus lebih baik dari para koruptor yang hidup dengan kemewahan, dan jauh dari tindakan kekerasan.

Nasib memilukan para buruh migran Indonesia sudah berlangsung cukup lama. Sebagian besar mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) atau house keeper yang dikenal dengan sebutan babu. Bahkan data  Bank Indonesia mencatat 30 persen TKI pernah menerima perlakuan buruk saat mencari nafkah di negara lain.
 
Upaya dan kerja keras serta pengorbanan para TKI tak setimpal dengan perlindungan yang mereka dapatkan. Faktanya, mereka kerap menjadi korban penganiyaan saat berada di luar negeri. Bahkan, saat pulang ke Indonesia, para TKI juga menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan, sehingga tak luput dari aksi pemerasan, penipuan dan berbagai bentuk kejahatan lainnya yang siap menerkam mereka.
Padahal, para TKI secara langsung telah mengurangi beban negara. Meskipun hanya berbekal ilmu pengetahuan seadanya, para TKI sudah berbuat untuk negeri ini. Para pahlawan devisa itu tak gentar menghadapi ancaman meskipun nyawa meregang, demi memperjuangkan hidup mereka.

Pengakuan Babu Hongkong

Dikenal dengan nama Fitri mengaku bekerja sebagai babu. Fitri merupakan salah satu dari ratusan ribu pekerja perempuan Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri. Kini, ia tinggal di Hongkong. Lebih dari 100.000 perempuan Indonesia mengais rezeki di negeri bekas jajahan Inggris itu. Sebagian besar mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) atau house keeper yang dikenal dengan sebutan babu.
Seperti TKW lainnya, Fitri hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD/sekolah dasar) di kampungnya, Sarwadadi, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.Jika hanya berbekal ijazah SD, kita tidak punya banyak pilihan. PRT saja cukup bagi saya, ungkap Fitri.
Saat ini, Fitri telah menginjak tahun kedua di Hongkong. Meski hanya berprofesi sebagai babu, Fitri menerima upah sebesar 3.580 dolar Hongkong atau kira-kira Rp 4.269.000 setiap bulan. Ia juga mendapat hak libur setiap hari Minggu.
 
Tentu kondisi itu sangat berbeda saat Fitri menjadi babu di negaranya. Di Jakarta, menjadi PRT digaji menurut kepantasan dan kebaikan majikan. Kisaran gaji PRT hanya Rp 300.000-500.000 per bulan. Di Hongkong, pemberian upah TKW diatur oleh negara dan ditegakkan oleh aparat hukum. Bagi siapa pun orang yang melanggar aturan akan dihukum, baik pekerja ataupun majikan. Di Indonesia, tidak ada undang-undang yang mengatur upah minimal bagi PRT, jelasnya.

Fitri mengaku pasrah jauh dari keluarga, demi untuk mempertahankan hidup. Apalagi, dia menyadari bahwa dirinya tak punya arti di Indonesia. Beragam buku ia beli untuk belajar hingga mengerti tentang komputer. Apalagi di Hongkong akses internet juga tidak terlalu sulit. Di rumah majikannya, Fitri menikmati layanan internet gratisan melalui layanan wi-fi. Melalui internet, Fitri banyak berdiskusi dengan ratusan babu lainnya di berbagai negara. Termasuk mencari dan mendapatkan informasi tentang daerahnya, Cilacap. Dari interaksi di dunia maya, Fitri sadar banyak orang yang merasakan kegelisahan yang sama seperti dirinya.

Khususnya masalah kemiskinan, keterbelakangan, pendidikan yang rendah, biaya kesehatan yang mahal, dan sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak. Singkatnya, kondisi yang ia nikmati hari ini masih sebatas impian bagi orang-orang di negaranya. Akhirnya saya merasa ada yang tidak beres dengan negara saya. Segala bentuk ketidakadilan muncul sebagai buruknya mental pemerintah dan perundang-undangan tidak berpihak pada rakyat, kata Fitri.

Perbedaan Tiga Tokoh

Para babu yang disebut sebagai pahlawan devisa memiliki keterbatasan khususnya ilmu pengetahuan. Namun, mereka adalah sosok pejuang yang gagah berani, serta tulus, meskipun hanya berbekal ilmu pengetahuan seadanya. Mereka bekerja membanting tulang dinegeri orang, lalu mengirimkan hasil jerih payahnya ke kampung halaman. Hingga bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya, sekaligus meningkatkan devisa negara.

Mereka sangat berbeda dengan sosok lainnya seperti pengusaha yang menggasak uang negara dan sumber daya alam (SDA) Indonesia. Namun, mereka kabur ke luar negeri membawa uang hasil jarahan, dan tidak mau bertanggung jawab, saat mengalami permasalahan hukum.
Sama halnya dengan sosok pejabat yang memiliki sederet gelar di depan dan belakang namanya. Sayang, ilmu pengetahuan yang dimilikinya tak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan rakyat banyak. Tetapi, justru kebijakannya kerap  hanya berorientasi pada kepentingan pengusaha dan kelompoknya. Sehingga menimbulkan pertanyaan,  siapa sebenarnya yang lebih memiliki rasa kepedulian terhadap bangsa dan negara ini ? 0 edison siahaan



Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Kamis, 04 Juni 2020
Kamis, 28 Mei 2020
Selasa, 26 Mei 2020
Sabtu, 23 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kamis, 14 Mei 2020
Senin, 04 Mei 2020
Senin, 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
Sabtu, 18 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 10 April 2020